Archive for March, 2008

Bah Reggae

Dokter Cowboy

Rumah sakit (RS) mungkin bisa disamakan dengan penjara. Tak semua konsumen beruntung keluar dari situ dalam keadaan yang lebih baik ketimbang ketika ia masuk. Tak sedikit konsumen yang kemudian menjadi tambah buruk atau malah meninggal.

Dan eloknya, ketika yang buruk itu terjadi, sama persis dengan entitas sontoloyo lainnya di negeri ini, pihak RS pun akan terampil mengklaim bahwa konsumennya telah diperlakukan sesuai dengan prosedur. Suatu mantra ajaib yang melindungi dokter-dokter cowboy.

Malah tak jarang para cowboy itu masih juga bergaya bak rohaniawan soleh lewat berbagai argumen religius segala. ”Kami sudah berusaha maksimal, tapi semuanya Tuhanlah yang menentukan”.

Soal kemungkinan terjadi malpraktek? Silakan tanya saja ke Irwanto, salah satu dari sedikit cendekiawan berotak yang saat ini sebagian tubuhnya lumpuh total itu, bagaimana ia frustrasi dan keloro-loro ketika ia habis-habisan nekat memperkarakan RS yang ia anggap telah mencelakakannya.

Pasrah. Mungkin itulah kata kunci yang mesti diproduksi banyak-banyak oleh konsumen manakala yang buruk-buruk itu akhirnya terjadi.

Beberapa dokter dan jurnal – misalnya saja Efusi Pelura Masih (Sugito LS Soeroso dkk) dan Efusi Pleura Keganasan (Bambang Kisworo) — menyatakan, pengambilan cairan pleura (paru yang terendam), apalagi dengan metoda Water Seal Drainage (WSD), tak bisa dilakukan sekaligus dan sebanyak-banyaknya.

Pengambilan harus dilakukan secara bertahap dan sedikit-sedikit. Itu untuk mencegah terjadinya endema paru akibat pengembangan paru secara mendadak karena pengambilan cairan pleura itu. Bahkan menurut Sugito dkk, yang penting cairan dikeluarkan dengan lambat tapi sempurna.

”Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus. Selang [WSD] dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru,” begitu kata Sugito dkk lebih lanjut.

Tapi, mungkin, itu belum menjadi kesepakatan umum. Artinya, masing-masing dokter (apalagi jika ia cowboy) bisa saja memiliki pertimbangan lain sehingga mereka bisa mengesampingkan omongan Bambang dan Sugito itu.

Begitulah. Setelah drainase dilakukan dalam jumlah besar (1,500 ml) dan sekaligus, pasien benar-benar kolaps dan akhirnya meninggal. Maka dokter Iswanto SP.P, FCCP, ahli paru di Pantirapih, RS top di Yogyakarta itu, kemudian menyatakan, ”Kami sudah berusaha maksimal, tapi semuanya Tuhanlah yang menentukan”.

Bah Reggae

Keindahan Musik Katok

Bukan cuma katok saja yang bisa gojak-gajek. Panjang nggak, pendek bukan. Di musik pun, menurut mereka yang kadar ledeknya keterlaluan, ada yang mirip katok itu. Bukan rock, bukan pula pop. Lalu dengan seenaknya mereka bilang itu slow rock. Dan celakanya, atau untungnya, diamini banyak orang.

Tapi, apapun itu, yang namanya keindahan, tetap saja ada di mana-mana. Tak peduli ia katok atau bukan. Ini mungkin hukum besi. Hukum besi inilah yang kiranya (pernah) menyertai Richard Marx, Brian Adam dkk.

“I hear your voice on the line/But it doesnt stop the pain….Wherever you go/Whatever you do/I will be right here waiting for you,” begitu kata Richard Marx suatu kali di Right Here Waiting yang pernah ngetop itu.

Tapi, tunggu dulu. Kalau cuma gara-gara lirik kemudian dicap katok, di Led Zeppelin pun, yang dianggap sebagai hard rock itu, lirik seperti itu juga banyak berhamburan.

Misalnya di The Crunge — yang bersama The Ocean membuat album Houses of the Holy (1973) terasa lebih funky ketimbang album Zeppelin yang lain itu — dikatakan, “I wanna make her mine/Tell me baby what you want me to do/You want me to love you. Love”. Belum lagi lirik di beberapa nomor blues standard Zeppelin.

Tapi, memang, kegembiraan, apalagi keharuan, di berbagai nomor musik katok tampaknya bisa tampil secara lebih meluap-luap. Simak misalnya di Don’t Let Go-nya Brian Adam itu. Apalagi sambil menonton Spirit — film animasi yang disoundtrackinya – ketika kebahagiaan tiba-tiba saja berubah menjadi cerita tentang kesedihan.

Bah Reggae

Bom

Mulutmu harimaumu. Itu untuk menggambarkan kekuatan kata yang bisa menjadi bom bagi pengucapnya sendiri. Kata-kata memang bom. Bahkan sekali pun ia hendak dibebaskan dari artinya, ia tetaplah bom.

Rendra pernah membuktikan lewat drama “minikata” sekembalinya dari Amerika. Rambate raterata. Rambate raterata. Demikian kata-kata yang diulang-ulang di panggung sampai pertunjukan itu bubar. Dan negeri inipun rasanya dibom. Kemudian bom terjadi lagi ketika Sutardji Calzoum Bachri mengumandangkan kredonya.

Bom itu hari ini lewat Kompas di halaman 6 kembali berulang. Tak hanya lewat paparan terang benderang L Wilardjo (Bom-A, Jihad, dan Indonesia) tentang teknis membuat bom, tapi juga kata-kata yang dipakai dalam paparannya itu.

Seasing-asingnya apa itu U-235, Pu-239 sampai dengan Pu-240, kiranya mereka masih bisa dilacak, misalnya, di kamus istilah kimia. Tapi, “kemuhalan”, “emparan, “diempar”, “teralan”? Inilah kiranya bom itu.

Bom yang memekakkan bagi kebiasaan berucap selama ini. Tapi bisa juga itu bukan bom. Cuma petasan saja. Pasalnya, pinjaman atau punya sendiri, it’s OK. Apapun yang dipakai, sekali pun itu pinjaman, sejauh komunikasi bisa jalan, kata banyak orang, di hari gene, itu bukan persoalan.

Next »