Apr 14th, 2008
Pendekar Trembelane
Dihajar berkali-kali tapi tak juga mati. Begitulah pop. Kurang apa coba Bung Karno ketika ia melecehkannya lewat ngak-ngik-ngok. Ing atase Harmoko, sampai-sampai bisa menyebutnya sebagai cengeng. Budaya pun pernah diseret-seret Habibie ketika ia menghakimi musik rap. Tak sesuai dengan budaya bangsa, katanya.
Bukan saja orang luar, malah di antara sesama pedagang pop-pun saling hajar. Suatu kali para rocker mencap dangdut sebagai musik gombal. Beberapa pihak juga menganggap Kangen Band yang laris itu tak memenuhi standar pop. Indie pun sering dicibiri. Begitu pula aneka sinetron. Pendeknya, begitu gampang cap gombal dilabelkan.
Sekiranya pop maling ayam, tentunya ia sudah mati dihajar secara masif seperti itu. Untunglah pop bukanlah maling sekadar maling. Ia tak hanya berhenti pada mencuri kunci pintu aneka sekat dan membukanya lebar-lebar sebagai ruang baru, tapi aneka kritik terhadapnya pun dijadikan bumbu penyedap pop.
Pop jadinya mirip Sangaji, tokoh sentral di Bende Mataram-nya Herman Pratikto, yang rintisannya bersama dengan Kho Ping Ho sedikit banyak kemudian mengilhami Naga Sasra & Sabuk Inten (SH Mitaredja), Saur Sepuh (Niki Kosasih) dan Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto) itu.
Tak hanya semakin dihajar ia menjadi semakin liat. Tapi, pop juga mampu menyerap aneka hajaran berbagai pihak – internal dan eksternal — menjadi tenaga baru untuk memperluas ruang geraknya.
Yang anti-pop pun, oleh pop bisa dibikin menjadi lahan baru. Misalnya saja punk itu. Justru dilawan, pop menjadi tambah sakti. Apalagi kalau cuma menghadapi retorika larangan, cibiran, atau alamak (!) ketersinggungan keluarga yang dijadikan alasan DPR untuk menggugat lagu Gosip Jalanan, Slank, itu.
Pop juga menjadikan para pelawannya, seperti Herbert Marcus, Theodore Adorno, dan Max Hokheimer — atau orang-orang semacam Bre Redana yang tak henti-hentinya merewelkan sinetron, film, nyanyi-nyanyi dan acara lain di TV kita yang dianggap gombal — seolah berteriak di padang pasir.