Archive for May, 2008

Bah Reggae

Ekses

Ini mungkin yang disebut ekses itu. Ia hanyalah suatu akibat — yang umumnya dianggap kecil dan sepele — dari suatu tindakan besar. Apalagi jika tindakan besar itu terlanjur dianggap benar.

Maka BLT yang kisruh jadinya soal kecil. Toh, itu tak masif. Umumnya lancar. Apalagi BLT adalah pelindung mereka dari terjangan kenaikan harga BBM. Ini yang berlaku dan laris. Nggak peduli yang dikatakan beberapa kalangan, bahwa itu sama saja dengan tukang obat yang agar obatnya laris, sebar dulu penyakitnya.

Polisi nggebuki mahasiswa pun hanya ekses. Pasalnya, tak semua mahasiswa yang demo menolak kenaikan harga BBM digebuguki. Ada sesuatu yang lain, yang harganya dianggap lebih tinggi ketimbang ekses. Yakni ketertiban umum. Tentu, tak peduli siapa saja yang berhak mendefinisikan soal itu.

Yang lebih serem lagi, ekses itu kemudian menjadi soal kecil yang lebih kecil lagi ketika berhadapan dengan ini: sudah sesuai prosedur. Atau, polisi juga manusia. Bukan soal kemungkinannya bertindak keliru karena itu fitrah manusia, tapi naluriahnya yang diminta untuk dipahami.

Maka kemudian yang terjadi, (yang dianggap ) brutal dilawan dengan brutal pula. Apa boleh buat. Wong namanya juga manusia. Lebih celaka lagi, polisi itu cuma nggebuki. Nggak ngeband. Apalagi ngartis. Jadinya, ya jelas susah meminta mereka untuk sekedar menyanyikan Rehumanize Your Self seperti The Polisi itu.

A policeman put on his uniform/He’d like to have a gun just to keep him warm/Because violence here is a social norm/You’ve got to humanise yourself.

Tapi mungkin gambar yang ketangkap kamera TV itu – entah stasiun TV mana, saya lupa – bukan soal rehumanize atau dehumanize. Bukan pula soal SBY dkk, polisi atau mahasiswa. Yang pasti, di gambar menjelang malam itu, ada seorang anak 7 tahunan yang terbengong-bengong dengan apa yang terjadi.

Di samping kanannya, ada bapaknya (atau mungkin sopirnya), duduk di belakang stir. Mobil yang mereka naikin sedang dihentikan mahasiswa. Maka pesta telunjuk menunding-nuding ke mereka. Juga teriakan, umpatan dan riuh rendah gebrakan di badan mobil plat merah itu.

Lalu aksi corat-coret pun terjadi. Bukan dengan pilok yang relatif tak berbunyi, tapi dengan batu. Lalu, kap mobil itu – yang mungkin selalu diisik-isik Bapaknya (atau sopirnya) agar kinclong – menjadi berderit-derit sesuai dengan kata-kata yang dengan spontan dibubuhkan di situ.

Entah apa yang dituliskan. Mungkin SBY Edan, Kalla Kentir, Polisi Gendeng, Ekonom Bebek atau entah apa lagi. Tapi yang pasti si anak itu melongo, melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang belum ia mengerti sepenuhnya. Komplit. Tarian telunjuk, teriakan, umpatan dan gedoran.

Sayang, memang, dari gambar yang hanya sekejab itu, penonton tak bisa tahu dengan pasti apakah anak itu bilang, ”Pa, Dede takut”. Kita juga tak bisa tahu apakah celananya menjadi basah karena terkencing-kencing.

Mungkin inilah ekses itu. Kecil. Sepele. Karenanya, Iwan Fals tak perlu merubah lirik Sore Tugu Pancoran, misalnya, dengan ”Anak sekecil itu berkelahi dengan tanya/Demi satu impian bapak-bapak, mas-mas…../Anak sekecil itu…./Dipaksa ….dst, dst”.

