Archive for February, 2008

Bah Reggae

Mereka Ngeband. Bukan Ngeblank

Begitulah yang namanya cinta. Kadang merepotkan. Tak heran jika ada yang sampai bilang “no time for love”. Atau yang lebih repot lagi “cinta ditolak dukun bertindak”. Dukun yang tak tahu apa-apa diajak-ajak.

Tapi banyak pula yang tak merasa repot. Salah satunya Zeke and The Popo. Di album Space in the Headlines (2007) mau-maunya mereka menyertakan cinta lewat Mighty Love. Juga Menu. Saya tak tahu, apa pertimbangannya. Untunglah, sejauh ini belum ada kabar Giring keberatan 2 nomor “nidji banget” itu bisa masuk di album ini.

Lebih untung lagi, kalau nila-nya cuma setitik seperti itu, ternyata kesebelangaan susu jadinya malah menonjol. Maksudnya, album ini tetap saja asyik. Pasalnya, Zeke and The Popo begitu nglotok banget dengan The Beatles. John Lennon dkk dioklek-oklek, diobrak-abrik dan kemudian digodok jadi sesuatu yang baru.

Memang tak hanya The Beatles. Berkelebat pula Brian Eno dan Radiohead. Ada juga Tom Waits di Unrscued World. Nick Cave & The Bad Seeds di First Act Gun. Juga Portishead dan Crosby Stills Nash & Young di 1.1 Trillion Wood Cutters.

Semuanya ini hanya menunjukkan betapa penuhnya kepala anak-anak Zeke and The Popo ini. Seperti halnya Polyester Embassy di Tragicomedy (2006) dan Everybody Loves Irene lewat The Very First Thing You Must Learn about Flying is Gravity (2006). Mereka serius ngeband. Bukan ngeblank.

Bah Reggae

Pedagang Itu Dibunuh Dagangannya Sendiri

Pedagang itu dibunuh dagangannya sendiri. Pedagang itu bernama Phish, 21 tahun (1983-2004). Dagangannya, sang pembunuh itu, Billy Breathes, yang semula ia gadang-gadang tak hanya sebagai dagangan baru, tapi juga sesuatu yang diharapkan bisa menutupi rasa bosannya setelah sekian tahun jualan “gado-gado” melulu.

Ia memang bukan pedagang top. Sering hanya disebut sebagai Grateful Dead kecil. Padahal, gado-gadonya berbeda dengan gado-gadonya bandnya Jerry Gracia itu. Tak sedikit pula yang selalu saja mengira ia adalah Fish, vokalis Marrilion. Lebih tragis lagi, beberapa orang baru menyadari kehadirannya setelah munculnya si Billy. Artinya, ia dikenal setelah terbunuh.

Kalau saja ia tak reko-reko jualan dagangan baru Billy Breath itu barangkali kini ia masih bisa singsot seperti Moe, String Cheese Incident dan beberapa pedagang lainnya yang gado-gadonya tak segurih Phish.

Coba saja simak gado-gado itu di Junta (1989) yang cenderung ngeprog, Picture of Nectar (1992) yang nge-jazz dan Rift (1993) yang mblugrass. Atau gado-gado asli di White Tape, dengan materi 1984-1986 tapi baru dirilis 1998. Atau livenya (Live One, 1995), dimana drumer gendut itu telanjang bulat segala. Lalu ada juga Lawn Boy (1990) dan Hoist (1994). Tapi ke-2nya tak gurih-gurih amat.

Tiba-tiba saja, pada 1996, lahirlah Billy Breathes, si pembunuh itu. Di sini, gado-gado tak dijual lagi. Phish menawarkan dagangan baru yang jauh lebih sederhana ketimbang sebelumnya. “The Phish stuff is pretty slow for now”, begitu iklan di kover si Billy.

Kesederhanaan berlanjut. Phish tak langsung mati. Kematiannya berlangsung pelan lewat The Story of The Ghost (1998), Farm House (2000), dan Round Room (2002). Terakhir Undermind (2004), yang tak saja sederhana tapi juga menyiratkan kelelahan. Dan akhirnya, 15 Agustus 2004, pedagang yang sudah tak jualan gado-gado lagi itu menyatakan diri mati.

Bah Reggae

Tommy

Kutitipkan bangsa ini padamu. Ini kata-kata si Bung. Konon, di saat-saat terakhir di RSPP itu, bapaknya, sambil menunjuk dirinya, juga sempat menyitir omongan si Bung itu sebagai pesan terahir pada sejumlah orang. Hanya saja , bapaknya mengimbuhkan huruf “t” di belakang kata “bangsa” itu.

Mungkin pesan bapaknya itu suatu bentuk pengakuan bahwa ia memang anak istimewa. Kakinya saja dahsyat. Gara-gara kakinya tersiram air panas, PKI diburu dan sang bapak bisa jadi orang nomor satu di negeri ini selama puluhan tahun. Coba, dulu, di penghujung September 1965 itu, sang bapak tak ambil peduli pada kaki itu, dan segera menindak-lanjuti saja laporan Kolonel Latief.

Maka ketika belakangan ini ia menolak sebagai ahli waris perkara bapaknya, kiranya itu hanya contoh kecil lain betapa benarnya omongan bapaknya itu. Ia memang “bangsa” dengan imbuhan “t”. Dan karena itu ia menjadi sangat istimewa.

Ia mungkin seperti Tommy, album The Who (1969) itu. Anak abnormal yang menolak dijadikan seperti orang normal umumnya. Justru karena abnormal itulah, ia menganggap orang lain-lah yang semestinya memahami dirinya, bukan sebaliknya. “See me, feel me, touch me, heal me”, begitu katanya berulang kali.

Di Pinball Wizard yang asyik itu, Tommy bilang, “Ever since I was a young boy/I’ve played the silver ball… I must have play them all/But I ain’t seen anything like him”. Di I’m Free ia juga bilang, “I’m free/And freedom taste of reality”. Malah, katanya di Welcome, “Come to my house/Be one of the comfortable people…/We’re drinking all night/Never sleeping”.

Semula Tommy adalah sesuatu yang ditertawakan banyak orang. Tapi kemudian ia dianggap istimewa. Ia tak hanya menjadikan The Who berubah berorientasi ke album – dari sebelumnya yang hanya berkiprah lewat single – tapi juga sebagai inspirator berbagai rock opera. Ada Quadrophenia (The Who, 1973 ).

Ada pula Jesus Christ Super Star/JCSS (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice, 1973). Niki Kosasih – jauh sebelum Saur Sepuh meledak dan beda keyakinan tak sesensitif sekarang – pernah mengadaptasi JCSS untuk acara kebaktian Paskah di gereja di pinggiran Yogya. Harry Rusli juga menelorkan Ken Arok (1975), sebelum rock-gamelan Titik Api (1977).

Next »