Bah Reggae

Dunia Tanpa Korek Kuping

1991, 17 tahun lalu. Kuping dunia gempar diserang band Amerika. Nirvana, Red Hot Chilli Pepers dan Pearl Jam. Bisa jadi, di tahun itu, dagangan korek kuping tak laku. Pasalnya, kuping langsung bersih dan segar gara-gara album ke-3 band itu yang langsung disepakati banyak orang sebagai masterpiece.

Jreng, jreng dan jreng. Nevermind (Nirvana), Blood Sugar Sex Magik (Red Hot Chili Peppers) dan Ten (Pearl Jam). Nevermind ngepunk, Blood Sugar funky, sementara Ten ngerock. Hanya saja, berbeda dengan Nirvana dan Red Hot, Ten adalah album perdana Pearl Jam. Artinya, begitu keluar langsung meledak.

Munculnya Eddie Vedder bersama Pearl Jam kiranya juga menjadi obat kangen dunia atas suara bariton yang nyaris menghilang sepeninggal Jim Morrison. Lewat Ten rasa kangen Led Zeppelin juga terobati. Simak misalnya Black yang sebagian mengingatkan isian bas John Paul Jones di Ramble On.

Tapi mungkin inilah kejamnya pop. Gempar di satu album tak selalu berarti gempar pula di album setelahnya. Dan Pearl Jam menjawab tuntas hukum besi pop itu. Merosot, mbingungi, mencoba kemungkinan lain dan entah apalagi tampaknya lalu jadi kecaman dan pembelaan album-album Pearl Jam paska Ten.

Adalah Neil Young di Hey Hey My My (Rust Never Sleeps) yang bilang , “….And once you’re gone, you can’t come back/When you’re out of the blue and into the black/The king is gone but he’s not forgotten”. Mungkin itu bukan saja untuk Johnny Rotten, tapi juga berlaku bagi Eddie Vedder dan Pearl Jam.

Bah Reggae

Macan Itu Bernama Paskah

Genderang perang melawan SBY mulai ditabuh. Penabuhnya Paskah Suzetta (Meneg PPN/KaBappenas). Dan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah dirinya masih diberi kesempatan duduk di kabinet SBY. Memang, bukan serangan langsung ke SBY. Tapi hakekatnya sama saja. Pasalnya, Boediono yang diserang.

Boediono, selain Sri Mulyani, adalah orang-orang kepercayaan SBY untuk mengawal ekonomi negeri ini. Keduanya duduk di posisi kunci. Boediono semula Menko Perekonomian. Sri Menkeu-nya. Lalu, ketika Boediono digeser jadi GubBI, Sri Menko Perekonomian sambil tetap sebagai Menkeu.

Jadi fiskal dan moneter ada digenggaman SBY. Di sektor riil juga ada SBY, lewat Mari Pangestu (Mendag) dan Mohamad Lutfi (BKPM). Hanya saja, untuk pos lainnya SBY harus berbagi dengan Golkar dan parpol pendukung lainnya. Misalnya saja, Fahmi Idris (Menperin), Sofyan Djalil (Meneg BUMN) atau Erman Suparman (Menakertrans).

Memang, konon, ada kesepakatan SBY dan Yusuf Kalla dalam berbagi wewenang. SBY politik, sementara Kalla ekonomi. Mungkin kesepakatan ini menjadi soal penting. Tapi yang jelas, urusan keseharian fiskal dan moneter ada di tangan orang SBY. Plus sebagian urusan sektor riil.

****

Selama ini jarang ada kritik terang-terangan ke BI – dan bocor ke pers — yang berasal dari pemerintah. Kalau pun ada, paling cuma dari Kalla. Itu pun lebih karena sifatnya yang ceplas-ceplos selain adanya kewenangan untuk ngurusi ekonomi berdasarkan kesepakatan SBY-Kalla di atas.

Tapi, kini, selain Kalla, Paskah – yang juga berasal dari Golkar — pun mengritik kebijakan BI, hanya beberapa jam setelah ia dapat kepastian tak didepak dari kabinet SBY.

Seperti diketahui, SBY sudah memutuskan, Paskah – juga MS Kaban – akan dinon-aktifkan dari kabinet jika ke-2nya jadi tersangka dalam kasus tadah-menadah dana ”perlawanan” BI. Mereka baru didepak dari kabinet jika pengadilan memutus bersalah. Artinya, paling tidak untuk sementara ini Paskah dan Kaban aman.

Soal kritik Paskah ke BI sebenarnya bukan barang baru. Persis plek dengan apa yang selalu dilontarkan Kalla. Yakni, kecenderungan BI yang bisanya cuma menaikkan bunga bank (lewat BI Rate) untuk meredam inflasi. Tingginya sukubunga inilah yang membuat sektor riil tambah sulit bergerak.

Sekalipun begitu, kiranya penting untuk dicatat, ada perbedaan nuansa antara kritik Paskah dibanding Kalla. (1). Menurut Paskah (Kompas, 8 Agustus 2008, hal 18), kebijakan BI itu kebijakan kuno. Kuno. Istilah yang nampaknya tak pernah dilontarkan oleh Kalla, betapa pun ia sedang kesel banget dengan kebijakan BI itu.

(2). Kritik Kalla ke BI – sampai bisa bocor ke pers – terjadi ketika BI masih di bawah Burhan (Burhanuddin Abdulah). Tapi, setelah Boediono ada di BI, Kalla terkesan tak lagi berkomentar soal kebijakan BI. Mungkin karena Kalla sekarang diem maka kini Paskah yang dapat giliran gatel? Mumpung Boediono bos BI? Padahal, Paskah tak pernah kedengaran mengritik BI di jaman Burhan.

****

(3). Yang seru, ya itu tadi, kritik Paskah terlontar setelah SBY memutuskan untuk sementara tak mendepak Paskah. Padahal banyak pihak ingin agar Paskah di Yusril (Ihza Mahendra)-kan saja, dengan alasan yang oleh Eep Saefulloh Fatah dirumuskan indah sekali (Kompas, 5 Agustus 2008, hal 1).

Bahwa dengan keputusannya itu SBY kali ini sedang memelihara macan, apa boleh buat. Kemarin Yusril langsung didepak, sehingga tak jadi macan dan punya panggung untuk menyerang Sang Pawang lewat orang-orang kepercayaan-nya. Tapi Yusril memang bukan Paskah. Nasib. Mungkin karena Golkar, kini Paskah diberi kesempatan jadi macan dan punya panggung.

Setelah BI (Boediono) serangan macan itu akan kemana? Yang sangat terbuka lebar kemungkinannya — seperti yang sudah dikemukakan dalam postingan sebelumnya (Paskah Bikin SBY Mumet) – adalah menyerang Sri Mulyani (Depkeu). Amunisinya, CBS (Country Borrowing Strategy).

Isunya pun dahsyat. Pengelolaan utang luar negeri. Kebetulan beberapa capres dan parpol yang hendak menjajal kedigdayaan di pemilu 2009 nanti saat ini juga jualan dagangan yang sama. Sekalipun, mungkin karena alasan teknik jualan, dagangan itu hanya mereka kemas gombal-gombalan sebagai ”haircut” doang.

Bah Reggae

Blowjob Is Better Than No Job

Mungkin kerennya unplugged. Tapi intinya sama: Pretelen. Dan di mana pun, dan kapan pun, ia nyaris tak pernah ambil pusing apakah itu terjadi karena “mreteli” atau “dipreteli”. Lebih tak ambil pusing lagi, mreteli/dipreteli dari apa. Tahu-tahu, di pasar ada. Didagangkan begitu aja.

Maka Kurt Cobain mbeker-mbeker mirip kambing disembelih di Where Did You Sleep Lat Night. Di “distro” PIM-1 itu juga ada dagangan Che, Mao, warna Rasta merah-ijo-kuning dipajang bareng-bareng dengan teks I Love NY, I Love Papua, Blow Job is Better Than No Job dan entah apalagi.

Untung saya tak nekat menanya ke pedagang distro itu apakah ada juga kaos SBY, Yusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Sultan, Wiranto, Fadjroel Rachman, Rizal Mallarangeng, Yuddy Chrisnandi dan para capres lainnya. Pasalnya, jangan-jangan, pertanyaan itu hanya akan membuatnya tersinggung. Lalu pedagang itu akan menjawab yang justru malah bikin saya tersinggung. “Emangnya, apa menariknya mereka-mereka itu dikaosin?”.

Saya juga jadi tak berminat menanya ke konsumen mengapa pakai kaos Mao atau Che. Ini karena si Paman belum-belum sudah menyergah dengan “Habis gambarnya lucu, sih”. Malah, masih menurut konglomerat blog itu, bisa jadi pemakai kaos itu yang akan gantian nanya, “Gambar siapa sih ini?”.

Begitulah unplugged. Pretelan. Pop. Maka sah-sah aja ketika Duta Suara memreteli diri sendiri. Misalnya, di Citos dan Senayan City ada Beats. Yang lebih idih banget pretelannya, Tracks, di Pasific Place. Di Grand Indonesia pun salah satu pedagang CD tertua yang selama ini dikonotasikan relatif lengkap ini juga jualan pretelan.

Jadi, pusatnya ada di Sabang yang ”dekil” tapi pretelannya tersebar di berbagai area yang jauh lebih ”kinclong”? Sosial climber? Asmuni juga go-nasional setelah meninggalkan Ndiwek yang sangat ia banggakan itu. Atau mirip Ryan penjagal asal Jombang yang belakangan ini ngetop banget itu.

Bah Reggae

Paskah Bikin SBY Mumet

SBY mumet lagi. Gara-garanya, 2 menterinya – MS Kaban dan Paskah Suzetta – dikabarkan sebagai penadah sebagian dana “perlawanan” BI. Tak sedikit suara yang meminta agar keduanya di-Yusril (Ihza Mahendra)-kan saja. Terutama soal Paskah, beranikah SBY mendepaknya dari kabinet? Jawabnya, tidak! Mengapa?

Setidaknya ada 2 alasan. Dasarnya, rasa kasihan. Yang pertama, kasihan pada Paskah. Meneg PPN/KaBappenas ini jelas bukan Yusril, yang malah happy ketika didepak. Ia main sinetron. Juga ngeblog, mungkin itu karena ia tak diberi kesempatan oleh SBY untuk membela diri lewat pengadilan. Belakangan, ia ikutan pula mencalonkan diri jadi Presiden.

Alasan kedua, SBY kasihan pada dirinya sendiri. Paskah adalah kader Golkar. Jika didepak, Golkar akan makin meradang. Tapi itu masih belum seberapa jika soal ini yang dipertimbang. Karena kader Golkar, maka gantinya pasti juga diambil dari Golkar. Masalahnya, siapa orangnya? Dan yang penting, apakah ia selembut Paskah?

****

Sedikit banyak, Paskahlah yang membuat Bappenas jinak. Memang, beberapa detik setelah masuk kabinet ia terkesan galak. Ia waktu melempar ide haircut atas utang luar negeri. Tapi setelah Sri Mulyani (Menkeu) dan Boediono (Menko Perekonomian) – keduanya anak emas SBY – menolak ide itu, Paskah langsung diam. Cep. Klakep. Tak ada suara lagi tentang haircut.

Di Bappenas, kabarnya ada dokumen tentang strategi pengelolaan utang luar negeri (LN) yang disebut Country Borrowing Strategy (CBS). Gagasan awalnya tumbur subur di jaman Kwik Kian Gie. Lalu, Sri Mulyani masuk Bappenas. Orang-orang Kwik digeser. CBS dirombak dan mentah lagi. Kemudian Paskah menggantikan Sri.

Konon di jaman Paskah sekarang ini, CBS tersebut sudah semakin kelihatan bentuknya. Malah semula banyak pihak di Bappenas yang memperkirakan CBS itu akan dilegalkan. Bentuknya, PP atau Perpres. Jika itu terjadi, ia diharapkan menjadi acuan praktis pengelolaan utang luar negeri.

Ada 2 hal yang serem di CBS itu. Pertama, rasio utang LN. Utang LN nantinya tak hanya diukur dari PDB, tapi juga indeks lain. Misalnya, rasionya terhadap ekspor. Dengan indeks ini, maka ada sejumlah syarat yang lebih berat lagi – ketimbang hanya dibandingkan dengan PDB – yang harus dipenuhi atas kelayakan utang LN baru.

Kedua, CBS juga hendak ”merombak” tata kelola utang LN. Selama ini, pengelolaan utang LN tersebar di 3 institusi. Depkeu, Bappenas, dan BI. Depkeu sebagai penentu. CBS menghendaki pengelolaannya terintegrasi, dan Bappenas sebagai penentu. Atau kalaupun bukan Bappenas, penentu itu ada di lembaga independen di bawah Presiden. Pokoknya, jangan di Depkeu.

****

Siapa keberatan dengan CBS yang seperti itu, tentunya bisa ditebak. Dengan indeks baru – yang membandingkan utang LN dengan ekspor – jelas tak akan mudah lagi mengelola atau meminta utang-utang baru. Depkeu tentu pusing. Pasalnya selama ini indeks utang berdasarkan PDB. Indeks ini relatif gampang dipenuhi.

