Mar 31st, 2008
Dokter Cowboy
Rumah sakit (RS) mungkin bisa disamakan dengan penjara. Tak semua konsumen beruntung keluar dari situ dalam keadaan yang lebih baik ketimbang ketika ia masuk. Tak sedikit konsumen yang kemudian menjadi tambah buruk atau malah meninggal.
Dan eloknya, ketika yang buruk itu terjadi, sama persis dengan entitas sontoloyo lainnya di negeri ini, pihak RS pun akan terampil mengklaim bahwa konsumennya telah diperlakukan sesuai dengan prosedur. Suatu mantra ajaib yang melindungi dokter-dokter cowboy.
Malah tak jarang para cowboy itu masih juga bergaya bak rohaniawan soleh lewat berbagai argumen religius segala. ”Kami sudah berusaha maksimal, tapi semuanya Tuhanlah yang menentukan”.
Soal kemungkinan terjadi malpraktek? Silakan tanya saja ke Irwanto, salah satu dari sedikit cendekiawan berotak yang saat ini sebagian tubuhnya lumpuh total itu, bagaimana ia frustrasi dan keloro-loro ketika ia habis-habisan nekat memperkarakan RS yang ia anggap telah mencelakakannya.
Pasrah. Mungkin itulah kata kunci yang mesti diproduksi banyak-banyak oleh konsumen manakala yang buruk-buruk itu akhirnya terjadi.
Beberapa dokter dan jurnal – misalnya saja Efusi Pelura Masih (Sugito LS Soeroso dkk) dan Efusi Pleura Keganasan (Bambang Kisworo) — menyatakan, pengambilan cairan pleura (paru yang terendam), apalagi dengan metoda Water Seal Drainage (WSD), tak bisa dilakukan sekaligus dan sebanyak-banyaknya.
Pengambilan harus dilakukan secara bertahap dan sedikit-sedikit. Itu untuk mencegah terjadinya endema paru akibat pengembangan paru secara mendadak karena pengambilan cairan pleura itu. Bahkan menurut Sugito dkk, yang penting cairan dikeluarkan dengan lambat tapi sempurna.
”Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus. Selang [WSD] dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru,” begitu kata Sugito dkk lebih lanjut.
Tapi, mungkin, itu belum menjadi kesepakatan umum. Artinya, masing-masing dokter (apalagi jika ia cowboy) bisa saja memiliki pertimbangan lain sehingga mereka bisa mengesampingkan omongan Bambang dan Sugito itu.
Begitulah. Setelah drainase dilakukan dalam jumlah besar (1,500 ml) dan sekaligus, pasien benar-benar kolaps dan akhirnya meninggal. Maka dokter Iswanto SP.P, FCCP, ahli paru di Pantirapih, RS top di Yogyakarta itu, kemudian menyatakan, ”Kami sudah berusaha maksimal, tapi semuanya Tuhanlah yang menentukan”.