Archive for April, 2008

Bah Reggae

Pesta Kere

Ke-2nya dikenal sebagai orang-orang santun. Tapi mungkin justru karena itulah SBY dan Wiranto jadinya terkesan berantem. Kalau saja mereka sedikit pencilakan, gondrong dan ngeband, belum tentu mereka harus ngotot-ngotan berebut klaim siapa yang paling benar ketika bicara tentang si miskin.

Jadinya, misalnya, Wiranto bisa lebih berkonsentrasi untuk mengemas dengan lebih baik lagi argumen-argumennya bahwa dirinya dan koleganya tak perlu harus direpotkan oleh Komnas HAM. SBY juga punya waktu bagaimana menaikkan harga BBM dengan mak nyus, tanpa harus mengkambinghitamkan subsidi, sekaligus tanpa perlu pula mengutik-utik sumber persoalan BBM yang selama ini tak pernah disentuh.

Tapi, memang, miskin itu sexy. Dari dulu banyak orang tertarik dan bicara tentangnya. Rolling Stones bikin album Beggar’s Banquet segala. Di Street Fighting Man, nomor asyik di album yang dirilis 1968 itu, Jagger dkk malah menganggap tak perlu revolusi, jika di hajatan itu para kere tak dapat tempat. Lebih baik ngeband saja.

Hey! Think the time is right for a palace revolution/But where I live the game to play is compromise solution/Well, then what can a poor boy do/Except to sing for a rock ‘n’ roll band……. Hey! Said my name is called disturbance/I’ll shout and scream/ I’ll kill the king/I’ll rail at all his servants…

Lewat Lady Madonna, The Beatles juga mengagumi kere. John Lennon dkk yang sudah gondrong dan menjadi pencilakan itu tak habis pikir bagaimana mungkin perempuan itu sendirian bisa menghidupi sekian jiwa yang menjadi tanggungannya.

Lady Madonna, children at your feet/Wonder how you manage to make ends meet/Who finds the money?/When you pay the rent?/Did you think that money was heaven sent?/Friday night arrives without a suitcase/Sunday morning creep in like a nun/Mondays child has learned to tie his bootlace/See how they run.

Begitulah pop. Klaim kekaguman dan keprihatinan pada kere menjadi ramai berseliweran. Yang satu ngomong begini, yang lainnya begitu. Macam-macam. Tapi itu tak menjadikan para pedagang kere saling berantem. Bahwa sekarang pada berantem, mungkin Chairil Anwar benar: Yang bukan seniman [semestinya] dilarang ikut.

Bah Reggae

Kambing Hitam Itu Bernama Subsidi BBM

Hari-hari di negeri ini adalah hari-hari kambing hitam. Kali ini, kambing itu bernama subsidi BBM. Namanya saja kambing. Jelas, ia tak bisa membela diri. Tapi justru karena itulah jadinya bagus. Persoalan jadi tampak sederhana. Dengan begitu, selain dirinya yang hitam itu, tak ada persoalan lain yang perlu dipersoalkan lagi.

Maka lancar dan rancakbana-lah aneka klaim itu. Yang lagi laris dan digemari banyak orang adalah ini. Gara-garanya, harga BBM di pasar dunia naik gila-gilaan. Jadinya, karena kita adalah ”net importir” minyak, impor lebih besar dari ekspor, maka dana subsidi BBM — agar harganya ”terjangkau” — pun membengkak.

Akibatnya, untuk menutup pembengkaan itu, alokasi dana untuk berbagai ”keperluan lain” harus dipotong. Pemotongan ini sudah dilakukan. Dan itu sudah dianggap maksimal. Kalau harus dipotong lagi, dikhwatirkan, program lain tak akan jalan. Ini bahaya.

Tapi, apa saja keperluan lain yang sudah dipotong itu? Macam-macam. Tapi yang jelas, nah ini dia, bukan dana untuk mbayar utang luar negeri dan bunga obligasi untuk keperluan rekapitalisasi bank. Ke-2nya dianggap harga mati. Tak bisa dikutik-kutik. Tak bisa dipersoalkan lagi.

Selain itu, pemerintah juga sudah gresek-gresek dari berbagai pos pendapatan. Angkanya sudah ketemu. Tapi itu pun sudah maksimal. Artinya, tak bisa dikutik-kutik lagi. Tak bisa dipersoalkan lagi. Harga mati juga terjadi di pos utang (luar negeri atau jual obligasi banyak-banyak). Pos ini sudah maksimal. Tak bisa ditambah.

****

Itu tadi APBN. Untuk menambal bengkaknya subsidi BBM, memang terlihat, tak ada satu pun pos yang bisa dikutik-kutik lagi. Tapi bagaimana dengan hal-hal lain di luar APBN? Lagi-lagi, nah ini dia.

Dalam menyusun APBN — pemasukan, pengeluaran, dan penutupan defisit – selama ini ada beberapa asumsi yang digunakan. Antara lain, PDB, inflasi, harga minyak, sukubunga, juga kurs Rp. Tapi, ada satu lagi yang juga penting, yakni, produksi minyak kita. Lebih seru lagi, realisasi produksi ini, selama ini selalu meleset. Kurang dari target.

Mengapa selalu meleset? Macam-macam alasannya. Misalnya saja, sumur minyak yang ada dianggap tua. Jadinya, kurang produktif lagi. Selain itu, peraturan minyak kita yang tak menarik bagi investor. Jadinya, investor males untuk mengoptimalkan sumur tua atau cari sumur lain.

Lalu apa yang sudah dilakukan untuk memperbaiki peraturan minyak kita agar investor jadi OK? Jawabnya, bisa dikatakan, praktis nggak ada. Malah pemerintah dan DPR ribut terus. Yang diributkan, apakah peraturan itu cukup direvisi saja atau dibongkar total. Yang pasti, apapun pilihannya, itu terkait dengan kewenangan Pertamina.

****

Bicara tentang kewenangan Pertamina, selama ini ada beleid ampuh yang sedikit banyak menjadikan urusan impor/ekspor minyak mentah sepenuhnya wewenang Pertamina. Banyak orang bilang, ini bukan dunia terang-benderang. Ada audit BPK? Detail? Walahualam.

Dan lebih serem lagi, soal itu sudah berlangsung lama. Karena sudah lama, bukan tak mungkin, bukan hanya polanya saja yang sudah kuat terbentuk, tapi juga para pihak yang terlibat di situ pun pasti bukan sembarangan. Artinya, jika dikutik-kutik, maka ia bisa bikin itung-itungan baru menyangkut dukungannya terhadap siapapun bos negeri ini.

Mungkin inilah harga mati juga. Maka kiranya wajar, jika yang tersisa kemudian dan bisa dikutik-kutik sekalian dijadikan kambing hitam tinggal subsidi BBM itu sendiri. Pos lain di APBN sudah harga mati, tak bisa dipersoalkan lagi. Begitu juga hal di luar APBN, utamanya dunia gelap yang langsung terkait dengan BBM itu.

Maka, jangankan SBY, Faisal Basripun tak berani mengusiknya. Tapi, yang mengherankan, Faisal sampai terkesan ikut-ikutan menjadi ”kompor” seperti yang umumnya dilakukan banyak orang. Katanya, ”Dengan menaikkan harga BBM, kita mengambil uang dari orang kaya untuk diberikan kepada si miskin”. Luar biasa.

Bah Reggae

Diskriminasi? So What Gitu Loh!

Ingat cerita ”orang & jagung” di Mati Ketawa Cara Rusia? Dikisahkan orang yang menganggap dirinya jagung. Jadinya ia takut pada ayam. Suatu kali ia berhasil diyakinkan dirinya bukan jagung. Ayam tak akan memakannya. Tapi, belakangan ia takut ayam lagi. Pasalnya, ia tak yakin, apakah ayam tahu bahwa dirinya bukan jagung.

Apakah si ayam lalu harus disadarkan agar jangan menakuti-nakuti? Buat apa! Biarin aja. Susah menghapus memori ayam. Apalagi perilaku ayam itu tak berdiri sendiri. Pasalnya, sedikit banyak selama ini ia diback-up oleh penggalangan anggapan – lewat berbagai statemen petinggi dan kebijakan – yang menganggap orang itu memang jagung.

Karenanya, yang lebih penting, bagaimana menterapi orang itu, agar yakin bahwa dirinya bukan jagung. Bagaimana tabiat ayam, bukan persoalan utamanya. Latar belakang yang mengepung dan mungkin saja menjadi teror, iya. Tapi itu bukan untuk tidak disiasati. Terlebih lagi, siasat pun bukan seperti siasat yang selama ini umumnya dilakukan, tapi sudah saatnya perlu siasat baru.

Chokin? So What Gitu Loh! bicara tentang siasat baru itu. Bunga rampai yang juga dijuduli Pemikiran Tionghoa Muda (Komunitas Bambu, 2008) ini menganggap bahwa pasifisme bukan sebagai satu-satunya ”protokol keselamatan”.

Kiat ”cepat mengalah, bersembunyi, serta mencari perlindungan”, seperti yang selalu diajarkan genenerasi tua, mungkin saja sampai sekarang masih tetap saja laris. Tapi semestinya ia bukan satu-satunya. Apalagi, sangat bisa jadi, justru protokol keselamatan yang seperti itulah yang selama ini menyuburkan diskriminasi.

Jadinya, klop. Komplit. Sesuatu yang salah – diskriminasi itu — disikapi dengan cara yang salah pula oleh para ”korban” diskriminasi. Yang lebih seru lagi, para korban itu juga beranggapan, mempersoalkan kesalahan itu justru akan merugikan komunitas Cina sendiri. Diskriminasi bukannya berkurang, tapi dikhawatirkan malah akan menjadi bertambah lebih buruk lagi.

Maka bisu kemudian menjadi emas. Pasifisme menjadi satu-satunya yang mungkin. Tapi untunglah, ada anak-anak muda ini. Di bunga rampai ini, mereka cas-cis-cus membongkar mitos banyak hal. Kebijakan afirmatif (pemberdayaan pribumi), ”konglomerat Tapos”, asimilasi, dan aneka hal lain yang tak sekadar menangisi sejarah kambing hitam Cina ataupun kerusuhan Mei 1998.

Hanya saja, yang sangat mengganjal adalah diikutkannya beberapa artikel Ignatius Haryanto dalam buku dahsyat ini. Kalau pun idenya tentang banyak hal di luar soal Cina dianggap cemerlang, kenapa tak dibikin buku tersendiri? Dengan begitu, bunga rampai ini tak perlu repot-repot pinjam ”protokol keselamatan” lama: ”tak ada gading yang tak retak”.

Bah Reggae

Gimmick Sukarela

Nylekit pol-polan. Begitulah Adorno. Menurutnya, detil musik pop bisa dicomot dan dipindah ke atau dari satu lagu dengan lagu lainnya. Bahkan, katanya, dengan cara itu bisa juga jadi lagu baru. Ini bedanya pop dengan klasik. Di klasik, detil itu menjadi milik lagu tertentu. Tak boleh (bisa) dipindah.

Ketimbang bilang nggak bisa terima, mending saya milih nggak paham saja dengan klaim Adorno itu. Tapi, mungkin karena tak rigid itulah, di pop lalu ada orang-orang seperti Weird Al Yankovic, yang mendagangkan parodi seperti yang dilakukan pedagang ”Republik Mimpi”, baik versi pionirnya maupun followersnya, itu.

Hanya saja, bedanya, di aneka karyanya, Yankovics tak memasang klaim dahsyat pendidikan politik segala. Jadinya, belum pernah ada cerita, ketika karyanya dikritik sebagian pasar, ia kemudian mencari dukungan para pesohor pasar atau menyebarkan isu serem bahwa kritik itu mengancam kebebasan ekspresi.

Cerita klaim dahsyat atau isu serem juga tak pernah terdengar dari The Panas Dalam. Semuanya mengalir begitu saja. Wong namanya saja pop. Ditolak di sini tak berarti di sana pun ditolak pula. Malah yang umumnya terjadi, penolakan itu jadi amunisi tambahan untuk semakin meledaknya suatu karya pop.

Artinya, gimmick pop tak mesti diciptakan oleh sang pedagang pop sendiri. Pasar pun, kalau berkenan, dengan sukarela akan membantunya. Misalnya lewat plesetan. Refrain Diana-nya Koes Plus diplesetkan menjadi ”Bunuh saja orang tuamu”. Mana Lagi-nya The Mercy’s jadi ”Manak Lagi”.

Lagu top Eddie Peregrima, yang di telinga Yogya antara lain terdengar sebagai ”Iki piye/Piye…Piye/Ogel-ogel” itu, sebagian liriknya juga pernah diplesetkan menjadi bagian dari, maaf, alat kelamin pria. Pringsi…, begitu jadinya. Tak Semua Laki-laki-nya Basofi Sudirman juga dibegitukan.

Cuma, sebenernya itu nggak jelas, apakah pasar yang bikin gimmick, atau Basofi sendiri yang artikulasinya tak jelas, terutama di bagian awal refrain lagu ngetop itu, ketika ia bilang, ”Contohnya aku …..” itu. Sepintas mirip anak-anak mengucapkan ”Kantore Bapak Gede” sembari memencet kedua pipi.

Bah Reggae

Publik Ora Sare

Ini jelas bukan urusan KPK. Cuma soal info dan sedikit kebaikan hati. ”Bos, datang sekarang aja. Besok ada razia, gue tutup,” begitu SMS dari Koh Joni pedagang CD/DVD bajakan itu. Maka konsumen merasa benar-benar dilayani. Dan, Koh Joni pun pasti bungah karena bisa terhindar dari razia.

Info memang bisa mengindikasikan kehati-hatian yang hasilnya bisa menyenangkan. Sultan pun begitu. Karenanya, suatu kali ia pernah menyatakan – dan kemudian diulanginya lagi di Pisowanan Agung – emoh mencalonkan diri di pemilihan Gub(ernur) DIY lewat pilkada.

Mencalonkan diri dan bertarung di pilkada, berarti Sultan otomatis mengakui di luar dirinya ada matahari lain. Ini jelas melanggar prinsip. Pasalnya, menurut Benedict Anderson, matahari itu hanya ada satu, yakni dirinya, dan itu tak bisa dibagi-bagi oleh atau untuk pihak lain.

Belum lagi jika di pilkada itu Sultan kalah. Ini bisa diartikan Sultan tak lagi ”titis” menjabarkan rumusan tradisi yang menyatakan, ”Ojo nganti kebentus ing mega. Ojo nganti kesandung ing rata”. Suatu kehati-hatian ekstrim. Yang rasanya nggak mungkin terjadi, tapi mesti dipertimbangkan: terbentur awan atau tersandung tanah yang rata.

Karenanya, apa yang semula dilakukan DPR – juga suatu jajak pendapat yang konon dilakukan jauh hari sebelum Pisowanan Agung – itu betul-betul asyik. DPR dan jajak pendapat itu tak berpretensi bicara soal kapasitas Sultan (laik atau tak laik), tapi langsung menyangkut sesuatu yang menohok dan ”njawani” banget, sekalipun dibungkus dengan istilah ”prosedur”.

Prosedur itu adalah, jabatan Gub/WagubDIY ditentukan lewat pilkada. Jabatan itu bukan lagi otomatis jatah Sultan dan Pakualam. Kalau (masih) berminat, silakan bertarung di pilkada. Ini, bagi Sultan, jelas tak mengenakkan. Karena itu berarti, matahari tak lagi tunggal. Juga, adanya kemungkinan ”kebentus ing mega” atau ”kesandung ing rata” tadi. Karenanya, kemudian digelar-lah Pisowanan Agung itu.

Bahwa belakangan kesannya DPR tak menggebu lagi menganggap prosedur itu sebagai harga mati – dan atas nama ”masa transisi” nampaknya masih akan menjatahkan jabatan itu bagi Sultan dan Pakualam – itu persoalan lain. Itu juga bukan suatu anti klimak. Pasalnya, tohokan itu sudah dilempar, kena dan telak. Juga njawani.

Yang juga persoalan lain, biasa, bukan klimak atau anti klimak, dan sedikit atau banyak nggak penting, adalah kesediaan Sultan, entah sebagai capres/cawapres untuk maju di pemilu mendatang. Ini juga njawani. Nylamur. Biasa. Mungkin ini kompensasi ketertohokan. Tapi, itu sah-sah aja. Demokrasi. Dan yang lebih penting lagi, publik ora sare.

Bah Reggae

Mbah Jenggot Nggak Laku

Udah nonton The Secret yang bajakannya laris banget itu?

Ini features yang bercerita tentang dahsyatnya kekuatan berpikir positif dan semacamnya. Memukau. Gde Parma, Laskar Pelangi, dan banyak cerita para “motivator” lainnya aja bisa bikin banyak orang terkiwir-kiwir, apalagi ini — The Secret – disajikan secara visual. Cara bertuturnya (editing) enak. Jadinya, kayak baca buku tapi visual. Pakai gelegar efek suara segala.

Gejala apa ya ini? Ketika ”praktis” semua hal akhirnya dikembalikan ke individu, tergantung pada bagaimana si individu menyikapinya, ini gejala apa yak? Malah, selain ada Gde Parma dll, juga The Secret itu, belakangan ini juga ada ”psychological well being”, atau ”soft skills” dll. Dan laris banget. Ini gejala apa yak?