Jika rasio utang LN dibandingkan ekspor, maka bisa jadi utang LN baru harus lebih ditekan lagi. Depkeu akan tambah kesulitan dalam menyusun APBN, utamanya yang berkaitan dengan penutupan defisit APBN. Utang LN baru tak leluasa lagi seperti ketika utang itu hanya diukur dengan PDB.

Selain itu, apakah Depkeu – yang wewenangnya demikian super dan dijamin oleh UU No 17 Th 2003 tentang ”Keuangan Negara” (berlaku sejak 5 April 2003) – akan sukarela menyerahkan sebagian wewenangnya (utang LN) pada Bappenas atau lembaga independen di bawah Presiden?

Yang pasti, di bawah Paskah, Bappenas sejauh ini tak mendesak-desakkan CBS. Pertanyaannya, jika Paskah didepak, apakah ada jaminan orang Golkar penggantinya bisa selembut Paskah? Atau, agar tak terdepak, justru Paskah sekarang ini sedang menjadikan CBS sebagai kartu truf?

Bah Reggae

Jazz Cupet

Tak setiap orang suka jazz. Tapi, jazz yang satu ini digemari banyak orang. Tanpa paksaan. Di jalanan, sejak pertamakali diluncurkan beberapa tahun lalu – seolah nyaris tanpa ba-bi-bu – Honda Jazz tiba-tiba saja langsung jadi salah satu rajanya. Kacang goreng. Kecil, bertenaga (gila) dan irit BBM.

Merk mungkin jadi pertimbangan. Honda terlanjur nancap sebagai merk yang produknya tak ”macam-macam”. Sederhana. Tak ramai. Jauh dari kesan ”pating clekunik”. Relatif tak banyak garis patah. Jarang ada tonjolan atau lengkungan drastis. Belum lagi suara mesinnya yang halus.

Maka ketika Honda terjun ke ”mobil murah” wajar jika pasar kemudian ramai-ramai menoleh. Lalu, Jazz diburu. Di sini, di situ dan di sana Jazz. Tak peduli indennya lama. Kredit? Di jaman ini, silakan Anda bilang ke dealer hendak beli mobil baru secara cash. Berani bertaruh, mereka akan langsung mangap, ”Stock habis, boss!”. Tapi, mereka akan semrintil jika konsumen kredit.

Akankah All New Jazz sekarang ini akan mengulang kisah sukses besar pendahulunya? Masih harus ditunggu.

Satu hal, Jazz baru terkesan tak seyakin produk sebelumnya. Kurang ”pede”. Terlalu banyak ”Yaris” di situ. Utamanya di kap mesin dan bagian (kaca) belakang. Malah model kap mesin pendek itu bisa mengingatkan orang pada cara Jojon atau si Ogut pakai celana. Ngampret. Cupet. Ditarik sampai dada.

Memang, jazz relatif bisa menampung segala. Kroncong, ”pop”, rock, bahkan seriosa, kalau mau, sedikit nekat, bisa dibikin jazz. Tapi, mosok to, sampai terkesan maksa begitu. Atau, kap mesin pendek nantinya bakal jadi trend. Kalau benar, kenapa CRV baru – yang tampak depannya BMW itu — tak sekalian dibikin ngampret pula?

Bah Reggae

Sjahrir

Maaf, ini cuilan postingan lalu:

Sjahrir juga mendown-grade diri luar biasa. Semula ia calon Presiden. Setelah kalah, kini ia berkenan jadi pembantunya SBY, sesama bekas calon Presiden yang pernah ditantangnya. Mungkin itu karena kebiasan: nantang itu bermanfaat. Dulu di jaman Soeharto, karena nantang, ia malah disekolahin ke Harvard.

Sugeng tindak, Mas.

Bah Reggae

Sapto

Dia orang lama. Nama depannya ada Bambang-nya. Sesuatu yang jarang dipakai orang-orang produk baru. Tapi, teman-temannya di SMA yang isinya cuma lanang thok di Yogya itu, sedikit yang tahu namanya pakai Bambang. Ia dikenal sebagai Sapto. Atau, komplitnya, Sapto Nugroho.

Maka semula tak ada yang menyangka bahwa Bambang Sapto Nugroho yang diberitakan  terbunuh dan mayatnya ada di dalam koper itu adalah dirinya. ”Ah, mosok itu Sapto? Emang namanya pakai Bambang?”, begitu bunyi SMS dan email pagi itu.

Tapi beberapa saat kemudian tak ada keraguan lagi. Benar itu Sapto.

Ekspresif. Begitu dulu gayanya di kelas. Jaman itu guru banyak mendikte. Lalu murid mencatat di buku tulis. Termasuk hal-hal yang menurutnya tak masuk akal. Memang, pertanyaan boleh diajukan. Dan guru menjawab seadanya. Tapi, Sapto tak mau repot. Ketimbang bertanya biasanya ia memilih berkata keras-keras, ”Bah, apaaaa.. ini!”. Guru mendelik dan kelas jadi ger.

Belakangan yang terdengar hanya kabar dan kabar. Teman yang satu ketemu. Sementara yang lain telpon-telponan. Tetap ekspresif. Masih banyak ketawa. Ia pengusaha sukses. Penggemar lukisan berukuran besar dengan warna-warna menyala. Dinding rumahnya perlu itu.

Lalu, tiba-tiba saja datang kabar dari Danau Sunter. Sugeng tindak, Sap. Dan moga-moga, kamu tak harus bilang lagi, ”Bah, apaaa.. ini!” atas kerja polisi dalam mengungkap kasusmu.

Bah Reggae

Jangan Asal Sakit

Sekadar narsis, GR, nggak ngaca dan sekian ”penyakit” lain sebangsanya? Mungkin. Tapi, kalau pun iya, kenapa? Memangnya, hanya untuk berpenyakit seperti itu saja seseorang harus punya partai atau gabungan partai yang di pemilu legislatif nanti (diperkirakan) minimal bisa beroleh sekian suara?

Benarkah hanya orang tertentu yang boleh penyakitan? SBY, Kalla, Megawati, Wiranto, Sultan dan sekian barang bekas lainnya boleh sakit, sementara anak-anak muda itu tak boleh? Mereka ini — Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman, Yuddy Chrisnandi dll – tak boleh sakit? Mereka hanya boleh waras?

Alangkah nyamannya dunia ini kalau bisa begitu. Maka Siti Fadillah tentunya yang akan mbungahi. Bu menteri ini bisa seharian cuma dandan melulu, berkenes-kenes dan gidak-gidik kesana-kemari bak artis — ”koyo ayu-ayuo” — karena penyakit bisa diatur-atur seenaknya.

Itu soal pertama. Yang kedua, benarkah penyakit itu hanya berhubungan dengan jabatan presiden dan wapres semata? Sakit cuma untuk jadi presiden atau wapres saja? Penyakit itu tak boleh untuk jabatan lainnya, misalnya menteri, direktur BUMN, atau petinggi aneka lembaga ad-hoc negara?

Lalu, Rizal juga tak boleh menjadikan penyakit itu sebagai bukti kedahsyatannya dalam menggalang dana iklan atau sebagai cara untuk memperkenalkan bisnisnya di ”permak citra” yang belakangan ini marak? Haruskah penyakit itu lalu membuat Fadjroel berani menolak undangan diskusi, talk show dan aneka acara cengengesan lainnya?

Terakhir, tak bisakah penyakit itu dipakai untuk mengigaukan rincian ide-ide besar? Fadjroel, misalnya, meneriakkan nasionalisasi. Tapi, apakah karena ia sakit lalu sah adanya jika ia ogah memerinci ide itu, bagaimana mekanismenya dan konsekuensinya? Begitu juga soal hair cut, pengurangan beban bunga obligasi rekap dan janjinya yang lain.

Kemudian Rizal. Apakah karena ia sakit lalu ia hanya boleh mengulang-ulang klaim bebek soal opportunity loss — seperti iklan yang ia pasang di berbagai media massa tempo hari – hanya gara-gara ia mendukung kenaikan harga BBM bersubsidi? Buat apa sakit kalau cuma seperti itu.

Bah Reggae

Industri Pretelan

Bukan album yang dijual, tapi single. Konsumen jadinya bisa bikin kompilasi menurut versinya sendiri, bukan versi pedagang kompilasi. Lalu belakangan ada yang lebih dahsyat lagi. Bukan album. Bukan single. Tapi potongan single yang dijual. Aneka riff, cuilan intro atau refrain didagangkan. Dan laris banget.

Buktinya, industri “ring back tone” (RBT) itu. Kata Swa (12-25 Juni 2008), dari total rupiah yang didapatkan dari dagangan musik, sumbangan terbanyak berasal dari RBT. Dari dagangan RBT, si artis, katanya, beroleh duit yang berkali lipat lebih besar ketimbang hasil yang ia peroleh dari jualan album.

