Bah Reggae

Inflasi Cangkem

Inilah musuh SBY. Bukan Nyah Mega, Mbah Wir atau Mbah Sultan dan para dagangan bekas lainnya, tapi inflasi. Sebelum ada kenekatan 23 Mei 2008 lalu saja inflasi sudah tinggi, apalagi sekarang. Sampai kapan musuh SBY ini akan berlenggok-lenggok mengiringi nyanian SBY dkk?

Boleh saja para penggila opportunity loss (OL) menyatakan – berdasarkan data akurat –sumbangan keputusan gombal beberapa hari lalu itu ke inflasi relatif kecil. Sumbangan kenaikan harga BBM ke industri, transportasi dan barang/jasa publik lainnya juga mereka katakan kecil. Tapi itu hanya inflasi riil.

Yang jadi soal, tak perlu jadi ekonom, apalagi harus menggilai OL, semua orang juga paham bahwa inflasi itu, dimana pun, dan kapan pun, utamanya sangat tergantung dengan apa yang disebut ekspektasi masyarakat (EM). Selama ini EM selalu berbunyi, kenaikan harga BBM akan membuat segalanya terkerek naik.

EM inilah yang membuat gila angka inflasi. Tapi ini juga riil. EM dengan demikian merupakan bagian dari inflasi. Ngomong soal inflasi agar lengkap, selain berdasarkan angka riil juga harus menyertakan EM. Karenanya, tanpa melihat EM, omongan soal inflasi sesungguhnya adalah mbelgedes yang keterlaluan.

****

Inflasi gila akan membuat ”si doel” jadi gila pula. Orang cenderung memindahkan simpanan Rp-nya ke dolar. Pasalnya, ngapain nyimpan Rp kalau keuntungannya berkurang/habis digerogoti inflasi. Obat inflasi tinggi biasanya sukubunga dinaikkan. Sekarang tinggal nunggu, kapan Boediono menaikkan BI rate.

Kenaikan BI rate yang diikuti kenaikan sukubunga simpanan – yang akan mencegah orang menubruk dolar, artinya bikin Rp aman itu – akan serta-merta langsung diikuti dengan kenaikan sukubunga kredit? Nggaklah. Karena bank juga takut, hal itu justru akan menaikkan potensi kredit macet.

Tapi, sekalipun bunga kredit tak naik, apakah pengusaha mau memanfaatkannya untuk menggelindingkan usahanya, sehingga perekonomian bisa tetap bergerak? Sayang, jawabannya juga nggak. Bagi pengusaha, bukan sukubunga yang jadi ancaman, tapi daya beli masyarakat yang turun gara-gara inflasi (yang ada EM-nya) itu.

Karena takut ancaman daya beli yang rendah itu, maka uang tetap saja parkir di bank. Toh bunga simpanan dinaikkan. Oleh bank, simpanan itu kemudian biasanya dibelikan SBI. Ini jelas akan menggerogoti devisa yang disimpan di BI. Orang-orang BI biasanya akan merewelkan soal ini, dan nggak gampang mau menaikkan BI rate.

****

Apakah kerewelan BI itu akan terjadi? Kalau saja masih ada Burhanudin Abdullah, atau Miranda Goeltom yang naik menggantikannya, kemungkinan BI rewel bisa terjadi. Mereka akan wegah jadi pemadam kebakaran melulu. Inflasi itu karena fiskal. Jadi pemerintahlah yang harus bertindak. Itu tanggungjawab pemerintah. Operasi pasarlah, atau gimana gitu.

Tapi, harus diingat, itu kalau Burhan atau Miranda yang menjadi bos BI. Sementara Boediono tentunya lain. Beliau Orang inilah yang juga merancang skenario besar, lewat UU BI No 3/2004, bahwa moneter (BI) harus ngikutin fiskal (pemerintah).

Operasi pasar jelas akan dilakukan pemerintah. Malah siapa tahu, dananya sebagian bisa diambil dari dana yang sekarang nggak jadi untuk menambah subsidi BBM. Tapi moneter (BI) juga harus mbantu. Itu amanat UU itu. Nah, kebetulan, di situ sekarang ada Boediono. Jadi, kecil kemungkinannya BI akan rewel untuk naikin BI rate. Beres.

****

Artinya, di atas kertas, gilanya inflasi – musuh SBY dkk – bisa teratasi. Tapi kiranya masih ada inflasi lain yang mengancam, yakni ”inflasi cangkem”. Cangkem DPR, misalnya, soal interpelasi atau impeachment itu mungkin bisa dikesampingkan. Selain konyol, itu juga lebih banyak melulu sebagai kemasan pemilu 2009 saja.

Selain itu, bukankah ada Golkar, Demokrat, PPP dan sekian penderek SBY/JK yang akan sekuat tenaga mencegah PKB, PAN atau bahkan PDIP menggelar sidang dagelan yang hanya akan jadi tertawaan akal sehat.

Apalagi, ayam pun tahu, mereka semua – para penggagas ide dagelan — itu semula juga sudah dengan sesadar-sadarnya OK dan ikut mensyahkan UU APBNP 2008. Di UU ini jelas-jelas kasatmata tertulis, urusan kenaikan harga BBM kali ini adalah urusan pemerintah. DPR tak bisa ganggu-gugat lagi.

Jadi, beres. Sekarang tinggal inflasi cengkem yang justru berasal dari SBY dkk. Utamanya, cangkemnya Yusuf Kalla. Sangat bisa jadi, kemasan opportunity loss versi Kalla yang berlebihan dan menjijikan itulah yang menjadi BBM bagi teman-teman mahasiswa sehingga mereka merasa ditantang dan tambah kerasan di jalanan.

4 Responses to “Inflasi Cangkem”

  1. Mas Kopdangon 28 May 2008 at 4:54 pm

    Wakakakakak…
    Bah makin nekat aja nih ..!

    Asyik, Sob…

  2. Dinoon 28 May 2008 at 8:42 pm

    Di masa susah seperti ini harusnya harga bensin diturunkan bukan dinaikkan. Biar orang2 Indonesia bisa jalan2 dan melepaskan penat.

  3. [...] Menurut penasihat spirituil saya, Bah Reggae, disebut Inflasi Cangkem [...]

  4. Dino’s Journal » Dema-Demoon 30 May 2008 at 3:20 pm

    [...] pingin protes, nyentil, ngenyek, ataupun ndukung, mending lewat blog aja. Lebih jelas apa yang diinginkan dan apa [...]

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply