Archive for June, 2008

Bah Reggae

In Rainbows. Cuma Separo

Nampaknya, ada kalanya pembajak CD tak selalu harus dikutuki. Setelah bosan beli CD bajakan karena kualitas suaranya umumnya hancur, seorang teman mengabarkan ternyata ada pula beberapa CD bajakan yang lumayan. Misalnya saja, ”In Rainbows” (Radiohead). Dua kali beli, dua kali pula ia mengaku puas.

Bahkan, kualitas In Rainbows bajakan Rp 6 ribuan itu tak berbeda banyak dengan edisi ”asli” yang di toko-toko resmi dibandrol Rp 150 ribu. Hanya saja, kemasan CD bajakan itu memang memprihatinkan. Kover ngawur-awuran – yang entah dikopi dari mana – plus, seperti CD bajakan umumnya, plastik bungkus.

Pingin In Rainbows bajakan yang tak saja kualitas suara tapi juga kovernya ciamik? Belakangan juga ada barangnya. Setidaknya, dagangan itu dijual di beberapa konter yang jejer-jejer di depan ”Sydney” (toko audio), Mal Mangga Dua Jakarta. Harganya, kalau ngotot nawar, bisa dilepas Rp 35 ribuan.

Kualitas suaranya praktis mirip In Rainbows ”asli”. Mungkin hanya kuping-kuping jago saja yang mampu mengenali perbedaannya. Lalu, kemasannya juga lebih mewah. Tak seperti kemasan yang mirip amplop CD aslinya. Booklet juga ada. Hanya saja, memang, tak ada stiker kover seperti CD asli.

Tapi, sayang, baik pedagang resmi maupun para pembajak itu, sejauh ini tak mampu mendagangkan In Rainbows yang komplit. Pasalnya, album baru Radiohead ini terdiri dari 2 keping. Keping satu berisi 10 nomor. Ini yang didagangkan. Sementara keping lainnya – berisi 8 lagu – sejauh ini kok belum nampak di pasar yak?

Ke-8 nomor itu terdiri dari MK1, Down is the New Up, Go Slowly, MK2, Last Flowers, Up on the Ladder, Bangers and Mash, dan 4 Minute Warning. Konon kabarnya, 8 nomor bonus track itu memiliki warna musik yang relatif berbeda jika dibandingkan dengan 10 nomor In Rainbows yang saat ini ada di pasar. Benarkah?

Bah Reggae

Bukan Anjing Biasa

Wartawan itu labil. Kadang nggenah. Tapi lebih sering gendeng. Mungkin ini karena dagangan mereka anjing. Anjing khusus lagi. Bukan anjing biasa. Bukan anjing penggigit orang, tapi anjing yang digigit orang. Bagaimana anjing bisa sebodoh itu? Itulah gendengnya wartawan. Anjing gombal kok jadi dagangan.

Kegendengan wartawan itu, misalnya, dirayakan Kompas hari ini (28 Juni 2008). Jadi headline lagi. Mosok krisis listrik karena konsumsi. Ini aneh. Umumnya perusahaan bungah jika konsumen menggilai produknya. Berarti produk itu laris. Tapi ini laris malah krisis. Laris menyebabkan krisis. Laris bukan berkah, tapi bencana. Luar biasa aneh.

Kalau itu menimpa perusahaan gombal-gombalan, bisa saja keanehan itu terjadi. Tapi ini PLN. Monopoli lagi. Absurd. Monopoli, berarti produknya di pasar tanpa saingan. Lalu produk itu laris. Tapi kelarisan itu kemudian dikutuki. Lalu, konsumen disalahkan. Mereka dianggap meminta terlalu banyak. Piye to iki?

Tapi, dasar wartawan gendeng. Jauh lebih mending pedagang ”seng-su”. Mereka ini masih selektif memilih anjing yang hendak didagangkan. Anjing sakit, anjing gombal, atas nama kesehatan konsumen seng-su, pasti disortir. Tapi wartawan? Apalagi wartawan gendeng? Justru anjing gombal yang didagangkan.

****

Untungnya kesehatan konsumen umumnya terjaga. Ini lebih karena akal sehat. Berdasarkan rahmat pemberian Tuhan itu – dan ini yang menjadi pembeda dengan anjing sehat, anjing gombal dan binatang lainnya – konsumen sudah lama tahu, krisis listrik sudah terjadi sejak lama. Dan itu terjadi lebih karena pasokan seret.

Sejak awal, beberapa saat setelah SBY-Kalla nangkring sebagai bos baru negeri ini, mereka sudah berkoar hendak mengakhiri pasokan seret listrik PLN itu. Salah satunya, yang dahsyat, membangun puluhan PLTU baru milik PLN berbahan batubara. Untuk membangunnya PLN kemudian diharapkan menggandeng investor swasta.

Darimana dananya? Porsi terbesarnya disediakan sendiri oleh si investor. Tapi banyak investor ragu dengan PLN. Gimana jika nantinya PLN tak punya uang untuk mengganti uang swasta itu?

Pemerintah lalu ngeluarin jaminan. Dengan jaminan itu, jika proyek batal di tengah jalan, ada (dana) kompensasi. Kompensasi juga disediakan jika publik nantinya membayar lebih rendah dari harga yang seharusnya atas produk PLTU itu.

Yang lebih hebat lagi, pemerintah juga nanggung utang PLN. Tak cuma utang PLN ke investor. Tapi juga utang PLN lainnya agar tak mengganggu kelancaran pembayaran utang PLN ke investor. Investor mana yang tak terkiwir-kiwir?

Masalahnya kemudian adalah siapa investor swasta yang jadi mitra PLN? Yusuf Kalla konon punya calon. PLN juga punya calon sendiri yang berbeda dengan calon Kalla. Sampai kini udreg-udregan soal itu masih berlangsung. Pembangunan PLTU-batubara molor. Realisasi menutup seretnya pasokan listrik jadinya molor pula.

****

Maka kemudian muncul kembali isu krisis listrik itu. Tapi yang diblow-up – dan jadi headline berkat wartawan gendeng — bukan pasokan seret dan kegagalan SBY-Kalla dkk mengatasinya, melainkan gombalnya konsumen yang minta terlalu banyak. Konsumen jadi tertuduh. Monopoli, produknya laris-manis, tapi konsumen disalahkan.

Kalau saja Kotler – yang diekori teman-teman lokal itu – berkenan membuang sedikit saja akal sehatnya, bisa jadi dalam waktu dekat akan terbit buku barunya yang membahas keanehan itu. Tapi, isinya, berani bertaruh, dari awal sampai halaman akhir cuma ini: ”Ha-ha-ha”. Atau, ”Asyuuuu…”, kalau Kotler kebanyakan tinggal di Yogya.

Bah Reggae

The Singer Not The Song Doang

Tidak saja di Monas. Tidak juga di depan Atmajaya atau di dekat Moestopo beberapa saat setelahnya. Itu hanya sebagian kecil. Masih banyak yang lain. Tapi intinya, capnya sama saja. Kekerasan. Khusus untuk aksi-aksi mahasiswa belakangan ini berkenaan dengan kenaikan harga BBM (bersubsidi) cap itu bertambah lagi. Anarki.

Lalu, beberapa pihak merasa terganggu. Mengapa melempar pendapat harus dengan batu? Mengapa pakai pentungan? Mengapa menganiaya? Mengapa merusak? Mengapa memacetkan lalulintas? Mengapa kenyamanan, keamanan dan sejumlah variasi varian turunan ”kepentingan umum” menjadi terganggu?

Malah, tak sedikit dari mereka yang merasa terganggu – setidaknya merasa nggak sreg — itu kemudian ada juga yang bertanya-tanya. Jika aksi itu mengatasnamakan rakyat, kepentingan rakyat yang mana yang diperjuangkan? Kami juga rakyat, kami (mungkin) juga merasakan yang Anda rasakan, tapi kok …. dst. Seru.

Lebih seru lagi argumen dari mereka yang dikesankan atau terang-terangan ngaku terlibat dalam aksi itu. Demikian pula argumen mereka yang sedikit atau banyak membenarkannya.

Kami diprovokasi. Mereka yang nantang duluan. Jangan salahkan kami, karena kebijakan yang tak adil itulah yang membuat kami demikian. Besar mana kerugiannya: Aksi kami atau kebijakan yang tak adil itu? Ini kerja anasir. Mereka inilah yang menunggangi. Mereka sedang memancing di air-keruh… dst.

Tapi, masih ada yang lebih nggilani lagi. Mereka ini bilang, ”Inilah Indonesia”. Busyet!

Haruskah selalu cuma berputar-putar dan berakhir seperti itu? Cuma mak plenyik begitu? Nyanian memang selalu indah. Tapi, umumnya, agar semakin banyak lagi orang yang bisa dan rela menikmati nyanyian itu, akhirnya juga tergantung pada bagaimana aksi penyanyinya.

Next »