May 30th, 2008
Ekses
Ini mungkin yang disebut ekses itu. Ia hanyalah suatu akibat — yang umumnya dianggap kecil dan sepele — dari suatu tindakan besar. Apalagi jika tindakan besar itu terlanjur dianggap benar.
Maka BLT yang kisruh jadinya soal kecil. Toh, itu tak masif. Umumnya lancar. Apalagi BLT adalah pelindung mereka dari terjangan kenaikan harga BBM. Ini yang berlaku dan laris. Nggak peduli yang dikatakan beberapa kalangan, bahwa itu sama saja dengan tukang obat yang agar obatnya laris, sebar dulu penyakitnya.
Polisi nggebuki mahasiswa pun hanya ekses. Pasalnya, tak semua mahasiswa yang demo menolak kenaikan harga BBM digebuguki. Ada sesuatu yang lain, yang harganya dianggap lebih tinggi ketimbang ekses. Yakni ketertiban umum. Tentu, tak peduli siapa saja yang berhak mendefinisikan soal itu.
Yang lebih serem lagi, ekses itu kemudian menjadi soal kecil yang lebih kecil lagi ketika berhadapan dengan ini: sudah sesuai prosedur. Atau, polisi juga manusia. Bukan soal kemungkinannya bertindak keliru karena itu fitrah manusia, tapi naluriahnya yang diminta untuk dipahami.
Maka kemudian yang terjadi, (yang dianggap ) brutal dilawan dengan brutal pula. Apa boleh buat. Wong namanya juga manusia. Lebih celaka lagi, polisi itu cuma nggebuki. Nggak ngeband. Apalagi ngartis. Jadinya, ya jelas susah meminta mereka untuk sekedar menyanyikan Rehumanize Your Self seperti The Polisi itu.
A policeman put on his uniform/He’d like to have a gun just to keep him warm/Because violence here is a social norm/You’ve got to humanise yourself.
Tapi mungkin gambar yang ketangkap kamera TV itu – entah stasiun TV mana, saya lupa – bukan soal rehumanize atau dehumanize. Bukan pula soal SBY dkk, polisi atau mahasiswa. Yang pasti, di gambar menjelang malam itu, ada seorang anak 7 tahunan yang terbengong-bengong dengan apa yang terjadi.
Di samping kanannya, ada bapaknya (atau mungkin sopirnya), duduk di belakang stir. Mobil yang mereka naikin sedang dihentikan mahasiswa. Maka pesta telunjuk menunding-nuding ke mereka. Juga teriakan, umpatan dan riuh rendah gebrakan di badan mobil plat merah itu.
Lalu aksi corat-coret pun terjadi. Bukan dengan pilok yang relatif tak berbunyi, tapi dengan batu. Lalu, kap mobil itu – yang mungkin selalu diisik-isik Bapaknya (atau sopirnya) agar kinclong – menjadi berderit-derit sesuai dengan kata-kata yang dengan spontan dibubuhkan di situ.
Entah apa yang dituliskan. Mungkin SBY Edan, Kalla Kentir, Polisi Gendeng, Ekonom Bebek atau entah apa lagi. Tapi yang pasti si anak itu melongo, melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang belum ia mengerti sepenuhnya. Komplit. Tarian telunjuk, teriakan, umpatan dan gedoran.
Sayang, memang, dari gambar yang hanya sekejab itu, penonton tak bisa tahu dengan pasti apakah anak itu bilang, ”Pa, Dede takut”. Kita juga tak bisa tahu apakah celananya menjadi basah karena terkencing-kencing.
Mungkin inilah ekses itu. Kecil. Sepele. Karenanya, Iwan Fals tak perlu merubah lirik Sore Tugu Pancoran, misalnya, dengan ”Anak sekecil itu berkelahi dengan tanya/Demi satu impian bapak-bapak, mas-mas…../Anak sekecil itu…./Dipaksa ….dst, dst”.
