May 23rd, 2008
Habis Klise Terbitlah Klise
Klise dijawab klise. Maka lahirlah klise. Beginilah nasib penonton. Mereka akhirnya terpaksa berucap, ”Beri Pemerintah Kesempatan”, seperti yang ditulis Kompas (22 Mei 2008, hal 6). Koran yang mencoba menjadi bukan bebek pemerintah — tak seperti kelakuan aneh Tempo — sehubungan dengan rencana kenaikan harga BBM.
Klise memang. Apa boleh buat. Nggak pa-pa. Toh selama ini kita juga bisa maklum dan terbiasa dengan sejumlah klise lain yang kemudian terkesan menjadi mantra ajaib seperti ”sudah sesuai prosedur” itu. Tapi, adakah alternatif lain daripada klise memelas seperti yang diproduksi-ulang oleh Kompas itu?
Di satu sisi, SBY dkk — seperti bos-bos lain sebelumnya — ngotot dengan aneka argumen basi setiap kali harga minyak dunia meroket. Ini melulu APBN. Maka yang diutik-utik aneka pos di APBN. Utamanya subsidi BBM. Bukan hal-hal di luarnya. Misalnya, ”dunia gelap” terkait dengan produksi minyak kita, yang merupakan salah satu asumsi penting sebagai dasar APBN.
Tapi, di sisi lain, para penentang kenaikan harga BBM itu, juga cuma menawarkan klise yang sama-sama hanya mengutik-utik pos di APBN. Misalnya, ngemplang kewajiban bayar bunga dan cicilan obligasi ”bank rekap” dan atau utang luar negeri, yang oleh banyak pihak dianggap bisa berakibat pada sesuatu yang lebih nggegirisi lagi.
Malah, di antara para penantang itu, belakangan terdengar usulan impeachment segala. Benar, suara ini harus dimaklumi sebagai dagangan untuk pemilu yang tinggal sekedipan mata lagi. Tapi benar juga jika ada yang berpendapat, usulan itu tak hanya klise dan nggegirisi tapi juga raja tega dan konyol.
Maka, Broer nyanyi, Broer. ”Di dalam tidur/Didalam doa/Kita berjanji/Membuka pintu/Buka jendela/Bersama-sama…Tapi lihatlah, apa yang terjadi/Kita terkadang berbeda rasa/Aku begini, engkau begitu/Sama saja”.
Lho, kita gak mau impeach kok..
Cuma biar seimbang, satu naik maka harus ada juga yang turun..
“Mosok berok kita yang dikorbanin…?”

untung saya ngga minum BBM…:D