Bah Reggae

Inflasi Cangkem

Inilah musuh SBY. Bukan Nyah Mega, Mbah Wir atau Mbah Sultan dan para dagangan bekas lainnya, tapi inflasi. Sebelum ada kenekatan 23 Mei 2008 lalu saja inflasi sudah tinggi, apalagi sekarang. Sampai kapan musuh SBY ini akan berlenggok-lenggok mengiringi nyanian SBY dkk?

Boleh saja para penggila opportunity loss (OL) menyatakan – berdasarkan data akurat –sumbangan keputusan gombal beberapa hari lalu itu ke inflasi relatif kecil. Sumbangan kenaikan harga BBM ke industri, transportasi dan barang/jasa publik lainnya juga mereka katakan kecil. Tapi itu hanya inflasi riil.

Yang jadi soal, tak perlu jadi ekonom, apalagi harus menggilai OL, semua orang juga paham bahwa inflasi itu, dimana pun, dan kapan pun, utamanya sangat tergantung dengan apa yang disebut ekspektasi masyarakat (EM). Selama ini EM selalu berbunyi, kenaikan harga BBM akan membuat segalanya terkerek naik.

EM inilah yang membuat gila angka inflasi. Tapi ini juga riil. EM dengan demikian merupakan bagian dari inflasi. Ngomong soal inflasi agar lengkap, selain berdasarkan angka riil juga harus menyertakan EM. Karenanya, tanpa melihat EM, omongan soal inflasi sesungguhnya adalah mbelgedes yang keterlaluan.

****

Inflasi gila akan membuat ”si doel” jadi gila pula. Orang cenderung memindahkan simpanan Rp-nya ke dolar. Pasalnya, ngapain nyimpan Rp kalau keuntungannya berkurang/habis digerogoti inflasi. Obat inflasi tinggi biasanya sukubunga dinaikkan. Sekarang tinggal nunggu, kapan Boediono menaikkan BI rate.

Kenaikan BI rate yang diikuti kenaikan sukubunga simpanan – yang akan mencegah orang menubruk dolar, artinya bikin Rp aman itu – akan serta-merta langsung diikuti dengan kenaikan sukubunga kredit? Nggaklah. Karena bank juga takut, hal itu justru akan menaikkan potensi kredit macet.

Tapi, sekalipun bunga kredit tak naik, apakah pengusaha mau memanfaatkannya untuk menggelindingkan usahanya, sehingga perekonomian bisa tetap bergerak? Sayang, jawabannya juga nggak. Bagi pengusaha, bukan sukubunga yang jadi ancaman, tapi daya beli masyarakat yang turun gara-gara inflasi (yang ada EM-nya) itu.

Karena takut ancaman daya beli yang rendah itu, maka uang tetap saja parkir di bank. Toh bunga simpanan dinaikkan. Oleh bank, simpanan itu kemudian biasanya dibelikan SBI. Ini jelas akan menggerogoti devisa yang disimpan di BI. Orang-orang BI biasanya akan merewelkan soal ini, dan nggak gampang mau menaikkan BI rate.

****

Apakah kerewelan BI itu akan terjadi? Kalau saja masih ada Burhanudin Abdullah, atau Miranda Goeltom yang naik menggantikannya, kemungkinan BI rewel bisa terjadi. Mereka akan wegah jadi pemadam kebakaran melulu. Inflasi itu karena fiskal. Jadi pemerintahlah yang harus bertindak. Itu tanggungjawab pemerintah. Operasi pasarlah, atau gimana gitu.

Tapi, harus diingat, itu kalau Burhan atau Miranda yang menjadi bos BI. Sementara Boediono tentunya lain. Beliau Orang inilah yang juga merancang skenario besar, lewat UU BI No 3/2004, bahwa moneter (BI) harus ngikutin fiskal (pemerintah).

Operasi pasar jelas akan dilakukan pemerintah. Malah siapa tahu, dananya sebagian bisa diambil dari dana yang sekarang nggak jadi untuk menambah subsidi BBM. Tapi moneter (BI) juga harus mbantu. Itu amanat UU itu. Nah, kebetulan, di situ sekarang ada Boediono. Jadi, kecil kemungkinannya BI akan rewel untuk naikin BI rate. Beres.

****

Artinya, di atas kertas, gilanya inflasi – musuh SBY dkk – bisa teratasi. Tapi kiranya masih ada inflasi lain yang mengancam, yakni ”inflasi cangkem”. Cangkem DPR, misalnya, soal interpelasi atau impeachment itu mungkin bisa dikesampingkan. Selain konyol, itu juga lebih banyak melulu sebagai kemasan pemilu 2009 saja.

Selain itu, bukankah ada Golkar, Demokrat, PPP dan sekian penderek SBY/JK yang akan sekuat tenaga mencegah PKB, PAN atau bahkan PDIP menggelar sidang dagelan yang hanya akan jadi tertawaan akal sehat.

Apalagi, ayam pun tahu, mereka semua – para penggagas ide dagelan — itu semula juga sudah dengan sesadar-sadarnya OK dan ikut mensyahkan UU APBNP 2008. Di UU ini jelas-jelas kasatmata tertulis, urusan kenaikan harga BBM kali ini adalah urusan pemerintah. DPR tak bisa ganggu-gugat lagi.

Jadi, beres. Sekarang tinggal inflasi cengkem yang justru berasal dari SBY dkk. Utamanya, cangkemnya Yusuf Kalla. Sangat bisa jadi, kemasan opportunity loss versi Kalla yang berlebihan dan menjijikan itulah yang menjadi BBM bagi teman-teman mahasiswa sehingga mereka merasa ditantang dan tambah kerasan di jalanan.

Bah Reggae

Mendes Memang Bukan SBY

Ini bukan tentang SBY, tapi Sergio Mendes, artis Brasil yang usianya lebih tua 8 tahunan dari Presiden dan penyanyi kita itu. Ini juga bukan tentang karya umum Mendes – yang membuatnya ngetop – tapi Brasileiro, album Mendes rilisan 1992.

Di album unik ini Mendes mencoba, dan berhasil, menjadi orang yang berbeda dengan Mendes sebelumnya atau setelahnya. Bisa dikatakan, lewat Brasileiro ini, Mendes menjadi sepenuhnya Brasil. Bukan yang lain. Perayaan perkusi menjadi begitu dominan. Misalnya saja di Fanfara, Magalenha, Indiago dan What Is This?

Wajah lain Brasil, yang tanpa perkusi, pun diangkat Mendes lewat sejumlah nomor asyik seperti Barabare, Esconjuros dan Chorado. Sisanya, misalnya di Lua Soberana, Sambadouro dan Senhoras Do Amazonas, barulah muncul wajah lain Mendes yang diakrabi banyak orang. Ngejazz.

Tapi, justru karena Mendes bukan SBY itulah yang membuat tawarannya yang segar dan unik lewat Brasileiro ini menjadi mudah dilupakan, utamanya bagi kita yang kurang dan tak berkenan. Tinggal matikan player. Beres. Atau buang saja CD/kaset album yang covernya tak memasang wajah Mendes yang lagi nyengenges itu.

Sementara nyanyian SBY pada 23 Mei lalu itu — sekalipun jika tak suka, kita bisa memperlakukannya seperti kalau kita tak berkenan dengan Brasileiro — tetap saja tak bisa dihentikan. Nyanian itu, jika kita tak suka, mungkin akan jadi bahan pelengkap makian, yang dalam banyak kesempatan umumnya tinggal saknyukan lagi jadi dosa.

Bah Reggae

Merah Putih Murah

Merusak rock & roll untuk menyelamatkan rock & roll. Begitu pernah dikatakan majalah Rolling Stone, dulu, mengomentari OK Computer, album Radiohead yang menggegerkan itu. Akankah obrak-abrik versi SBY dkk sekarang ini nantinya juga akan dikenang sebagai penyelamatan ekonomi negeri ini, masih belum jelas.

Yang pasti, akibat 2 kenaikan harga BBM (bersubsidi) – yang dilakukan SBY sebelum 23 Mei kemarin – Maret dan Oktober 2005, perekonomian menjadi berdarah-darah. Pertumbuhan sih masih relatif OK, tapi dengan kualitas yang memprihatinkan. Jumlah orang miskin dan pengangguran meningkat.

Dari data yang ada, per 2006 lalu, setahun setelah 2 kenaikan itu, % orang miskin (dari total penduduk) melonjak menjadi 17,75% dari sebelumnya 15,97%. Lalu, jika sebelumnya setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap tenaga kerja sekitar 100-200ribu orang, tapi pada 2006 lalu itu hanya terserap 42ribu saja.

Bagaimana paska kenaikan harga BBM sekarang ini? Benarkah ini “short term pain, long term gain” seperti yang dengan fasih diocehkan oleh mereka yang dengan riang gembira memberhalakan opportunity loss? Masih harus ditunggu. Kita semua tentunya berharap ”merah putih” membaik dan tak murah lagi.

Merah putih tak murah? Tunggu dulu. Pasalnya, merah putih justru dijual murah di sejumlah toko CD. Di tengah kejahatan industri – seperti yang dikatakan ”raja blog” itu, untuk menunjuk keanehan bahwa harga CD bisa dikerek jauh lebih tinggi ketimbang harga kaset – belakangan ini muncul CD-CD murah dengan stiker merah putih.

Yang paling gres Third, album baru Portishead. Sebelumnya, ada Lemon Head, Mika dan Bjork. Segombal-gombalnya kemasannya, kiranya masih lebih bagus ketimbang kemasan basi opportunity loss itu. Atau setidaknya, merah putih murah itu bisa dipakai menyumpal kuping ketimbang pekak ndengerin argumen basi SBY dkk.

Bah Reggae

Gara-gara Si Doel. Obladi-Oblada

Suka tak suka, semuanya praktis tergantung ”si doel”. Gimana ulahnya, sekarang ini disorot banyak orang. Pasalnya, jika dolar AS naik maka Rp jatuh. Dan ini kiranya akan membuat SBY dkk makin pusing. Bahkan kenaikan harga BBM (bersubsidi), jika dicermati, ujung-ujungnya ”hanya” dimaksudkan agar ”si doel” tak meroket.

Konon, di pasar uang kita, pemain tetap dan terbesarnya adalah Pertamina. Lainnya adalah pemerintah/swasta ketika bayar utang dan para spekulan. Lebih serem lagi, tak peduli harga minyak dunia mau naik menjadi berapa pun, badan pengelola hajat hidup orang banyak itu tetap harus beli minyak. Apalagi, produksi minyak kita merosot terus.

Apalagi lagi, soal produksi ini – plus penentuan harga impor/ekspor, pengilangan, distribusi, tender jatuh ke siapa dll – adalah ”dunia gelap” yang dari dulu sengaja tak pernah dibuat menjadi terang benderang. Audit BPK secara detil dan menyeluruh, sebagaimana soal BLBI, tak pernah ada.

Dan dunia gelap itu terkesan dilanggengkan. Lewat kenaikkan harga BBM kemarin ini, atas nama berhala opportunity loss, secara terang-terangan, seperti kelakuan para bos negeri sebelum-sebelumnya, Presiden yang penyanyi itu tak mau mengutik-utiknya. Alhasil, Pertamina tetap sebagai pemain tetap dan terbesar di pasar uang itu.

****

Karena Pertamina pemain terbesar, maka ulahnya akan menentukan kelakuan dolar. Dolar akan terkerek naik jika terkesan pemerintah kesulitan menyediakan Rp untuk impor minyak. Ini terlihat di APBN. Pemerintah harus menyediakan Rp yang terus membesar — karena harga minyak dunia terus naik — untuk subsidi BBM.

Dengan dinaikkannya harga BBM, maka beban Rp yang harus disediakan pemerintah berkurang. Impor minyak jadinya aman.

Dolar juga bisa terkerek naik jika terkesan ada ketakpastian dalam menutup defisit APBN. Selama ini defisit ditutup dengan utang luar negeri (LN) dan hasil jualan obligasi. Jika harga BBM tak naik (subsidi BBM semakin besar), maka defisit APBN juga akan membengkak.

Bisa sih utang LN dan volume obligasi ditambah. Tapi gimana mbayarnya? Dan yang pasti, jika pemerintah menambah utang LN dan obligasi, maka itu juga berarti ada tambahan di pos pengeluaran untuk mbayarnya. Ini akan mengancam kemampuan penyediaan Rp untuk impor minyak.

Alhasil, dengan dinaikkannya harga BBM, maka kemampuan pemerintah menyediakan Rp untuk impor minyak tak terganggu. Sementara impor akan langgeng karena ”dunia gelap” tak diutik-utik. Selain itu, yang lebih serem, ya itu tadi, berapa pun harga minyak dunia, impor tetap bisa (harus) dilakukan.

****

Bahwa kemudian ada berbagai argumen basi dan menjijikan sebagai anak anak cucunya opportunity loss, itu hal lain lagi dan celakanya (atau untungnya) laris banget. Jika yang gini-gini aja laris, maka bisa dipahami jika laris pula aneka patun balasan seadanya seperti interpelasi dan impeachment itu.

Mbuh. Luweh. Apa boleh buat. Sakarepmu. Obladi-oblada: “Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on/Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on….”

Bah Reggae

Cover Version

Salah satu bentuk perayaan itu adalah cover version. Setiap individu berhak – malah barangkali wajib? — memaknai apapun yang (sudah terlanjur) ada di pasar. Pemaknaan itu kemudian menjadi lebih bagus, atau lebih punya greget ketimbang sebelumnya, ini memang relatif.

Tapi serelatif-relatifnya soal itu, di pasar jelas terdengar tepuk tangan atas America versi Steve Howe. Di tangan pengganti Peter Bank di Yes ini, nomor yang sebelumnya lahir dari Simon & Garfunkel itu menjadi lebih rancak bana karena dominasi suara gitar. Ada pula To Love Somebody (Bee Gees) yang lebih macho versi Eric Burdon.

Rod Steward, raja cover version itu, juga merayakan perayaan itu lewat Traubert’s Blues/ Waltzing Matilda, milik Tom Waits. Sheryl Crow dengan D’yer Maker (Led Zeppelin). Rebel Rebel juga tak kalah asyik dengan aslinya (David Bowie) ketika dibawakan Rickie Lee Jones ketika berkolaborasi dengan Leo Kottke. Demikian pula Nirvana dengan The Man Who Sold The Word (Lulu & Bowie) atau Love Buzz (Shocking Blue).

Salah satu cover version yang paling menggegerkan adalah May Way versi The Sex Pistols. Karya Frank Sinatra yang aslinya syahdu itu oleh Johnny Rotten dkk kemudian terkesan dioklek-oklek seenaknya. Pasar ribut. Sampai-sampai Neil Young konon bikin Rust Never Sleeps untuk si Johnny.

Tak hanya artis, SBY dkk pun belakangan juga gencar bercover-version ria. Nyanyian basi opportunity loss dikemas-ulang dengan aneka gaya di sekitar kenaikan harga BBM (bersubsidi). Mulai dari APBN yang berdarah (resiko fiskal), layanan publik yang terancam sampai dengan sejumlah lengkingan dan cengkok menjijikan.

Pengurangan subsidi yang dicoversion menjadi ”mengambil dari yang kaya untuk si miskin”. Menaikkan harga BBM dimaknai sebagai pilihan SBY untuk menyelamatkan APBN ketimbang popularitasnya menjelang pemilu. Tiba-tiba saja SBY menjadi korban dan negarawan.

Bah Reggae

Berhala Opportunity Loss

Jreng. Harga BBM jadi naik. Dan jadi pula diiringi aneka orkes argumen basi. Malah beberapa di antaranya tak hanya basi, tapi juga amat sangat purba, untuk tak menyebutnya sebagai menjijikan. Misalnya soal ”robin hood” itu. Mengambil dari yang kaya untuk diberikan kepada si miskin.

Namun, harus diakui, sebasi-basinya orkes itu, SBY dkk terlihat bisa membuang jauh-jauh gaya yang biasanya dilakukan para bos negeri ini sebelum-sebelumnya ketika berhadapan dengan sesuatu yang (dianggap) bikin mumet. Kali ini tak ada argumen ”cuci piring”, yang menyalahkan kebijakan para bos sebelumnya.

Pasalnya, terutama di jaman Megawati, opsi menaikkan harga BBM (bersubsidi) sudah nyaring terdengar. Tapi, ketimbang memilih opsi itu, untuk menyelamatkan APBN, Bu Taufik Kiemas itu lebih memilih mengutik-utik dagangan untuk menutup defisit APBN. Misalnya saja, jualan aset bank dan BUMN.

Sekiranya waktu itu Nyonya itu tak hanya berasyik-masyuk jualan dagangan itu, tapi juga harga BBM mulai ”disesuaikan”, maka, setidaknya, negeri ini akan mulai terbiasa dengan mbahnya argumen basi yang kali ini terpaksa diproduksi habis-habisan oleh SBY dkk. Yakni, opportunity loss (OL).

Intinya, BBM adalah barang dagangan. Jika di pasar dunia harga dagangan itu naik, maka (semestinya) naik pula harganya di dalam negeri. Memang, subsidi jelas masih diperlukan mengingat betapa luasnya negeri ini, tak hanya secara geografis tapi juga jarak kemampuan sosial-ekonomi warganya.

Meskipun begitu, semestinya besaran subsidi itu setiap kalinya harus dikurangi untuk mengimbangi kenaikan harga BBM di pasar dunia. Tanpa pengurangan, maka pemerintah akan kehilangan potensi untuk membiayai berbagai layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan dll, karena dana yang ada lebih untuk subsidi BBM.

Begitulah OL. Begitulah berhala SBY dkk. Tapi, beruntunglah penonton. Berhala itu tak dipakai SBY untuk menghajar bos-bos negeri ini sebelumnya. Mengapa? Sebagian, sangat mungkin, hal itu karena hajatan 2009 nanti. Rupanya SBY tak ingin terang-terangan menambah musuh hanya gara-gara OL.

Bagi SBY dkk, OL juga dibatasi untuk subsidi BBM saja. Konsep ”hilang kesempatan” itu tak berlaku bagi warisan para bos sebelumnya yang juga membenani APBN. Seperti bunga dan cicilan obligasi (bank rekap) dan utang luar negeri. Dengan begitu, selain tak bikin bos-bos lama meradang, SBY juga bisa menikmati warisan itu dengan nyaman. Tak perlu diganggu-gugat.

Bagaimana jika OL juga diterapkan untuk membongkar ”dunia gelap” di sekitar produksi dan pengadaan BBM, yang merupakan salah satu poin penting yang mendasari APBN? Halah! Bos-bos sebelumnya saja pada nggak berani, lalu apa perlunya SBY mengutik-utik soal ini? Nambah musuh aja.

Bah Reggae

Habis Klise Terbitlah Klise

Klise dijawab klise. Maka lahirlah klise. Beginilah nasib penonton. Mereka akhirnya terpaksa berucap, ”Beri Pemerintah Kesempatan”, seperti yang ditulis Kompas (22 Mei 2008, hal 6). Koran yang mencoba menjadi bukan bebek pemerintah — tak seperti kelakuan aneh Tempo — sehubungan dengan rencana kenaikan harga BBM.

Klise memang. Apa boleh buat. Nggak pa-pa. Toh selama ini kita juga bisa maklum dan terbiasa dengan sejumlah klise lain yang kemudian terkesan menjadi mantra ajaib seperti ”sudah sesuai prosedur” itu. Tapi, adakah alternatif lain daripada klise memelas seperti yang diproduksi-ulang oleh Kompas itu?

