Bah Reggae

Thanks Gus

Mungkin benar, hidup bagai air. Dibendung di sini, keluar di sana. Cari jalan lain. Bahkan ketika bendungan itu lenyap tak serta-merta jalan lain itu lalu ditinggalkan. Setidaknya kenangan buruknya masih kuat terpatri di benak.

Kenangan itu melanda cik Hwa-hwa ketika kemarin sore ia masuk Karawang. Di jalan protokol kota kecil itu ada kemacetan luar biasa. Tumpah ruah. Arakan “cina”, barongsai dan naga. “Tepekong”, “dewa uang” dan entah apalagi. Drumband dan perkusi. Angpau. Cap Go Meh. Imlek. Hari terakhir Gong Xi Fat Chai.

Di saat-saat seperti itu, perempuan itu ingat Gus Dur, pendobrak “bendungan” itu. Tapi, ia juga sewot dengan kemacetan itu. Hura-hura yang selalu membuatnya kebelet pipis. Suatu hal yang tak bisa ia lakukan di dalam mobil. “Gila! Macet!. …. Rumahmu masih jauh?”, teriaknya di ujung telepon.

Ia juga kangen ke-2 anak perempuannya. Penghangat rumah yang tiba-tiba saja ia lempar ke suatu tempat yang ia sendiri – juga suaminya, papa-mamanya, dan bahkan keluarga besarnya – belum pernah ke sana. Satu di Perth. Satunya lagi di Sydney. Dua kota yang jauhnya tak selemperan batu dari Pluit rumahnya.

Menyesalkah ia memaksa ke-2 anaknya itu sekolah di sana? Entahlah. Yang pasti, itu terjadi sebelum kiprah Gus Dur. Ketika itu Jakarta barusan diporak-porandakan. Siapa bertanggung jawab, sampai kini tak juga jelas. Tapi ia tak begitu ambil peduli.

Ia hanya ingat, bahwa bagaimana pun mereka adalah anak-anaknya. Dan ia adalah seorang ibu. Cuma itu. Ia tak menyesal tak sempat bercerita pada anaknya, sejak kapan, mengapa dan untuk apa “bendungan” itu ada.

Ia berharap, seperti yang juga diharapkan papa-mamanya, sekolah-lah yang mestinya menjawabnya. Tapi sampai dengan ketika pasukan keamanan malah di tarik dari Jakarta yang sedang membara di Mei 1998 itu, ia yakin, para guru pun tak bisa memberi jawaban yang memuaskan.

Selain uang dan doa, entah sudah berapa buku tentang Gus Dur yang ia kirim ke anak-anaknya. Ada juga Tempo edisi “mata menangis”, dan buku tebal Benny G Setiono, “Tionghoa dalam Pusaran Politik”, yang belakangan bisa di-download itu.

One Response to “Thanks Gus”

  1. Mas Kopdangon 27 Feb 2008 at 9:09 am

    Air jangan sampai kelamaan masuk peti es..
    nanti membeku dan susah cair..
    ;)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply