Jun 27th, 2008
The Singer Not The Song Doang
Tidak saja di Monas. Tidak juga di depan Atmajaya atau di dekat Moestopo beberapa saat setelahnya. Itu hanya sebagian kecil. Masih banyak yang lain. Tapi intinya, capnya sama saja. Kekerasan. Khusus untuk aksi-aksi mahasiswa belakangan ini berkenaan dengan kenaikan harga BBM (bersubsidi) cap itu bertambah lagi. Anarki.
Lalu, beberapa pihak merasa terganggu. Mengapa melempar pendapat harus dengan batu? Mengapa pakai pentungan? Mengapa menganiaya? Mengapa merusak? Mengapa memacetkan lalulintas? Mengapa kenyamanan, keamanan dan sejumlah variasi varian turunan ”kepentingan umum” menjadi terganggu?
Malah, tak sedikit dari mereka yang merasa terganggu – setidaknya merasa nggak sreg — itu kemudian ada juga yang bertanya-tanya. Jika aksi itu mengatasnamakan rakyat, kepentingan rakyat yang mana yang diperjuangkan? Kami juga rakyat, kami (mungkin) juga merasakan yang Anda rasakan, tapi kok …. dst. Seru.
Lebih seru lagi argumen dari mereka yang dikesankan atau terang-terangan ngaku terlibat dalam aksi itu. Demikian pula argumen mereka yang sedikit atau banyak membenarkannya.
Kami diprovokasi. Mereka yang nantang duluan. Jangan salahkan kami, karena kebijakan yang tak adil itulah yang membuat kami demikian. Besar mana kerugiannya: Aksi kami atau kebijakan yang tak adil itu? Ini kerja anasir. Mereka inilah yang menunggangi. Mereka sedang memancing di air-keruh… dst.
Tapi, masih ada yang lebih nggilani lagi. Mereka ini bilang, ”Inilah Indonesia”. Busyet!
Haruskah selalu cuma berputar-putar dan berakhir seperti itu? Cuma mak plenyik begitu? Nyanian memang selalu indah. Tapi, umumnya, agar semakin banyak lagi orang yang bisa dan rela menikmati nyanyian itu, akhirnya juga tergantung pada bagaimana aksi penyanyinya.