Di satu sisi, SBY dkk — seperti bos-bos lain sebelumnya — ngotot dengan aneka argumen basi setiap kali harga minyak dunia meroket. Ini melulu APBN. Maka yang diutik-utik aneka pos di APBN. Utamanya subsidi BBM. Bukan hal-hal di luarnya. Misalnya, ”dunia gelap” terkait dengan produksi minyak kita, yang merupakan salah satu asumsi penting sebagai dasar APBN.

Tapi, di sisi lain, para penentang kenaikan harga BBM itu, juga cuma menawarkan klise yang sama-sama hanya mengutik-utik pos di APBN. Misalnya, ngemplang kewajiban bayar bunga dan cicilan obligasi ”bank rekap” dan atau utang luar negeri, yang oleh banyak pihak dianggap bisa berakibat pada sesuatu yang lebih nggegirisi lagi.

Malah, di antara para penantang itu, belakangan terdengar usulan impeachment segala. Benar, suara ini harus dimaklumi sebagai dagangan untuk pemilu yang tinggal sekedipan mata lagi. Tapi benar juga jika ada yang berpendapat, usulan itu tak hanya klise dan nggegirisi tapi juga raja tega dan konyol.

Maka, Broer nyanyi, Broer. ”Di dalam tidur/Didalam doa/Kita berjanji/Membuka pintu/Buka jendela/Bersama-sama…Tapi lihatlah, apa yang terjadi/Kita terkadang berbeda rasa/Aku begini, engkau begitu/Sama saja”.

Bah Reggae

Yang Bukan Pop Versi SBY Dkk

Pop dan bukan pop. Biasanya, untuk membedakan ke-2nya, yang pop dikatakan dikemas relatif lebih massal ketimbang yang bukan pop. Indie, karena kemasannya, masuk pop aja. Lalu genrenya? Di pop, macam-macam. Ada rock, jazz, progrock dll. Sementara bukan pop, selama ini selalu saja klasik dan tradisional.

Mungkin pengkategorian seperti itu terlalu gampang-gampangan. Simplistis. Karenanya, banyak pihak yang akan menolaknya. Artinya, kategorisasi itu riskan ditolak. Meski begitu, yang tak menolak, bisa jadi ada juga. Siapa? SBY dkk! Utamanya, soal yang bukan pop selalu klasik dan tradisonal itu.

Entah sudah berapa kali SBY dkk menyatakan, menaikkan harga BBM bersubsidi bukanlah kebijakan populer. Singkatnya, harga BBM naik bukan pop. Jika bukan pop, mengapa dilakukan? Ada macam-macam argumennya. Inilah ”genre” bukan pop versi SBY dkk. Argumen itu selalu saja klasik dan tradisional.

Silakan catat argumen yang nanti dihamburkan menteri – atau SBY/Yusuf Kalla sendiri? – di acara TV dadakan tengah malam itu. Lalu, bandingkan dengan apa yang pernah mereka lontarkan di layar kaca pada dinihari 1 Maret 2005 dan 1 Oktober 2005. Bedanya mungkin cuma tingkat kelenturan lidah. Tapi isinya sama. Klasik dan tradisional.

Lalu, kalau mereka, siapa pun nanti yang nongol, menganggap perlu mungkin akan disertai pula dengan mimik sedih. Seberapa sedih, tergantung berapa % kenaikannya. Ini memang bukan pop itu. Dan harus di-jreng-kan. Argumennya, jangan lupa, mohon periksa catatan Anda.

Bah Reggae

The Kompor

Kali ini, suasana menjelang kenaikan harga BBM berbeda dengan sebelumnya. Tiga tahun lalu (Oktober 2005), kurs Rp, suku bunga (BI rate), dan inflasi ”jelek” banget. Tapi, kali ini ”hanya” inflasi yang jelek. Kurs Rp relatif stabil di kisaran Rp 9,200/dolarnya. Sementara BI rate ”hanya” 8.25% tak setinggi Oktober 2005 yang sebesar 10%.

Ini bisa dipakai untuk berharap SBY dkk tak akan senekat Oktober 2005. Waktu itu, sampai-sampai ada istilah G/30S/SBY segala. Pasalnya, pengumuman kenaikannya dilakukan pada 30 September 2005 tengah malam, dengan % yang gila-gilaan (rata-rata naik lebih dari 100%) pula. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, Maret 2005, harga BBM sudah dinaikkan rata-rata 30%.

Mungkin benar, kenaikan nanti tak akan nekat. Tapi, yang pasti, kali ini, ada kenekatan lain yang sengaja diproduksi oleh SBY dkk beserta mereka yang OK harga BBM naik. Mereka ramai-ramai menggugat kaum yang mereka anggap beruntung. Mereka jadinya mirip Bang Rhoma ketika menyanyikan ”yang kaya makin kaya”, atau Bob Marley dengan Survival-nya.

How can you be sitting there/Telling me that you care/That you care?/When every time I look around/The people suffer in the suffering/In everyway, in everywhere…..I tell you what/Some people got everything/Some people got nothing/Some people got hopes and dreams/Some people got ways and means.

Yusuf Kalla, misalnya, menyebut kenaikan kali ini ala Robin Hood. ”Ini sistem Robin Hood dipakai. Ambil dari yang kaya untuk yang miskin,” katanya sembari cengengesan. Omongan ”kompor” Kalla ini persis dengan Faisal Basri. Katanya, ”Dengan menaikkan harga BBM, kita mengambil uang dari orang kaya untuk diberikan kepada si miskin”.

SBY pun berkompor-ria. Katanya, ”Saya serukan agar yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, dan yang mendapat keuntungan lebih karena naiknya harga energi dan pangan membantu rakyat dan negara. Itu baru adil. Kita tidak ingin makmur sendiri-sendiri, tetapi ingin makmur bersama-sama”.

Kompor juga melanda media. Tempo (28/4-4/5/2008, hal 22), misalnya. Hanya untuk menyatakan dukungannya pada kenaikan harga BBM, majalah ini sampai perlu-perlunya mencomot statistik yang sebetulnya tak bicara apa-apa. Kataya, ”Subsidi minyak sejatinya lebih dinikmati kaum berpunya – para pengguna kendaraan bermotor….. Kaum berduit mengkonsumsi bensin 8,2 kali lebih banyak ketimbang kelompok miskin”.

Inilah sumbu kompor itu. Subsidi BBM dianggap hanya menguntungkan para kaya. Pasalnya, merekalah yang lebih banyak mengkonsumsi BBM (bersubsidi). Padahal, sesungguhnya, si miskin pun menikmati subsidi itu. Meskipun umumnya tak langsung, jika itu diukur dengan berapa konsumsi BBM mereka.

Karenanya, menurut orang-orang semacam Mubyarto, ”Dampak negatif kenaikan harga BBM bagi para non-kaya itu bukan karena mereka mengkonsumsi BBM langsung, tetapi karena kenaikan biaya transpor bahan-bahan pokok kebutuhan mereka, yang secara langsung mendorong harga bahan-bahan pokok tersebut”.

Kemudian ada pertanyaan, bagaimana dengan aneka aksi seperti bantuan langsung, raskin dll? Bukankah ini bisa meredam dampak negatif itu dan semuanya menjadi beres? Jawabnya, mungkin. Tapi yang pasti, aneka aksi itu hanya membenarkan bahwa kompor itu jadinya terlalu berlebih-lebihan.

Tapi, begitulah kompor. Dimana-mana selalu seperti itu. Api tetap yang terpenting. Untuk merayakan kobarannya, fakta lain terpaksa harus disembunyikan. Bahwa kobaran itu bisa dipakai sebagai indikasi bahwa kali ini ada kekalutan yang lebih hebat dari sebelum-sebelumnya, mungkin ini soal lain.

Next »