Jan 21st, 2008
Siapa Bilang Banyak Pilihan itu Tak Menyiksa?
Tak terasa, toko buku itu telah berubah menjadi toko CD (musik) yang “lain dari yang lain”. Begitulah toko buku Aksara. Dilihat dari sebagian besar CD dagangannya, ia sama sekali bukanlah subsitusi dari Duta Suara, Aquarius Pondok Indah, Musik+, dan Musiklub.
Malah kesan saya, ke-4 toko (Duta Suara dkk) itu hanya berebut konsumen yang sama. Di sini konsumen disodori dagangan yang relatif tak berbeda antara toko yang satu dengan toko lainnya. Kekhasan masing-masing toko itu – berdasarkan sebagian besar dagangannya – tidak terlalu kentara.
Memang, perlu dicatat — sekalipun tak menghapus kesan keseragaman barang dagangan di 4 toko itu – jika dibandingkan dengan 3 toko lainnya, di Musiklub barang-barang “metal” lebih banyak yang didagangkan. Sementara di Musik+, selain “metal” juga banyak digeber “progrock”.
Bagaimana dengan Disc Tarra, Aquarius Mahakam, Buletin, Sangaji? Sekali lagi, berdasarkan sebagian besar dagangannya, terkesan — maaf – mereka sekadar mengadopsi cara jualan toko di kampung-kampung. Hanya saja, tempatnya jelas lebih nyaman. Mungkin inilah yang membuat rasa sesal nekat masuk ke situ terkadang menjadi terobati.
Bahwa Aksara menjadi melejit sendirian, jelas. Tapi, bahwa konsumen tak tersiksa dengan dagangannya yang “lain dari yang lain”, belum tentu. Pasalnya, konsumen umumnya belum kenal dengan apa yang didagangkan. Bisa dikatakan, praktis baru ketika masuk di Aksara itulah mereka untuk pertama kalinya tahu ternyata ada band/artis ini dan itu. Ibaratnya masuk belantara.
Lebih serem lagi, di tengah belantara itu, kita (calon konsumen) dibiarkan sendirian. Ijen, thok thil!. Tak ada referensi rujukan sama sekali. Pertanyaan sederhana seperti band/artis “asing” itu mirip siapa, atau mewakili genre apa, belum tentu mas-mas dan mbak-mbak di situ bisa menjawabnya dengan gesit.
“Udah pernah dengar X?”, tanya mas dan mbak itu mencoba menolong. Celakanya, si X itu pun salah satu band/artis dari rak belantara dagangan itu. Maka yang terjadi kemudian biasanya adalah rentetan dialog para kere. Kalau si Ini? Belum juga! Si Itu? Wah, belum juga je. Nah, kalo Ini? Busyet deh, sampeyan ngetes gue? Dst, dst.
Memang, di situ diperkenankan untuk mencoba-coba. Tapi selain minimnya player yang tersedia, kuping siapa yang akan tahan ditempeli headphone sederhana dalam waktu yang tak sebentar. Jika yang kita coba cuma 1 – 3 CD, mungkin masih mendinglah. Tapi kalau sudah lebih dari itu, maka pegel-lah telinga ini.
Sudah pegel kuping pun – juga pegel kaki karena terus-menerus berdiri — terkadang masih ditambah lagi oleh perasaan nggak enak kalau nggak beli. Apalagi kalau kita jam-jaman mencoba berpuluh band/artis ini-itu. Memang, “harus beli” itu tak keluar dari mas-mas dan mbak-mbak di situ. Tapi tahu dirilah. Inilah gombalnya konsumen.
Barangkali, kegombalan itu bisa sedikit berkurang jika, misalnya, ada katalog kecil yang berisi diskripsi singkat tentang band/artis belantara dagangan itu. Menggurui (calon) konsumen? Mungkin. Tapi daripada pegel dan muncul perasaan “nggak enak nggak beli”? Tak selamanya lho banyak pilihan (yang didagangkan) itu tak menyiksa.
beli 3 bonus 1 menyiksa ndak, semp?
Ada dua pasal.
1. Harus boleh dicoba supaya konsumen tak membeli munyuk dalam kaleng
2. Harus terjangkau
Selebihnya yah gitulah. Silakan baca di sini…
lebih baik banyak pilihan bung..
dari pada kalo kita masuk ke disc tarra … payah..
salesnya dan cd yang dipajang sama seleranya.. mainstream.
mosok… tampang gahar gini ditawarin josh grobak sama cangcuter..
dimana ya ada yg jual cd whitesnake dan dream theater baru seharga 75 rebu….
nasib …..