Apakah ini bisa dianologikan dengan apa yang dikemukakan dalam artikel di Kompas (19/4/2008, hal 16), yang berjudul ”Christopher Silver, Pengagum Jakarta”. Di situ si Chris ini bilang, Jakarta memang macet. Tapi kalau kita mengenal jalan-jalan tikus, maka kita tak akan terjebak kemacetan. Jakarta nyaman. Begitu katanya.

Artinya, kemacetan itu bukan masalah, sejauh kita (individu) mengenali jalan tikus. Macet, karenanya, hanya menjadi problem bagi orang-orang tertentu. Yakni mereka yang tak mengenali jalan tikus. Mereka ini — kalau yang diomongkan The Secret, Gde Parma dll itu benar — adalah orang-orang yang bisa dikatakan tak mampu & tak mau mengembangkan potensi individualnya untuk keluar dari masalah.

Jadinya, ya itu tadi. Praktis semua hal dikembalikan ke individu. Bagaimana kita menyikapinya. Bukan macet yang salah, tapi individu sendiri yang tak mau & mampu menggali potensi individualnya untuk keluar dari masalah. Pasalnya, menurut si Chris, ada kok mereka yang merasakan bahwa Jakarta itu bukan ceita tentang macet, sejauh mereka berhasil menemukan jalan tikus.

Dulu, pernah ada istilah ”Individual Blame”. Nah, apakah istilah ini sekarang ini semakin populer dan laku? Apakah kelarisannya berjalan seiringan dengan digemarinya berbagai hal lainnya seperti ”just do it”, ”do it your self”, ”indie”, ”calon independen”, “blog”, ”enjoy aja” dll?

Kesannya, jadinya, tak ada yang salah dengan hal-hal yang berbau (lebih) makro. Semuanya tergantung pada bagaimana kita, individu, menyikapinya. Salah dalam bersikap itulah yang bikin kita sumpek. Jakarta pun jadi macet melulu. Jadinya, ya salahnya sendiri.

Paham ”salahnya sendiri” dan ”individual blame” itu juga laris karena disertai dengan solusi, kiat, dan gimana siasat canggih atas berbagai soal. Bahkan banyak orang yang kemudian menyatakan dengan sukacita, inilah modal sosial . Jadi, bukan cuma modal individual. Luar biasa.

Pantes yak ”Mbah Jenggot” dan orang-orang seperti Arief Budiman gak laku dan bangkrut.

Bah Reggae

Pindah Jalur. Ngeplang Nggak?

Di jalanan, orang bisa saja pindah-pindah jalur. Bahkan tak perlu kasih tanda sebelumnya. Was-wes was-wes. Terkesan seenaknya. Sebentar di situ, tiba-tiba di sana, lalu balik lagi di situ, dst. Melihat ini, belum tentu tak setiap orang tak akan pusing. Ada orang pusing yang diam aja. Ada pula yang lalu mengumpat, ”Gombal!”.

Tapi Koes Plus termasuk band yang tertib. Setiap pindah jalur ia selalu ngeplang. Ada plang pop melayu, keroncong, jawa, natal, qasidah dll. Tertib itu kemudian menular ke Panbers, The Mercy’s dan D’Lloyd. Mungkin inilah ketertiban pop yang hanya terjadi di negeri ini. Di tempat lain jarang ada ngeplang-ngeplangan seperti itu.

Led Zeppelin, misalnya. Band ini pindah jalur begitu saja lewat album Houses of The Holy (1973). Setelah itu, mereka kesana-kemari dan tak mau balik lagi ke jalur awal seperti di 4 album awalnya. Procol Harum ganti jalur di Broken Baricade (1971), dan ogah balik lagi ke jalur awal pra Broken.

Blur juga begitu. Tiba-tiba saja ada album Blur (1977), yang sangat beda dengan jalur (4 album) sebelumnya. Lalu kemudian ada 13 (1999) dan Think Thank (2003) yang hanya menegaskan bandnya Damon Albarn ini tak tertarik lagi ke jalur awal. The past is a goodbye, kata Crosby Stills Nash & Young.

Radiohead lebih kejam lagi. Jalur awal — Pablo Honey (1993) dan The Bends (1995) — yang mengorbitkan mereka tiba-tiba ditinggal lewat OK Computer (1997). Lalu, setelah itu, sangat kentara mereka hendak mengubur habis-habisan jalur awal itu lewat Kid A (2000), Amnesiac (2001), Hail to the Thief (2003) dan In Rainbows (2007).

Ada lagi, pindah jalur karena ikut-ikutan. Yes, tiba-tiba saja — mungkin setelah merasa tak mampu kembali ke jaman Fragile (1972), Close the Edge (1972), dan Tales from Topographic Oceans (1974) — mereka kemudian nekat dengan 90125 (1983). Di situ ada Owner of A Lonely Heart yang mirip banget band Polisi itu. Tapi Yes tak sendiri. Gentle Giant juga begitu. Lewat The Missing Piece (1977), mereka juga ikutan ngepunk.

Mungkin karena umur panjang, King Crimson dan U2, belakangan — setelah asyik di jalur lain – mencoba kembali ke jalur awal. Sampai-sampai di album ke-2 terahkir Crimson (The ConstruKction of Light, 2000) ada kemas-ulang nomor lama Larks’ Tongues in Aspic-Part IV segala.

Lewat How To Dismantle An Atomic Bomb (2004), utamanya di Vertigo, U2 terkesan hendak kembali ke jaman Boy (1980), October (1981) dan War (1983). Hanya saja, mungkin The Edge tak sepenuhnya bisa kembali ke jaman trilogi awal itu. Pasalnya, tangting-nya di situ tetap saja tang-ting baru, yang baru “ditemukan” sejak The Unforgettable Fire (1984).

Ada juga yang ”lucu-lucuan”. Apapun mobilnya, jalurnya nyaris tak beda dengan jalur mobil yang ia dikendarai sebelumnya. Phil Collins, misalnya. Solo-nya praktis tak beda dengan karyanya di Genesis paska Peter Gabriel. Tak sedikit juga yang kesulitan membedakan warna solo & side project personil Dream Theater dengan warna ketika mereka membawa bendera band progrock papan atas itu.

Tapi begitulah pop. Mau tertib, tak tertib atau lucu-lucuan, terserah. Bagi pop selalu saja ada pasar. Jika satu pasar menolak dan tak memperkenankan artis pindah jalur, selalu saja ada pasar lain yang mau menerimanya. Bisa dikatakan, pasar tak pernah mau pusing. Apalagi sampai menggombalkannya.

Hanya saja, saya tak tahu apakah itu juga berlaku bagi dagangan semacam Agum Gumelar. Mula-mula menteri, lalu tiba-tiba calon Presiden, kemudian ganti lagi ke Ketua KONI, dan terahkir calon Gubenur Jabar. Ada juga Kuntoro Mangkusubroto. Dari menteri, lalu mendown-grade diri – dengan alasan, biasa, ”amanah” – jadi Dirut PLN, lalu Ketua BRR Aceh.

Sjahrir juga mendown-grade diri luar biasa. Semula ia calon Presiden. Setelah kalah, kini ia berkenan jadi pembantunya SBY, sesama bekas calon Presiden yang pernah ditantangnya. Mungkin itu karena kebiasan: nantang itu bermanfaat. Dulu di jaman Soeharto, karena nantang, ia malah disekolahin ke Harvard.

Mungkin ini bukan pop lagi, tapi ”pup”. ”Ma, adik pingin pup…..”.

Bah Reggae

Burhan

Jadi, Burhanudin Abdullah hanya akan dikenang sebagai Gub(ernur) BI yang dipenjara karena urusan uang Rp 100-an milyar itu? Sesederhana itu?

Kiranya masih juga terlalu sederhana jika uang itu hanya dikaitkan dengan pertanyaan soal siapa lagi petinggi BI yang akan menyusul Burhan, atau kapan para penadahnya diungkap dan kemudian dipenjara pula.

Selama ini ramai dikabarkan, uang itu dikeluarkan untuk biaya perbaikan citra BI, yang rusak gara-gara beberapa mantan petingginya terjerat kasus BLBI, atau audit BPK yang selalu disclaimer. Hanya soal citra?

****

Kalau saja dipertimbangkan kapan uang itu keluar, dan lebih penting lagi, sedang ada apa waktu itu, maka akan segera terlihat, memang ada sesuatu yang mengusik BI, yang waktu itu sedang nyaman-nyamannya menikmati kewenangannya yang dijamin lewat UU 23/1999.

Usikan itu adalah kehendak untuk merevisi UU itu. Kewenangan BI hendak dipreteli. Pada saat itulah keluar uang Rp 100-an milyar itu, yang sebagiannya dimaksudkan untuk, bisa dikatakan, biaya ”perlawanan”.

Bahwa perlawanan itu akhirnya terkalahkan, lewat diberlakukan UU baru – UU 3/2004 — mungkin itulah politik. Ada kalah, ada menang. Ini soal biasa, dan nggak penting. Pasalnya, konon, ada yang lebih penting daripada sekadar soal kalah-menang, yakni, apa yang dipertaruhkan.

Dan menyimak berbagai klausul dalam UU baru itu kiranya bisa terlihat dengan terang benderang apa yang dipertaruhkan BI waktu itu dan mengapa ia melawan.

****

Seperti dikemukakan di postingan sebelumnya, UU baru itu menyatakan, BI tak lagi ngurusi bank. Soal ini OJK nanti yang ngurus, paling telat 2010. Konon, semula BI masih menawar, jangan ”paling telat”, tapi ”paling cepat” 2010. Tapi klausul ”paling telat” yang menang.

Karena ada OJK, kewenangan BI jadinya tinggal soal moneter, yang itungannya berdasar inflasi. Tapi, celakanya, yang nentuin (perkiraan) inflasi adalah pemerintah. BI harus ngikut. Padahal sebelumnya, BI bisa menentukannya sendiri yang belum tentu sama dengan inflasi versi pemerintah.

****

Pemretelan wewenang BI yang juga nggegirisi di UU baru itu adalah soal Lender of The Last Resort (LLR). Sebelumnya, soal ini full wewenang BI. Kapan dan bank mana yang harus dibantu sepenuhnya wewenang BI. Wewenang ini mutlak milik BI. Pemerintah (Depkeu) tak boleh ikutan.

Tapi lewat UU baru, kewenangan itu dibatasi. BI hanya berwenang sebagai LLR untuk bank yang kesulitan finansialnya tak dianggap mengganggu sistem perbankan keseluruhan. Jika dianggap mengganggu, itu akan diatur lewat UU, atau ditangani bersama BI dan Depkeu. Artinya, BI harus berbagi kewenangan dengan Depkeu.

****

Selain Depkeu, DPR pun makin menggerogoti kewenangan BI. Sebelumnya, DPR hanya berhak menilai kinerja BI secara umum. Tapi lewat UU baru itu, bukan hanya soal kinerja BI secara umum, tapi DPR juga berhak menilai kinerja Dewan GubBI.

Cakar DPR makin komplit lewat Badan Supervisi (BS) BI. Sebelumnya badan ini tak ada. Hebatnya, BS adalah unit di BI, dibiayai BI, tapi bukan BI yang menentukan personilnya, melainkan Presiden setelah DPR ok. Lebih serem lagi, tugas BS adalah membantu DPR mengawasi BI

Ini masih ditambah lagi soal Dewan Gubernur. Sebelumnya, DPR (bersama Presiden) hanya ikut campur dalam penentuan GubBI dan Deputi Senior. Tapi lewat UU baru itu, seluruh Dewan Gubernur adalah juga wewenang DPR. Ini juga berarti, intervensi parpol terbuka lebar.

****

Dengan aneka gerogotan yang diamini oleh UU baru itu, maka pertanyaannya, masih independenkah BI? Boleh jadi, soal inilah yang mengusik dan menjadi pertaruhan orang-orang seperti Burhanudin.

Artinya, ada sesuatu yang jauh lebih penting ketimbang sekadar soal citra, biaya yang milyaran, darimana sumbernya dan bagaimana sebaran uang itu. Bahkan sumpeknya dinding penjara sekalipun.

Jadi, benar gosip jalanan itu? Burhan bukan hanya bankkir, tapi juga politisi. Kalah menang soal biasa. Yang penting, apa yang dipertaruhkan. Dan karenanya, pahlawan bisa muncul darimana saja. Dari mereka yang menang ataupun mereka yang kalah. Benar?

Bah Reggae

Mana Ekspresimu

Mana ekspresimu? Begitu pertanyaan iklan rokok itu. Dan beberapa orang akan menjawabnnya dengan, ekspresiku adalah tanpa ekspresi. Yang kemungkinan menjawab seperti itu misalnya saja Murdiono, menteri jaman Soeharto itu.

Persis Murdiono, JJ Cale pun selalu dingin di setiap lagunya. Jangankan teriak, menggeram pun tak pernah. Maka bisa dimaklumi jika Cocain (Troubadour, 1976)-nya baru terasa geregetnya ketika disajikan Eric Clapton di album Slowhand (1977). Tak keliru jika kemudian terkesan Cocain itu milik Clapton.

Selain Clapton lewat daur-ulang Cocain itu, pertanyaan iklan rokok itu kiranya dijawab tuntas oleh Broery Pesolima. Di tangannya, ”semangka berdaun sirih” bisa menjadi menggetarkan. Jika orang lain yang bikin, belum tentu film pesanan itu – Pengkhianatan G30S/PKI – secara filmis bisa semempesona garapan Arifin C Noer.

To Love Somebody di tangan Eric Burdon juga terasa lebih ekspresif. Begitu pula ketika nomor manis Bee Gees ini dicover-version-in Janis Joplin. Dan memang, untuk urusan ekspresi, Joplin adalah jagonya. Simak kegetirannya di Summertime itu. Atau bungahnya yang meluap-luap di Me & Booby McGee.

Ekspresi pol-polan juga jadi dagangan Curt Kurt Cobain. Dan apa boleh buat Nirvana kemudian sekadar menjadi pengiring doang. Hanya untuk bilang ”Go away/Get away, get away, get away” — di Scentless Apprentice (In Utero, 1993) – ia harus mbeker-mbeker seperti itu. Padahal kalau di Srimulat cukup dengan, “Pergi…. gi, gi, gi …”.

Simak pula ekspresi dahsyat Cobain yang mirip kambing disembelih di Where Did You Sleep Last Night (Unplugged, 1994 ). Atau berbagai nomor di album lain (Bleach, 1989; Incesticide, 1992) yang susah ditemukan di Never Mind (1991) yang meledak itu. Entah mengapa, di Never Mind, ekspresi Cobain terkesan lebih jinak.

Bah Reggae

Pendekar Trembelane

Dihajar berkali-kali tapi tak juga mati. Begitulah pop. Kurang apa coba Bung Karno ketika ia melecehkannya lewat ngak-ngik-ngok. Ing atase Harmoko, sampai-sampai bisa menyebutnya sebagai cengeng. Budaya pun pernah diseret-seret Habibie ketika ia menghakimi musik rap. Tak sesuai dengan budaya bangsa, katanya.

Bukan saja orang luar, malah di antara sesama pedagang pop-pun saling hajar. Suatu kali para rocker mencap dangdut sebagai musik gombal. Beberapa pihak juga menganggap Kangen Band yang laris itu tak memenuhi standar pop. Indie pun sering dicibiri. Begitu pula aneka sinetron. Pendeknya, begitu gampang cap gombal dilabelkan.

Sekiranya pop maling ayam, tentunya ia sudah mati dihajar secara masif seperti itu. Untunglah pop bukanlah maling sekadar maling. Ia tak hanya berhenti pada mencuri kunci pintu aneka sekat dan membukanya lebar-lebar sebagai ruang baru, tapi aneka kritik terhadapnya pun dijadikan bumbu penyedap pop.

Pop jadinya mirip Sangaji, tokoh sentral di Bende Mataram-nya Herman Pratikto, yang rintisannya bersama dengan Kho Ping Ho sedikit banyak kemudian mengilhami Naga Sasra & Sabuk Inten (SH Mitaredja), Saur Sepuh (Niki Kosasih) dan Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto) itu.

Tak hanya semakin dihajar ia menjadi semakin liat. Tapi, pop juga mampu menyerap aneka hajaran berbagai pihak – internal dan eksternal — menjadi tenaga baru untuk memperluas ruang geraknya.

Yang anti-pop pun, oleh pop bisa dibikin menjadi lahan baru. Misalnya saja punk itu. Justru dilawan, pop menjadi tambah sakti. Apalagi kalau cuma menghadapi retorika larangan, cibiran, atau alamak (!) ketersinggungan keluarga yang dijadikan alasan DPR untuk menggugat lagu Gosip Jalanan, Slank, itu.

Pop juga menjadikan para pelawannya, seperti Herbert Marcus, Theodore Adorno, dan Max Hokheimer — atau orang-orang semacam Bre Redana yang tak henti-hentinya merewelkan sinetron, film, nyanyi-nyanyi dan acara lain di TV kita yang dianggap gombal — seolah berteriak di padang pasir.

Next »