Feb 23rd, 2008
Buku Kesusu
Jarang ada pedagang pisau yang secara demonstratif menunjukkan betapa tajam pisau dagangannya. Biasanya, ia cukup memperlihatkan ke (calon) konsumen bahwa yang dijualnya adalah pisau beneran. Ia tak perlu memotong benda-benda di sekitar hanya agar konsumen percaya bahwa pisaunya dahsyat.
Tapi lain pedagang pisau, lain pula Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto dkk dalam berbagai tulisan mereka yang dikemas dalam buku “Teori-teori Kebudayaan”, terbitan Penerbit Kanisius, 2005.
Selain tak bisa dinikmati sambil ongkang-ongkang, para penulis buku itu terkesan terlalu bernafsu menunjukkan contoh kehebatan “pisau” kebudayaan, termasuk pula pop. Kupasan teoritis belum begitu rampung, tapi mereka sudah tak sabar memakainya untuk membedah berbagai hal di negeri ini yang mereka anggap layak untuk dibedah.
Kesusu. Ini mungkin sama kesusunya dengan buku terbitan Penerbit Kanisius lainnya, seperti “Menyeberangi Sungai Air Mata” (Antonius Sumarwan, 2007) itu. Buku ini dimaksudkan mengungkap penderitaan dan upaya rekonsiliasi para korban kebencian massal tragedi September 1965, yang sering serampangan disebut sebagai G 30S PKI itu.
Aneka cerita para korban di buku ini tak semua berhasil mengungkap penderitaan itu. Apalagi jika kemudian diloncatkan ke upaya rekonsiliasi segala. Namun, buku ini berhasil menjejali pembaca dengan renungan–renungan penulis atas penderitaan itu. Bisa jadi pembaca akan megap-megap. Tapi begitulah kesusu. Dimana pun selalu seperti itu.