bang rhoma

In Progrock We Trust

purwanto kortem

Kurang jelas siapa orang ini. Kalau tak salah dia dulu di Republika bareng E.H. Kertanegara, lantas pindah ke MuMu, tabloid musik bagus yang lahir mendahului zaman. Sekarang patut diduga dia ada di Koran Tempo.

Bedahan musik orang ini oke. Referensi luas. Sayang tabloid MuMu, yang dimodali adiknya B.J. Habibie, itu tamat riwayat. Ini tabloid merakyat, yang lahir setelah reformasi, saat studio musik bertebaran di kampung-kampung. Kualitas cetak sekelas koran kota, tata rupa sangat berani (cocok untuk generasi MTV dan yang melek internet, karena gaya HTML pun masuk), harga murah, contoh ngeset drum seorang musisi pun ada. Begitu pula contoh skematik tata suara untuk pentas yang ribet untuk ukuran saat itu (kalau tak salah GiGi di GKJ).

Sekali lagi, itu semua kalau tak salah. Karena ini orang, lagi-lagi, memang tak jelas. Mungkin maunya seperti lagu yang saya putar pagi ini: The Endless Enigma (Emerson Lake Palmer). Tapi bisa jadi saya salah terka. Mungkin dia penjaga parkir atau centeng di mana gitu. :)

Blog memang bisa macam-macam isinya. Jreng!

2 Responses to “In Progrock We Trust”

  1. Mbilungon 03 Jan 2008 at 9:03 am

    kira-kira, angkatan berapa?

  2. kunangkunangkuon 05 Jan 2008 at 11:37 am

    seingat saya itu konser simak dialog (riza arshad dan kawan-kawan). tapi mungkin juga kla project. atau… walah, sudah samar-samar. maklum, usia… :-)

    dugaannya memang patut, mas. saya sekarang numpang makan di koran tempo, setelah sempat ke sana-sini, bikin ini dan itu, sejak pamit mundur dari mumu.

    sudah lama sekali rasanya. terima kasih atas apresiasinya yang penuh puja-puji itu. [hehehe...] sejauh yang bisa saya ingat, mumu, buat saya, adalah (istilah kerennya) labor of love. apalagi? wong, urusan musik…

    sekarang sebagian dari semangat labor of love itu saya curahkan di blog ini. tentu secara substansi isinya sebagian besar subyektif adanya. musik, kata orang, sebagian adalah soal selera, bukan? tapi, ya, siapa tahu ada yang seleranya cocok dengan saya.

    meski kini jadi jadi terang, semoga tidak bosan dengan the endless enigma-nya. :-)

    salam

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply