Bah Reggae

Tommy

Kutitipkan bangsa ini padamu. Ini kata-kata si Bung. Konon, di saat-saat terakhir di RSPP itu, bapaknya, sambil menunjuk dirinya, juga sempat menyitir omongan si Bung itu sebagai pesan terahir pada sejumlah orang. Hanya saja , bapaknya mengimbuhkan huruf “t” di belakang kata “bangsa” itu.

Mungkin pesan bapaknya itu suatu bentuk pengakuan bahwa ia memang anak istimewa. Kakinya saja dahsyat. Gara-gara kakinya tersiram air panas, PKI diburu dan sang bapak bisa jadi orang nomor satu di negeri ini selama puluhan tahun. Coba, dulu, di penghujung September 1965 itu, sang bapak tak ambil peduli pada kaki itu, dan segera menindak-lanjuti saja laporan Kolonel Latief.

Maka ketika belakangan ini ia menolak sebagai ahli waris perkara bapaknya, kiranya itu hanya contoh kecil lain betapa benarnya omongan bapaknya itu. Ia memang “bangsa” dengan imbuhan “t”. Dan karena itu ia menjadi sangat istimewa.

Ia mungkin seperti Tommy, album The Who (1969) itu. Anak abnormal yang menolak dijadikan seperti orang normal umumnya. Justru karena abnormal itulah, ia menganggap orang lain-lah yang semestinya memahami dirinya, bukan sebaliknya. “See me, feel me, touch me, heal me”, begitu katanya berulang kali.

Di Pinball Wizard yang asyik itu, Tommy bilang, “Ever since I was a young boy/I’ve played the silver ball… I must have play them all/But I ain’t seen anything like him”. Di I’m Free ia juga bilang, “I’m free/And freedom taste of reality”. Malah, katanya di Welcome, “Come to my house/Be one of the comfortable people…/We’re drinking all night/Never sleeping”.

Semula Tommy adalah sesuatu yang ditertawakan banyak orang. Tapi kemudian ia dianggap istimewa. Ia tak hanya menjadikan The Who berubah berorientasi ke album – dari sebelumnya yang hanya berkiprah lewat single – tapi juga sebagai inspirator berbagai rock opera. Ada Quadrophenia (The Who, 1973 ).

Ada pula Jesus Christ Super Star/JCSS (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice, 1973). Niki Kosasih – jauh sebelum Saur Sepuh meledak dan beda keyakinan tak sesensitif sekarang – pernah mengadaptasi JCSS untuk acara kebaktian Paskah di gereja di pinggiran Yogya. Harry Rusli juga menelorkan Ken Arok (1975), sebelum rock-gamelan Titik Api (1977).

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply