Jun 3rd, 2008
Jagoan
Sepintas ini kayak film-film Amerika umumnya. Sang jagoan bertindak sendiri ketika “kejahatan”merajalela karena polisi (aparat penegak hukum) gombal dan korup. Tapi The Brave One tak persis seperti itu.
Di film ini, polisi bersih. Taat hukum. Tapi justru karena begitu, “penjahat” jadinya tak tersentuh. Jika hukum tak bisa menjerat penjahat, lalu siapa yang harus mmbasmi mereka? Begitu tanya sang jagoan (Jodie Foster). Maka jagoan ini ngamuk. Dar, der, dor. Penjahat bergelimpangan. Namanya juga fiksi. Hiburan.
Tapi, tayangan di TV-TV itu tentunya bukan hiburan. Ini juga nyata. Bukan fiksi. Lebih serem lagi, ini tak ada kaitannya dengan hukum (positif) yang memihak penjahat. Juga bukan soal polisi gombal. Tapi, lebih pada klaim bahwa jagoan bisa berbuat apa saja. Maka dihajarlah arakan Aliansi KKBB di Monas itu.
Tak seperti Jodie Foster yang merasa bersalah setelah ngamuk, jagoan kita kali ini terkesan malah sedang merayakan pesta. Kalau gak berani perang, jangan nantang. Atau, mereka kriminal, sehingga layak diperangi. Dan sejumlah argumen lainnya. Tapi mungkin bukan itu yang penting. Pasalnya, mana ada jagoan perlu argumen.