Bah Reggae

Di Situ Tak Ada Pontius Pilatus

Banyak pilihan belum tentu tak bikin pusing. Ini juga berlaku di CD, utamanya CD impor. Selain menjamurnya artis baru – artis lama (atau karya lama) juga banyak bermunculan lagi – harga CD pun lumayan bikin enek, seperti yang dikeluhan mas Pur si “kunangkunang” di blog sebelah itu.

Memang, di pasar, ada juga CD-CD dengan harga tak semangkean. Misalnya, Bjork (Volta, 2007), Whitest Boy Alive (Dream, 2006), Thom Yorke (The Eraser, 2006) dan Mars Volta (Bedlam in Goliath, 2008). Juga aneka album “legend” artis-artis “lama” yang harganya lebih semanak lagi. Inilah “CD lokal”. Harga dan produksi lokal, artisnya impor. Baguslah.

Tapi di luar itu, di banyak toko, CD-CD berlabel “impor” harganya dikerek “selangit”. Kalau kita bisa selektif, maka “aman”-lah. Celakanya, yang namanya kuping – seperti pula lidah dan mata – terkadang meminta terlalu banyak. Akibatnya, kepala cenut-cenut. Atau, perut jadi sering mules akibat represi yang dipaksakan, sementara sublimasi terbatas pula.

Untungnya, atas nama kuping jahat itu, ada satu hal yang kiranya perlu dicatat, yakni bahwa “langit-langit” masing-masing toko CD tidaklah sama. Artinya, bandrol mahal CD-CD impor dagangan mereka bisa berbeda-beda.

Barang di Musiklub, misalnya, umumnya lebih mahal ketimbang toko lain. Coba bandingkan bandrol Yes, Jethro Tull, King Crimson, atau Gentle Giant yang juga banyak dijual di Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara. Menurut saya, langit-langit toko CD yang hanya ada di Pondok Indah II itu mirip langit-langit Musik+ dan Hard&Heavy (Plaza Dago).

Tapi, celakanya, sangat sering, apa yang ada di toko-toko CD mahal itu belum tentu ada di toko lainnya. Atas CD-CD yang semacam inilah, konsumen akan kesulitan untuk membandingkan harga. Kesulitan itu akan jadi amat sangat ekstrem ketika konsumen masuk di Aksara (Citos/Kemang), yang dagangannya umumnya khas dan tak ada di tempat lain.

Iseng-iseng saya pernah nanya ke Aquarius Pondok Indah dan Duta Suara (Sabang), mengapa mereka tak “on-line”, seperti, misalnya HMV itu. Dan jawaban mereka benar-benar menghenyakkan. “Kalau kami online berarti kompetitor kami akan tahu apa saja yang kami jual dan berapa harganya”. Alamak!

Dengan kondisi pasar yang jahiliyah begitu, maka tak ada cara lain kecuali konsumen yang harus rela serela-relanya menderita. Alternatif lain, World of Music (Artha Gading. Taman Anggrek, Citraland, dan Mal Pluit). Di situ ada CD impor dengan harga “lama”. Tapi, ini jelas hanya sementara sifatnya, selain pilihannya pun terbatas untuk tak menyebutnya memprihatinkan.

Jika berkenan menunggu konsumen lain bosan, maka tersedia pula Jl Surabaya, Menteng. Kalau beruntung, setelah keringet dleweran tentunya, di situ kita bisa beroleh CD impor yang jauh lebih murah ketimbang di toko-toko mentereng.

Dan yang lebih penting lagi, di Jl Surabaya, tak ada Pontius Pilatus – kecuali Opung yang tokonya ber-AC itu – yang sama sekali tak memperkenankan konsumen menawar bandrol yang telah dipasang di setiap kemasan keping CD.

3 Responses to “Di Situ Tak Ada Pontius Pilatus”

  1. puron 19 Feb 2008 at 9:17 pm

    ya, musiklub memang pasang harganya sampai langit… ketujuh, barangkali, ya. banyak album yang sebetulnya saya incar. akan tetapi, berhubung saya masih memelihara rasa gentar menghadapi harga yang jahiliyah, ya, terpaksa saya lewatkan saja.

    dulu saya merasa duta suara di plaza senayan sudah cukup memenuhi kebutuhan saya. koleksi album-album lamanya oke (pernah ada sederet lengkap album frank zappa, grand funk, uriah heep, van halen). update new releases-nya juga menggiurkan. tapi belakangan ini kok rasanya memble. telat terus.

    ke toko-toko lain hanya kalau sempat, atau kebetulan lewat. jarang sekali saya sengaja bersusah payah ke toko-toko lain. untuk rilisan baru yang saya perkirakan bakal lama masuk di toko-toko di jakarta, saya beli ke amazon.com. tapi ini juga tergantung kondisi kartu kredit yang biasa saya pinjam untuk belanja di sana. celakanya begitu… :-)

  2. d3peon 27 Jun 2008 at 2:59 pm

    lg googling nemu tulisannya si mas ….

    berdasarkan pengalamanku mas, selama ini ternyata banderol cd ga pasti sama, bahkan yang satu bendera sekalipun ….
    aku pernah nemu CDnya swingout sisters yg selftitled ….

    di Dutasuara Summarecon Mall Serpong harganya Rp. 80.000
    besoknya pas jalan-jalan ke Supermall Karawaci, aku nemu yang harganya Rp. 35.000

    padahal sama2 produksi baru, dan sama2 produksi lokal ….
    so, apa yang bikin beda kalo bukan target market ….

    biasanya sih, toko cd yang lengkap banget udah pasti harga dagangannya selangit … karena target market mereka yang collector *baca : ga masalah sama uang* ….

    kalo aku sih gampang aja, sering-sering hunting ke toko CD berharap dapet CD yang harganya lebih murah … :)

    **** Oh ya? Sama2 dutasuara? Wah, asyik juga. Thx (Bah Reggae).

  3. Kristantoon 09 Sep 2008 at 2:26 pm

    Betul kata mas, urusan kuping emang kadang-2 bikin kita ngerogoh kantong lebih dalam.
    Jum’at kemarin kita mampir ke aquarius pd. indah, eh ada albumnya Porcupine Tree “in absentia” (special edition), di labelnya tertulis $31.3. Beli nggak ? Ngga ? Beli akhirnya. Wah, aquarius tau aja nih dollar lagi gonjang-ganjing, jd gak berani ngasih harga rupiah.
    Anyway, kalau pas mujur, aquarius suka release album2 top, kayak Dream Theater dgn harga rp.75rb sd rp.85rb-an. Jadi inget albumnya Slade : “Till Deaf Do Us Part !!!” GBU…

    Hahaha betul, mas, till deaf do us part (bah reggae).

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply