Bah Reggae

Mbah Jenggot Nggak Laku

Udah nonton The Secret yang bajakannya laris banget itu?

Ini features yang bercerita tentang dahsyatnya kekuatan berpikir positif dan semacamnya. Memukau. Gde Parma, Laskar Pelangi, dan banyak cerita para “motivator” lainnya aja bisa bikin banyak orang terkiwir-kiwir, apalagi ini — The Secret – disajikan secara visual. Cara bertuturnya (editing) enak. Jadinya, kayak baca buku tapi visual. Pakai gelegar efek suara segala.

Gejala apa ya ini? Ketika ”praktis” semua hal akhirnya dikembalikan ke individu, tergantung pada bagaimana si individu menyikapinya, ini gejala apa yak? Malah, selain ada Gde Parma dll, juga The Secret itu, belakangan ini juga ada ”psychological well being”, atau ”soft skills” dll. Dan laris banget. Ini gejala apa yak?

Apakah ini bisa dianologikan dengan apa yang dikemukakan dalam artikel di Kompas (19/4/2008, hal 16), yang berjudul ”Christopher Silver, Pengagum Jakarta”. Di situ si Chris ini bilang, Jakarta memang macet. Tapi kalau kita mengenal jalan-jalan tikus, maka kita tak akan terjebak kemacetan. Jakarta nyaman. Begitu katanya.

Artinya, kemacetan itu bukan masalah, sejauh kita (individu) mengenali jalan tikus. Macet, karenanya, hanya menjadi problem bagi orang-orang tertentu. Yakni mereka yang tak mengenali jalan tikus. Mereka ini — kalau yang diomongkan The Secret, Gde Parma dll itu benar — adalah orang-orang yang bisa dikatakan tak mampu & tak mau mengembangkan potensi individualnya untuk keluar dari masalah.

Jadinya, ya itu tadi. Praktis semua hal dikembalikan ke individu. Bagaimana kita menyikapinya. Bukan macet yang salah, tapi individu sendiri yang tak mau & mampu menggali potensi individualnya untuk keluar dari masalah. Pasalnya, menurut si Chris, ada kok mereka yang merasakan bahwa Jakarta itu bukan ceita tentang macet, sejauh mereka berhasil menemukan jalan tikus.

Dulu, pernah ada istilah ”Individual Blame”. Nah, apakah istilah ini sekarang ini semakin populer dan laku? Apakah kelarisannya berjalan seiringan dengan digemarinya berbagai hal lainnya seperti ”just do it”, ”do it your self”, ”indie”, ”calon independen”, “blog”, ”enjoy aja” dll?

Kesannya, jadinya, tak ada yang salah dengan hal-hal yang berbau (lebih) makro. Semuanya tergantung pada bagaimana kita, individu, menyikapinya. Salah dalam bersikap itulah yang bikin kita sumpek. Jakarta pun jadi macet melulu. Jadinya, ya salahnya sendiri.

Paham ”salahnya sendiri” dan ”individual blame” itu juga laris karena disertai dengan solusi, kiat, dan gimana siasat canggih atas berbagai soal. Bahkan banyak orang yang kemudian menyatakan dengan sukacita, inilah modal sosial . Jadi, bukan cuma modal individual. Luar biasa.

Pantes yak ”Mbah Jenggot” dan orang-orang seperti Arief Budiman gak laku dan bangkrut.

One Response to “Mbah Jenggot Nggak Laku”

  1. Mas Kopdangon 28 Apr 2008 at 1:27 pm

    modal sosial…??
    Hmm, sepakat.

    Orang Indonesya ituh sudah pinter dan rajin berkerja…
    namun untuk berkerja sama..sudah lupa!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply