Bah Reggae

May

Film memang begitu. Akting bagus, crita kuat, editing rancak, gambar memikat, dan aneka jerat ukuran filmis lainnya. Lalu, ini juga penting, laiknya barang dagangan umumnya, meledak di pasar. May mungkin tak akan lolos melewati jerat-jerat itu. Tapi mungkin bukan itu yang penting.

Ini memang “cuma” kisah cinta. Tapi ketika ”asal-usul” para pelaku cinta itu disodor-sodorkan, maka May kiranya bukan lagi sekadar ngomongin orang yang sedang dijatuhi atau tak dijatuhi cinta, lalu bungah, nangis atau uring-uringan. Inilah yang barangkali membedakan May dengan yang lain.

Lebih seru lagi, ”asal-usul” itu selama ini semacam pintu tertutup. Banyak orang, dengan argumen yang macam-macam, akhirnya dengan sukarela membubuhkan gembok dan aneka slorok pada pintu itu. Begitulah Mei 1998. Sama seperti kisah PKI dan horor lainnya, ia terkesan menjadi verboden.

Tapi itu orang lain. Banyak orang lain. Bisunya orang lain. Silent majority? Mungkin. Dan yang lebih serem, para korban pun termasuk di kategori itu. Tapi yang jelas, itu bukan Viva Westi dkk. May jadinya mirip puisi pendek itu. “Hatimu tertutup? It’s OK. Aku masuk lewat mimpimu”.

Dan ketika itu terjadi, kisah cinta di May tak lagi seperti nyanyian cinta Peter Gabriel (di Up, 2002) yang sekadar, ”…. I need to be needed/When my self-esteem is sinking/I like to be liked/In this emptiness and fear/I want to be wanted/’Cause I love to be loved/I love to be loved/Oh…….”.

One Response to “May”

  1. Kopdangon 05 Jun 2008 at 3:47 pm

    Viva westi -Serambi-..?

    Wah, sudah ada film baru lagi dari dia ya..?

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply