Apr 22nd, 2008
Gimmick Sukarela
Nylekit pol-polan. Begitulah Adorno. Menurutnya, detil musik pop bisa dicomot dan dipindah ke atau dari satu lagu dengan lagu lainnya. Bahkan, katanya, dengan cara itu bisa juga jadi lagu baru. Ini bedanya pop dengan klasik. Di klasik, detil itu menjadi milik lagu tertentu. Tak boleh (bisa) dipindah.
Ketimbang bilang nggak bisa terima, mending saya milih nggak paham saja dengan klaim Adorno itu. Tapi, mungkin karena tak rigid itulah, di pop lalu ada orang-orang seperti Weird Al Yankovic, yang mendagangkan parodi seperti yang dilakukan pedagang ”Republik Mimpi”, baik versi pionirnya maupun followersnya, itu.
Hanya saja, bedanya, di aneka karyanya, Yankovics tak memasang klaim dahsyat pendidikan politik segala. Jadinya, belum pernah ada cerita, ketika karyanya dikritik sebagian pasar, ia kemudian mencari dukungan para pesohor pasar atau menyebarkan isu serem bahwa kritik itu mengancam kebebasan ekspresi.
Cerita klaim dahsyat atau isu serem juga tak pernah terdengar dari The Panas Dalam. Semuanya mengalir begitu saja. Wong namanya saja pop. Ditolak di sini tak berarti di sana pun ditolak pula. Malah yang umumnya terjadi, penolakan itu jadi amunisi tambahan untuk semakin meledaknya suatu karya pop.
Artinya, gimmick pop tak mesti diciptakan oleh sang pedagang pop sendiri. Pasar pun, kalau berkenan, dengan sukarela akan membantunya. Misalnya lewat plesetan. Refrain Diana-nya Koes Plus diplesetkan menjadi ”Bunuh saja orang tuamu”. Mana Lagi-nya The Mercy’s jadi ”Manak Lagi”.
Lagu top Eddie Peregrima, yang di telinga Yogya antara lain terdengar sebagai ”Iki piye/Piye…Piye/Ogel-ogel” itu, sebagian liriknya juga pernah diplesetkan menjadi bagian dari, maaf, alat kelamin pria. Pringsi…, begitu jadinya. Tak Semua Laki-laki-nya Basofi Sudirman juga dibegitukan.
Cuma, sebenernya itu nggak jelas, apakah pasar yang bikin gimmick, atau Basofi sendiri yang artikulasinya tak jelas, terutama di bagian awal refrain lagu ngetop itu, ketika ia bilang, ”Contohnya aku …..” itu. Sepintas mirip anak-anak mengucapkan ”Kantore Bapak Gede” sembari memencet kedua pipi.