Archive for May, 2008

Bah Reggae

Merah Putih Murah

Merusak rock & roll untuk menyelamatkan rock & roll. Begitu pernah dikatakan majalah Rolling Stone, dulu, mengomentari OK Computer, album Radiohead yang menggegerkan itu. Akankah obrak-abrik versi SBY dkk sekarang ini nantinya juga akan dikenang sebagai penyelamatan ekonomi negeri ini, masih belum jelas.

Yang pasti, akibat 2 kenaikan harga BBM (bersubsidi) – yang dilakukan SBY sebelum 23 Mei kemarin – Maret dan Oktober 2005, perekonomian menjadi berdarah-darah. Pertumbuhan sih masih relatif OK, tapi dengan kualitas yang memprihatinkan. Jumlah orang miskin dan pengangguran meningkat.

Dari data yang ada, per 2006 lalu, setahun setelah 2 kenaikan itu, % orang miskin (dari total penduduk) melonjak menjadi 17,75% dari sebelumnya 15,97%. Lalu, jika sebelumnya setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap tenaga kerja sekitar 100-200ribu orang, tapi pada 2006 lalu itu hanya terserap 42ribu saja.

Bagaimana paska kenaikan harga BBM sekarang ini? Benarkah ini “short term pain, long term gain” seperti yang dengan fasih diocehkan oleh mereka yang dengan riang gembira memberhalakan opportunity loss? Masih harus ditunggu. Kita semua tentunya berharap ”merah putih” membaik dan tak murah lagi.

Merah putih tak murah? Tunggu dulu. Pasalnya, merah putih justru dijual murah di sejumlah toko CD. Di tengah kejahatan industri – seperti yang dikatakan ”raja blog” itu, untuk menunjuk keanehan bahwa harga CD bisa dikerek jauh lebih tinggi ketimbang harga kaset – belakangan ini muncul CD-CD murah dengan stiker merah putih.

Yang paling gres Third, album baru Portishead. Sebelumnya, ada Lemon Head, Mika dan Bjork. Segombal-gombalnya kemasannya, kiranya masih lebih bagus ketimbang kemasan basi opportunity loss itu. Atau setidaknya, merah putih murah itu bisa dipakai menyumpal kuping ketimbang pekak ndengerin argumen basi SBY dkk.

Bah Reggae

Gara-gara Si Doel. Obladi-Oblada

Suka tak suka, semuanya praktis tergantung ”si doel”. Gimana ulahnya, sekarang ini disorot banyak orang. Pasalnya, jika dolar AS naik maka Rp jatuh. Dan ini kiranya akan membuat SBY dkk makin pusing. Bahkan kenaikan harga BBM (bersubsidi), jika dicermati, ujung-ujungnya ”hanya” dimaksudkan agar ”si doel” tak meroket.

Konon, di pasar uang kita, pemain tetap dan terbesarnya adalah Pertamina. Lainnya adalah pemerintah/swasta ketika bayar utang dan para spekulan. Lebih serem lagi, tak peduli harga minyak dunia mau naik menjadi berapa pun, badan pengelola hajat hidup orang banyak itu tetap harus beli minyak. Apalagi, produksi minyak kita merosot terus.

Apalagi lagi, soal produksi ini – plus penentuan harga impor/ekspor, pengilangan, distribusi, tender jatuh ke siapa dll – adalah ”dunia gelap” yang dari dulu sengaja tak pernah dibuat menjadi terang benderang. Audit BPK secara detil dan menyeluruh, sebagaimana soal BLBI, tak pernah ada.

Dan dunia gelap itu terkesan dilanggengkan. Lewat kenaikkan harga BBM kemarin ini, atas nama berhala opportunity loss, secara terang-terangan, seperti kelakuan para bos negeri sebelum-sebelumnya, Presiden yang penyanyi itu tak mau mengutik-utiknya. Alhasil, Pertamina tetap sebagai pemain tetap dan terbesar di pasar uang itu.

****

Karena Pertamina pemain terbesar, maka ulahnya akan menentukan kelakuan dolar. Dolar akan terkerek naik jika terkesan pemerintah kesulitan menyediakan Rp untuk impor minyak. Ini terlihat di APBN. Pemerintah harus menyediakan Rp yang terus membesar — karena harga minyak dunia terus naik — untuk subsidi BBM.

Dengan dinaikkannya harga BBM, maka beban Rp yang harus disediakan pemerintah berkurang. Impor minyak jadinya aman.

Dolar juga bisa terkerek naik jika terkesan ada ketakpastian dalam menutup defisit APBN. Selama ini defisit ditutup dengan utang luar negeri (LN) dan hasil jualan obligasi. Jika harga BBM tak naik (subsidi BBM semakin besar), maka defisit APBN juga akan membengkak.

Bisa sih utang LN dan volume obligasi ditambah. Tapi gimana mbayarnya? Dan yang pasti, jika pemerintah menambah utang LN dan obligasi, maka itu juga berarti ada tambahan di pos pengeluaran untuk mbayarnya. Ini akan mengancam kemampuan penyediaan Rp untuk impor minyak.

Alhasil, dengan dinaikkannya harga BBM, maka kemampuan pemerintah menyediakan Rp untuk impor minyak tak terganggu. Sementara impor akan langgeng karena ”dunia gelap” tak diutik-utik. Selain itu, yang lebih serem, ya itu tadi, berapa pun harga minyak dunia, impor tetap bisa (harus) dilakukan.

****

Bahwa kemudian ada berbagai argumen basi dan menjijikan sebagai anak anak cucunya opportunity loss, itu hal lain lagi dan celakanya (atau untungnya) laris banget. Jika yang gini-gini aja laris, maka bisa dipahami jika laris pula aneka patun balasan seadanya seperti interpelasi dan impeachment itu.

Mbuh. Luweh. Apa boleh buat. Sakarepmu. Obladi-oblada: “Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on/Obladi oblada life goes on bra/Lala how the life goes on….”

Bah Reggae

Cover Version

Salah satu bentuk perayaan itu adalah cover version. Setiap individu berhak – malah barangkali wajib? — memaknai apapun yang (sudah terlanjur) ada di pasar. Pemaknaan itu kemudian menjadi lebih bagus, atau lebih punya greget ketimbang sebelumnya, ini memang relatif.

Tapi serelatif-relatifnya soal itu, di pasar jelas terdengar tepuk tangan atas America versi Steve Howe. Di tangan pengganti Peter Bank di Yes ini, nomor yang sebelumnya lahir dari Simon & Garfunkel itu menjadi lebih rancak bana karena dominasi suara gitar. Ada pula To Love Somebody (Bee Gees) yang lebih macho versi Eric Burdon.

Rod Steward, raja cover version itu, juga merayakan perayaan itu lewat Traubert’s Blues/ Waltzing Matilda, milik Tom Waits. Sheryl Crow dengan D’yer Maker (Led Zeppelin). Rebel Rebel juga tak kalah asyik dengan aslinya (David Bowie) ketika dibawakan Rickie Lee Jones ketika berkolaborasi dengan Leo Kottke. Demikian pula Nirvana dengan The Man Who Sold The Word (Lulu & Bowie) atau Love Buzz (Shocking Blue).

Salah satu cover version yang paling menggegerkan adalah May Way versi The Sex Pistols. Karya Frank Sinatra yang aslinya syahdu itu oleh Johnny Rotten dkk kemudian terkesan dioklek-oklek seenaknya. Pasar ribut. Sampai-sampai Neil Young konon bikin Rust Never Sleeps untuk si Johnny.

Tak hanya artis, SBY dkk pun belakangan juga gencar bercover-version ria. Nyanyian basi opportunity loss dikemas-ulang dengan aneka gaya di sekitar kenaikan harga BBM (bersubsidi). Mulai dari APBN yang berdarah (resiko fiskal), layanan publik yang terancam sampai dengan sejumlah lengkingan dan cengkok menjijikan.

Pengurangan subsidi yang dicoversion menjadi ”mengambil dari yang kaya untuk si miskin”. Menaikkan harga BBM dimaknai sebagai pilihan SBY untuk menyelamatkan APBN ketimbang popularitasnya menjelang pemilu. Tiba-tiba saja SBY menjadi korban dan negarawan.

« Prev - Next »