Bah Reggae

Keberagaman Sumangga Kersa

Keberagaman. Selain biar mbois, mungkin karena tuntutan jaman, Sultan itu belakangan seneng sekali nyinggung-nyinggung soal ini. Sitik-sitik pluralisme. Sedikit-sedikit keberagaman. Tapi, barangkali, juga gara-gara soal itulah maka Sultan berkenan mengizinkan di Yogyakarta ada mal semacam Ambarukma Plaza.

Dari segi bangunan fisik, ekterior, interior, mal ini tak kalah dengan mal-mal nyaman di Jakarta seperti Plaza Senayan, Senayan City, Taman Anggrek, Pondok Indah Mal atau Kelapa Gading. Di situ ruang-ruang dagangan diatur sedemikian rupa hingga tak sesumpek Plaza Semanggi, Mal Ambasador, atau Mal ITC di manapun.

Tapi, seketika kesan cool Ambarukma Plaza itu bisa langsung lenyap manakala lingkungan sekitar masuk hitungan. Inilah mal yang dibangun di tengah-tengah kampung. Kampung yang lebih riil ketimbang kampung di sekitar Malioboro Mal, mal lain di Yogya yang semrawut, yang bisa jadi dibangun berdasarkan konsep “pokoke mal”.

Karenanya, kemonceran Ambarukma Plaza lebih menyeruak di tengah kekumuhan yang tak di buat-buat. Di seberangnyanya, misalnya, yang dipisahkan jalan raya Jogya-Solo selebar 10 meteran, berderat sejumlah warung makan sederhana, tukang jahit, permak lepis, toko kelontong kecil, kios “bensin” dan rokok eceran, juga bengkel (sepeda) motor.

Di sekitar mal itu, banyak penduduk kampung yang merubah halaman rumahnya menjadi areal parkir kendaraan pengunjung mal. Dan dahsyatnya, banyak pula peminatnya. Mengapa parkir di situ, bukannya di mal saja yang lapang dan nyaman? Entah apa pertimbangannya, mungkin itulah gaya warga Yogya.

Dan mungkin karena itulah, pengelola mal pun terpaksa mengapresiasinya. Terbukti, sebagian jalanan di areal mal itu, yang semula didesain untuk jalanan mobil masuk ke mal, terpaksa diambil sebagian untuk parkir motor. Akibatnya, ruang parkir motor di basement terlihat melompong. Sementara di luaran lalu lintas jadi semrawut.

Inilah keberagaman itu. Ia “ternyata” tak hanya menyangkut soal demografi saja, tapi juga soal gaya dalam memerlakukan mal yang semestinya dimana pun pernak-perniknya – termasuk soal parkir-memarkir kendaraan pengunjung — sudah built-in dan semestinya tak bisa di-“sumangga kersa”.

Atau, mungkin karena itulah Ambarukma Plaza sering juga disebut dengan memendekkannya menjadi “Amplas”. Sesuatu yang tak pas pun jika digosok dengan amplas akhirnya bisa menjadi pas. Tak peduli apakah energi yang diperlukan untuk menggosok ataupun residu gosokan itu terkadang bikin repot.

2 Responses to “Keberagaman Sumangga Kersa”

  1. mpokbon 21 Jan 2008 at 1:19 pm

    hm, inilah keberagaman yg menyeragamkan. soalnya isi mal di kota mana pun serupa. kalo nggak fast food, ya hipermarket. jangan sampai yogya menjadi “just another city” karena keunikannya tetutupi budaya mal-isasi :D

  2. Paman Tyoon 22 Jan 2008 at 8:11 am

    Bagaimana menata ruang bersama, termasuk jalanan, adalah potret kita dalam memperlakukan kehidupan.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply