Feb 13th, 2008
Untuk Dapat 1 Harus Beli 2
Maunya memanjakan tapi malah bikin repot konsumen. Begitulah kelakuan para pedagang CD musik. Konsumen dibikin repot karena mereka terpaksa mengeluarkan uang ekstra untuk sesuatu yang sebenarnya tak diharapkan. Bahwa itu kemudian disebut sebagai kecerdikan pedagang, itu soal lain.
Kerepotan itu, misalnya, ada di Musiklub. Di sini obral CD dilakukan dengan cara nyeleneh. Di banyak tempat lain, CD-CD obral itu umumnya digelar begitu saja dengan harga diskon per satu CD. Tapi di Musiklub tidak begitu. CD-CD obral itu dibendel. Masing-masing bendel berisi 2 CD. Harga obral jadinya per bendel.
Saya males dan belum menghitung apakah dengan harga obral bendelan itu 2 CD yang dibawa pulang konsumen jatuhnya akan lebih murah ketimbang jika mereka membeli per satu CD obralan. Tapi OK-lah, taruhlah harganya memang lebih murah.
Hanya saja, masalahnya, dengan cara jual bendelan seperti itu, konsumen dipaksa membeli 2 CD sekaligus. Konsumen yang tertarik dengan satu CD saja, mereka terpaksa membeli pula CD kedua. Lebih seru lagi, pembendelan pun terkesan asal-asalan. Van Halen, misalnya, dibendel jadi satu dengan album kompilasi artis latin.
Artinya, hanya untuk bisa punya Van Halen, konsumen harus bersedia punya pula album kompilasi artis latin. Bukan berarti Van Halen tak match dibendel dengan musik latin. Tapi, yang pasti, bukan tugas pedagang CD mengajari konsumen agar kuping mereka terbiasa macam-macam aliran atau genre.
Tapi, pembendelan gombal-gombalan itu bukan khas pedagang Melayu, atau Musiklub yang tokonya mentereng di PIM II itu. Bule pun banyak yang nggombal juga. Banyak gimmick mereka yang menyebabkan konsumen terpaksa membeli sesuatu yang sebenarnya tak perlu.
Misalnya saja CD impor yang banyak beredar di sini, antara lain Phish (Undermind, 2004), String Cheese Incident (One Step Closer, 2005), atau Beck (Information, 2006). CD audio album artis-artis itu juga dibendel dengan DVD-nya, yang celakanya menyebabkan harganya menjadi selangit.
Kalau DVD itu digarap serius, masih lumayanlah. Tapi, coba, simak DVD Beck. Isinya cuma klip. Di situ Beck mangap-mangap sembari tekjing-tekjing mengikuti audio yang sudah ada di keping CD-nya. Begitu pula Phish dan String yang album audio terbaru mereka dibendel dengan DVD dokumentasi visual penggarapan album-album itu.
Alhasil, konsumen yang hanya pingin beli CD doang, terpaksa merogoh kantong lagi gara-gara DVD itu. Tapi sekiranya di luar sana beredar album yang berisi CD tok – tanpa DVD – maka ceritanya jadinya kembali lagi ke pedagang Melayu. Mereka seenaknya mengimpor produk bendelan mahal, yang sebagian isinya cuma DVD gombal.
biasa, akal-akalan dagang. anggap saja, kalau dulu, (misalnya lho) beli femina dapat pc magazine karena penerbitnya sama.