Apr 28th, 2008
Diskriminasi? So What Gitu Loh!
Ingat cerita ”orang & jagung” di Mati Ketawa Cara Rusia? Dikisahkan orang yang menganggap dirinya jagung. Jadinya ia takut pada ayam. Suatu kali ia berhasil diyakinkan dirinya bukan jagung. Ayam tak akan memakannya. Tapi, belakangan ia takut ayam lagi. Pasalnya, ia tak yakin, apakah ayam tahu bahwa dirinya bukan jagung.
Apakah si ayam lalu harus disadarkan agar jangan menakuti-nakuti? Buat apa! Biarin aja. Susah menghapus memori ayam. Apalagi perilaku ayam itu tak berdiri sendiri. Pasalnya, sedikit banyak selama ini ia diback-up oleh penggalangan anggapan – lewat berbagai statemen petinggi dan kebijakan – yang menganggap orang itu memang jagung.
Karenanya, yang lebih penting, bagaimana menterapi orang itu, agar yakin bahwa dirinya bukan jagung. Bagaimana tabiat ayam, bukan persoalan utamanya. Latar belakang yang mengepung dan mungkin saja menjadi teror, iya. Tapi itu bukan untuk tidak disiasati. Terlebih lagi, siasat pun bukan seperti siasat yang selama ini umumnya dilakukan, tapi sudah saatnya perlu siasat baru.
Chokin? So What Gitu Loh! bicara tentang siasat baru itu. Bunga rampai yang juga dijuduli Pemikiran Tionghoa Muda (Komunitas Bambu, 2008) ini menganggap bahwa pasifisme bukan sebagai satu-satunya ”protokol keselamatan”.
Kiat ”cepat mengalah, bersembunyi, serta mencari perlindungan”, seperti yang selalu diajarkan genenerasi tua, mungkin saja sampai sekarang masih tetap saja laris. Tapi semestinya ia bukan satu-satunya. Apalagi, sangat bisa jadi, justru protokol keselamatan yang seperti itulah yang selama ini menyuburkan diskriminasi.
Jadinya, klop. Komplit. Sesuatu yang salah – diskriminasi itu — disikapi dengan cara yang salah pula oleh para ”korban” diskriminasi. Yang lebih seru lagi, para korban itu juga beranggapan, mempersoalkan kesalahan itu justru akan merugikan komunitas Cina sendiri. Diskriminasi bukannya berkurang, tapi dikhawatirkan malah akan menjadi bertambah lebih buruk lagi.
Maka bisu kemudian menjadi emas. Pasifisme menjadi satu-satunya yang mungkin. Tapi untunglah, ada anak-anak muda ini. Di bunga rampai ini, mereka cas-cis-cus membongkar mitos banyak hal. Kebijakan afirmatif (pemberdayaan pribumi), ”konglomerat Tapos”, asimilasi, dan aneka hal lain yang tak sekadar menangisi sejarah kambing hitam Cina ataupun kerusuhan Mei 1998.
Hanya saja, yang sangat mengganjal adalah diikutkannya beberapa artikel Ignatius Haryanto dalam buku dahsyat ini. Kalau pun idenya tentang banyak hal di luar soal Cina dianggap cemerlang, kenapa tak dibikin buku tersendiri? Dengan begitu, bunga rampai ini tak perlu repot-repot pinjam ”protokol keselamatan” lama: ”tak ada gading yang tak retak”.
Duh nyesel kemaren cuma megang sampul merahnya di Gramed Matraman..mau beli , rande’ dit..