Bah Reggae

Pada Ariel Heryanto

Bung, apakah jarak ostrali-indonesa sudah tak selemparan batu lagi, sehingga suara Bung begitu asing ketika Bung ngomong tentang penelitian, apalagi itu menyangkut penelitian pers, sebagaimana yang Bung tulis (Etika Penelitian), di Kompas Minggu (6/1/2007, halaman 12)?.

Satu hal yang harus Bung pahami – dan mestinya jadi pertimbangan utama siapa pun yang meneliti pers negeri ini – adalah bahwa kondisi pers kita tak ideal. Suatu kondisi yang ditandai oleh berbagai pelanggaran yang celakanya justru banyak dilakukan oleh pihak pers sendiri.

Soal teknis seperti tak akurat, minimnya kover dua-pihak dll biasa terjadi. Malah saking biasanya kemudian terkesan itu bukan dianggap persoalan. Selain itu, mungkin karena kebiasaan mentolerir pelanggaran, pers kita jadi demikian jumawa. Sudah menganggap dirinya paling benar, masih ditambah lagi anti kritik pula.

Pendeknya Bung, pers kita menjadi lalim. Sampai-sampai, setiap kali ada pihak yang bersengketa dengan pers, maka secara otomatis (by default & given) pihak itu menjadi pihak yang kalah. Nasibnya begitu. Mengapa? Karena mereka tak punya “senjata”. Hanya pers yang punya. Sementara mereka, karena tak punya senjata, hanya jadi bulan-bulanan pers.

Maka beruntunglah negeri ini, sudah layak dan sepantasnya bersukacitalah ketika tim UGM & UI berkenan melakukan penelitian tentang pemberitaan di Tempo (majalah & koran) soal kasus dugaan penggelapan pajak yg dilakukan Asian Agri.

Hendaknya Bung jangan cuma terpaku pada dana penelitian itu berasal dari Asian Agri yang kebetulan sedang bersengketa dan menggugat Tempo karena pemberitaan itu. Jangan pula Bung hanya melihat etis tidaknya melakukan penelitian dengan topik yang mereka sengketakan dan dibayarin oleh salah satu pihak yang bersengketa.

Jangan Bung, jangan. Pasalnya, ada yang lebih penting ketimbang soal etis. Itu remehtemeh. Dan itu kan hanya cara saja. Terbukti lewat hasil penelitian itu bahwa apriori di atas – pers jahiliyah – benar adanya. Ini penting. Selain untuk Tempo, juga pers umumnya. Publik pun pasti tercerahkan pula.

Dahsyat kan argumen-argumen itu? Hahahaha… Sori, Bung, saya tak bisa menahan tawa atas apa yang saya tulis di atas.

Selain itu, Bung, yang kiranya juga dahsyat, lewat penelitian itu, maka paranoid atas pers negeri ini kini menjadi komplit. Selama ini, hanya gangguan atas kebebasan pers yg ditangisi. Nah, kini, dengan penelitian itu, muncul para penangis baru. Mereka menangis untuk pers yang kebablasan (jahiliyah).

One Response to “Pada Ariel Heryanto”

  1. Mas Kopdangon 06 Jan 2008 at 11:05 pm

    Aha, sebuah cara menghilangkan penderitaan njendel yang manusiawi tur elegan.

    Hampir mirip dengan acara puja-puji kepada Roy Suryo pada sebuh blog yang lain ;)

    Pun bukan sekadar etika, atau pers bebas dan pers bablas yang perlu diratapi, namun menghilangkan “kepentingan” dalam tubuh pers pada apa pun jua. Tidak pada neolib, tidak pada ketidakbecusan, pada kemelaratan, namun keberpihakan pada kebenaran binti kejujuran.

    Itu saja.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply