Bah Reggae

Industri Selera Bebek

Selera musik, katanya, bisa dibikin. Selera adalah semacam suka/tak suka. Gimana cara bikin selera? Lewat regulasi industri musik. Begitu katanya. Apakah itu berarti industri harus begini-begitu, tak jelas benar. Yang pasti, konon, tanpa regulasi, di pasar tak akan ada lagi yang bisa sekelas seperti Ebiet G Ade, Iwan Fals, atau Badai Pasti Berlalu.

Mengapa (harus) Ebiet, Iwan atau Badai? Katanya, itulah musik pop (lokal) yang bicara tema-tema besar, yang mencermnkan persoalan riil negeri ini.

Benarkah? Entahlah. Yang pasti, itu “argumen kacau”. Memang sih tak semuanya ndagel. Sebagian ada yang nggenah. Misalnya, soal Ebiet dkk itu. Harus diakui, beliau-beliaulah yang mengangkat tema-tema besar. Dan (mungkin) tema besar itu cerminan persoalan riil negeri ini.

Tapi, nah ini dia, apakah jika konsumen suka (berselera) pada Ebiet dkk, itu sepenuhnya berkat kerja industri? Lalu, jika konsumen suka yang non-Ebiet dkk, itu juga semata karena industri? Atau, industri dulu dan sekarang lain. Yang dulu bisa bikin orang suka Ebiet dkk. Yang sekarang bikin orang suka yang non-Ebiet dkk?

Benarkah industri sekuasa itu? Bahwa industri berkuasa dan punya kuasa nggegirisi, benar. Memang iya. Tapi, sampai bisa bikin selera? Apakah kuasanya bisa membuat konsumen jadi gombal? Benarkah konsumen bisa sepasif itu? Industri bilang A maka pasar otomatis akan mengekornya?

Di sinilah kiranya letak nggak nggenahnya – sekalipun gagah dan heroik – argumen kacau itu.

Tapi OK-lah, nggak pa-pa yang kacau-kacau itu muncul. Biarin. Sah-sah aja kok. Ini sama sahnya dengan “argumen tak kacau” yang berpangkal pada anggapan bahwa konsumen itu aktif. Konsumen sama sekali bukan pasif. Mereka bukan benda mati. Benda yang disuntik apapun akan manut-manut saja.

Buktinya, silakan hitung berapa dagangan musik yang gagal di pasar. Berapa banyak dagangan yang oleh industri dimaksudkan untuk disukai, tapi ternyata nggak laku di pasar. Ini tak hanya menunjukkan selera (suka/tak suka) itu susah ditebak, tapi yang lebih penting lagi adalah konsumen itu aktif. Mereka bukan bebek.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply