Daripada disebut Soehartois oleh pemilik blog ini, maka ini bukan tentang Soeharto. Tapi masih ada kaitannya dengan orang sakit, yakni rumah sakit (RS). Saya baru tahu ternyata RS itu bukan restoran. Semula saya menyangka ke-2nya sama. Orang datang ke situ – dirawat (RS) atau makan (resto) — tahunya beres: sembuh atau kenyang.
Di kedua tempat itu, konsumen tak perlu pusing lagi soal penyediaan obat (RS) atau makanan (resto). Malah di resto ada ketentuan yang sudah jadi kesepakatan umum, konsumen tak boleh membawa makanan sendiri dari luar. Saya pikir RS juga seperti itu. Konsumen tak boleh membawa obat sendiri dari luar.
Tapi ternyata tak begitu. Di RS, konsumen boleh repot soal penyediaan obat. Alasannya, bukannya obat itu tak ada di RS itu, tapi agar konsumen bisa beroleh obat yang lebih murah ketimbang yang disediakan RS. Di kisah ini, obat itu adalah obat yang diperlukan untuk kemoterapi.
Malah pak dokter RS itu sendiri yang menganjurkan untuk mencari obat di luaran. Lebih hebat lagi, jaringan pak dokter itu yang jadi pemasoknya. Begitulah. Setelah pak dokter itu memutuskan pasien mondok untuk dikemo di RS swasta tempat dokter itu praktek, beliau lalu membisikkan alamat yang bisa dihubungi untuk beroleh obat kemo murah.
Cerita selanjutnya adalah pasar gelap yang terang-terangan. Lokasinya ada di salah satu RS top milik pemerintah. Di sini, teman pak dokter itu, lewat telpon berhalo-halo dengan pak dokter mencocokkan spesifikasi obat. Setelah cocok, obat lalu diserahkan, juga prosedur kemo yang mesti disampaikan ke RS tempat pasien dirawat.
Tentu saja, penerima obat itu lalu mengangsurkan segepok uang – jreng, kontan – sesuai bandrol pasar gelap. Penerima obat juga otomatis akan berucap terimakasih ketika teman pak dokter itu menyatakan, “Murah kan? … Coba, bandingkan dengan harga RS. RS minta berapa? Tuh, kan? Jauh kan?”.
Ucapan terima kasih makin menjadi ketika teman pak dokter itu juga bilang, “Untuk kemo berikutnya, kesini lagi aja. Repot ke sininya? Gampang, bisa diambil di rumah. Ini alamat saya. Iya, benar. Keluar tol, kiri-kanan dikit, udah deh. Tukang ojek juga tahu. Ini telpon rumah. Ini HP saya. Yaah, beginilah. Namanya juga tetulung. OK? Hahahaha…”.