Halo, sayang. Kenapa diangkat? Gombal kamu. Jangan diangkat dong. Aku lagi ndengerin RBT-mu. Asyik banget tuh. Baru lagi? Lagunya siapa sih? OK, sekarang matiin. Ntar aku telpon lagi. Tapi jangan diangkat! Bener yak? Thanks. Daaaaag…..

Modern? Entahlah. Yang jelas, dulu Pramudya Ananta Toer mendagangkan Bumi Manusia, di Pulau Buru sana, mula-mula juga per cuilan. Cerita “kancil” dan aneka legenda didagangkan secuil-secuil oleh para simbah. Pengamen pun nyanyi sepotong-sepotong. Langka ada pengamen yang menolak bayaran sekalipun ia tak menyelesaikan lagu dagangannya.

Itu tadi kelakuan pedagang. Bagaimana konsumen? Sejak dahulu kala, di mana pun, yang namanya bersenandung, apalagi di kamar mandi, tak pernah full satu lagu. Begitu juga bersiul. Mau dibikin aturan canggih kayak apapun, “rengeng-rengeng” dan “singsot” pasti cuma cuilan.

Inilah dahsyatnya pop. Bukan hanya pedagangnya, tapi konsumennya juga dahsyat. Malah, menyimak kasus singsot itu, terkesan para pedagang justru hanya memanfaatkan ketajaman hidungnya dalam mengendus kebiasaan konsumen penggemar pretelan. Sah-sah aja sih. It’s OK.

Bah Reggae

Bukan Pasar Malam

Bukan Goenawan Mohamad jika “caping”-nya di Tempo tak memikat. Tapi, jangan-jangan, justru karena setiap capingnya memikat itulah ia kemudian sejauh ini terkesan ogah mencapingkan Lapindo. Alasan persisnya mengapa tak pernah ada caping tentang Lapindo, jelas hanya Goenawan sendirilah yang tahu.

Gerai. Begitulah capingnya yang terbaru (Tempo, 21-27 Juli 2008). Ini tentang perayaan aneka parpol menjelang pemilu 2009. Baginya, perayaan itu tak menyangkut substansi. Perayaan itu sekadar sebagai kewajiban (?) ritual 4 tahunan doang. Malah, itu tak lebih sekadar pasar malam belaka.

Lalu, seperti pasar malam pada umumnya, dagangan yang ditawarkan di situ menjadi tak penting. Yang penting cuma satu. Gimana meraup konsumen banyak-banyak. Titik.

Benarkah? Seburuk itukah? Untunglah, bukan GM jika ia sama sekali tak menyisakan optimisme. Ia masih percaya bahwa baik di dalam maupun di luar parpol, ada berbagai pihak yang tetap ”serius” memikirkan kualitas dagangannya. Dagangan yang menggugat, yang diyakini, untuk sesuatu yang lebih baik.

Pertanyaannya, siapa pihak-pihak yang serius itu dan gimana kualitas gugatan dagangan mereka?

Suka tak suka, di pasar pasar malam itu, muncul sekian wajah baru. Anak-anak muda pun pating jredul. Ini mengasyikkan.

Lalu gimana kualitas gugatan dagangannya? Nah ini dia. Memang gimana detilnya belum terpapar benar. Namun, setidaknya Fadjroel Rachman (Kompas, 22 Juli 2008) sudah melansir ide-ide besar. Misalnya, (1). Nasionalisasi aset negara (telekomunikasi, migas dan tambang); (2). Penolakan pembayaran utang haram ; (3). Pajak progresif ; (4). Pengadilan Soeharto dan kroninya; (5). Pengadilan pelanggaran HAM berat.

Orang-orang seperti Dradjad Wibowo atau Rizal Ramli mungkin akan menambahkan daftar itu dengan hair cut, optimalisasi posisi strategis (geo-politis) negeri ini di rundingan bilateral dengan negara/lembaga pemberi utang, pengurangan beban bunga rekap dan berbagai isu lain yang selama ini dihindari oleh banyak pihak.

Rizal Mallarangeng, jika ia sudi meladeni Fadjroel, jelas akan menawarkan dagangan yang lain lagi sesuai dengan label ”neo-lib”-nya. Jika ini terjadi, tentunya, pasar malam ini akan semakin menarik. Tontonan jadinya bukan melulu tayang ulang sinetron SBY, Yusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Wiranto dan para barang bekas lainnya.

Next »