Jun 23rd, 2008
Spekulan
Lagi-lagi cuma seperti itu. Fundamental selalu dianggap OK. Ketika terjadi krisis, spekulan yang disalahkan. Ini persis krisis 1997 lalu. Biang keroknya spekulan. Sementara fundamental dianggap tak ada masalah. Maka, utang jangka pendek untuk proyek jangka panjang, misalnya, dianggap OK-OK aja.
Kali ini juga begitu. Ketika harga minyak gila, semantara ekonom juga ikut-ikutan menghamburkan energi menyalahkan spekulan. Menurut Tony Prasetiantono (Kompas, 16 Juni 2008), negara adidaya harus intervensi untuk menstop aksi spekulan. Sementara pemerintah negeri ini harus aktif menyuarakannya dan mendesak negara adidaya.
Tanpa usaha menghentikan spekulan, harga minyak akan semakin gila. Ini akan membuat subsidi BBM bengkak dan RAPBN 2009 tak realistis. Nggenjot pendapatan plus motong anggaran sudah optimal. Menaikkan lagi harga BBM juga sulit, karena faktor politis, pemilu 2009.
Tapi, rekomendasi itu terkesan cap bebek. Sekadar bersuara. Mungkin itung-itung merayakan eforia dunia sekitar soal aneka meeting negara industri, OPEC-NonOPEC, blow-up sinyalemen transaksi fiktif suplai-demand minyak dunia, ide winfall profit tax dan entah apalagi.
Dunia ramai lagi ngomong soal itu, maka tak ada jeleknya ikut-ikutan. Yang penting trend. Nggak afdol, nggak modis kalau nggak ikutan ngomong soal itu. Manut grubyuk. Ini perayaan. Kita bisa ikutan merayakan sambil tak peduli apakah pola pengelolaan minyak kita sama dengan peserta lainnya atau nggak.
****
Menyalahkan pihak lain memang sip. Dan ini menjadi lebih sip lagi karena ”inward looking”, sekalipun lebih realistik, terasa menyesakkan. Boediono (Tempo, 2-8 Juni 2008), misalnya, percaya pada hukum gaya berat. Ada naik ada turun. Ia percaya harga minyak akan turun. Turun jadi berapa dan kapan, itu bukan soal.
Baginya, yang penting, apa yang kita lakukan. BI, katanya, ”hanya” akan mengandalikan dampak kenaikan harga minyak (plus komoditas lain). Tapi stop sampai di situ. Tak merembet ke soal lainnya. Pasalnya, jika merembet ke hal lain, itu justru hanya akan menyebabkan keadaan tambah parah.
Yang lebih berterus terang lagi adalah Sri Mulyani (Kompas, 21 & 23 Juni 2008). Ia yakin akan terjadi equilibrium baru. Ekonomi tak akan (semudah) lagi seperti sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah. Tapi, sama seperti Boediono, baginya, yang lebih penting adalah apa yang (akan) kita lakukan.
Tapi, omongan Boediono dan Sri itu tampaknya bukan dimaksudkan sebagai konter trend gampang-gampangan selebritas lokal yang mengkambing-hitamkan spekulan. Pasalnya, saat ini banyak selebritas lokal lain yang lebih tak membumi lagi. Yakni, mereka yang percaya ekonomi negeri ini dalam waktu dekat ini bisa melejit.
****
Orang-orang seperti Yusuf Kalla, misalnya. Ia percaya, dalam situasi seperti ini, perekonomian kita masih bisa tumbuh lebih dari 6%. Luar biasa. Bisa jadi, optimisme itu bukan karena faktor Wakil Presiden atau Ketua Golkar yang kemungkinan akan maju di pemilu nanti, tapi lebih pada ketajaman hidung pedagangnya.
Seperti diketahui, selain investasi, ekspor (impor) dan konsumsi masyarakat, motor penggerak ekonomi adalah pengeluaran pemerintah. Lebih dari ekonom, kemasan Kalla soal opportunity loss begitu luar biasa. Ada kesan, kengototannya agar subsidi BBM dikurangi untuk mengamankan pengeluaran pemerintah.
Sedikit banyak pengeluaran pemerintah itu terkait dengan kelangsungan bisnisnya dan para petinggi yang sekaligus juga pedagang. Dan bisnis itu tak terkait langsung dengan daya beli konsumen. Pasalnya, pasar bisnis mereka adalah pemerintah. Misalnya saja, aneka proyek infrastruktur itu (listrik batubara, jalan tol dll).
Lebih dahsyat, beberapa proyek beroleh jaminan pemerintah. Berkat jaminan itu proyek tak bisa batal. Dijamin pula harganya ketika pemerintah mengkonsumsikannya untuk publik. Jika proyek itu dibatalkan, atau publik tak bisa bayar, pemerintah menyediakan kompensasinya. Berapa besarnya, ada di APBN. Itu ada baru di jaman SBY-Kalla.
Kemarin ane’ ikut acara brosan, Bah..
“Obrolan santai” di kantor ane’..
Boediono dalam kepemimpinan kelihatan lebih membumi walau dalam komunikasi masih kalah lancar dengan BA.
Lebioh santun, berbahasa “terang”, dan sepertinya sih lebih bersahaja.