May 27th, 2008
Gara-gara Si Doel. Obladi-Oblada
Suka tak suka, semuanya praktis tergantung ”si doel”. Gimana ulahnya, sekarang ini disorot banyak orang. Pasalnya, jika dolar AS naik maka Rp jatuh. Dan ini kiranya akan membuat SBY dkk makin pusing. Bahkan kenaikan harga BBM (bersubsidi), jika dicermati, ujung-ujungnya ”hanya” dimaksudkan agar ”si doel” tak meroket.
Konon, di pasar uang kita, pemain tetap dan terbesarnya adalah Pertamina. Lainnya adalah pemerintah/swasta ketika bayar utang dan para spekulan. Lebih serem lagi, tak peduli harga minyak dunia mau naik menjadi berapa pun, badan pengelola hajat hidup orang banyak itu tetap harus beli minyak. Apalagi, produksi minyak kita merosot terus.
Apalagi lagi, soal produksi ini – plus penentuan harga impor/ekspor, pengilangan, distribusi, tender jatuh ke siapa dll – adalah ”dunia gelap” yang dari dulu sengaja tak pernah dibuat menjadi terang benderang. Audit BPK secara detil dan menyeluruh, sebagaimana soal BLBI, tak pernah ada.
Dan dunia gelap itu terkesan dilanggengkan. Lewat kenaikkan harga BBM kemarin ini, atas nama berhala opportunity loss, secara terang-terangan, seperti kelakuan para bos negeri sebelum-sebelumnya, Presiden yang penyanyi itu tak mau mengutik-utiknya. Alhasil, Pertamina tetap sebagai pemain tetap dan terbesar di pasar uang itu.
****
Karena Pertamina pemain terbesar, maka ulahnya akan menentukan kelakuan dolar. Dolar akan terkerek naik jika terkesan pemerintah kesulitan menyediakan Rp untuk impor minyak. Ini terlihat di APBN. Pemerintah harus menyediakan Rp yang terus membesar — karena harga minyak dunia terus naik — untuk subsidi BBM.
Dengan dinaikkannya harga BBM, maka beban Rp yang harus disediakan pemerintah berkurang. Impor minyak jadinya aman.
Dolar juga bisa terkerek naik jika terkesan ada ketakpastian dalam menutup defisit APBN. Selama ini defisit ditutup dengan utang luar negeri (LN) dan hasil jualan obligasi. Jika harga BBM tak naik (subsidi BBM semakin besar), maka defisit APBN juga akan membengkak.
Bisa sih utang LN dan volume obligasi ditambah. Tapi gimana mbayarnya? Dan yang pasti, jika pemerintah menambah utang LN dan obligasi, maka itu juga berarti ada tambahan di pos pengeluaran untuk mbayarnya. Ini akan mengancam kemampuan penyediaan Rp untuk impor minyak.
Alhasil, dengan dinaikkannya harga BBM, maka kemampuan pemerintah menyediakan Rp untuk impor minyak tak terganggu. Sementara impor akan langgeng karena ”dunia gelap” tak diutik-utik. Selain itu, yang lebih serem, ya itu tadi, berapa pun harga minyak dunia, impor tetap bisa (harus) dilakukan.
****
Bahwa kemudian ada berbagai argumen basi dan menjijikan sebagai anak anak cucunya opportunity loss, itu hal lain lagi dan celakanya (atau untungnya) laris banget. Jika yang gini-gini aja laris, maka bisa dipahami jika laris pula aneka patun balasan seadanya seperti interpelasi dan impeachment itu.
Mbuh. Luweh. Apa boleh buat. Sakarepmu. Obladi-oblada: “Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on/Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on….”
kalau sudah di lapangan golf…
para golfer yang skaligus “spekulan” akan menawarkan teman-temannya:
” Kita taruhan Papi Mega atau Bah Jenggot..?”
Jadi, si Doel jarang kami sebut..Bah jenggot? serrrring!