Apr 10th, 2008
Prof atau Tak Tahu Diri?
Sampai sekarang saya masih merasa takjub dengan kemampuan melawak para pelawak top negeri ini. Tapi ini bukan tentang Roy Suryo, Juwono Sudarsono, atau Hendarman Supanji. Ini benar-benar soal pelawak semisal Basiyo, Joni Gudel, Gepeng, Parto atau Tukul.
Suatu kali, kepada HG Janarto, saya pernah bertanya, bagaimana pelawak top bisa sekonsisten itu dalam melawak. Apakah mereka pribadi yang penggembira? Mereka tak pernah merasa sedih, masuk angin, pusing mikirin dapur sehingga yang ada di benak mereka kesannya hanyalah bagaimana membuat orang terpingkal?
Entah apa jawaban Bung Jan waktu itu. Saya lupa. Tapi, SMS seorang teman pagi ini mengingatkan saya ke soal profesionalisme. Ini mungkin yang membuat seseorang akan berlaku sesuai profesinya tanpa peduli hal-hal lain yang kemungkinan justru bisa menganggu laku profesinya.
Intinya, maju terus pantang mundur. Mungkin begitulah Tempo. Majalah ini mengaku tetap bisa mengkritisi Lapindo, sembari tetap terus-terusan, entah sampai kapan, memasang iklan kedermawanan dan betapa tak-bersalahnya Lapindo. Simak jawaban gagah redaksinya ketika M. Ruslailang N (Balikpapan, Kaltim) mempersoalkannya:
”Sebagai media profesional, kami ingin menunjukkan bahwa Tempo menjaga betul ”pagar api” antara kepentingan bisnis dan kewajiban redaksi mencari kebenaran berdasarkan fakta. – Redaksi.” (Tempo, 3-9 Maret 2008, hal 6).
Hebat yak? Nggaklah, kata teman saya itu. Katanya, itu bukan profesionalisme, tapi nggak tahu diri. Ini persis wartawan amplop: terima amplopnya, tapi nyinyir jalan terus.
Sayangnya, teman saya itu hanya menjawab OK dan tak ngomong lebih lanjut ketika saya minta izin untuk merayakan analoginya yang asyik itu lewat postingan ini.
yg saya penasaran bgm rasanya pelawak itu seandainya penontonnya ndak ada yg tertawa
Pagar api..?
jadi inget Bung Andreas Harsono yang selalu bilang dua hal:
Pagar api dan Bi-line..