Jul 21st, 2008
Honky Tonk Racun
Beginilah gurihnya pop. Nyrempet dagangan lain tak mengapa. Asalkan kemiripannya tak lebih dari sekian bar, beres. Orisinalitas? Kompetensi? Apakah soal-soal beginian ini masih penting ketika saat ini setiap pihak berhak memaknai apapun yang sudah terlanjur ada di pasar?
Karenanya, kiranya kredo Harry Rusli sudah lebih dari cukup. ”Barang siapa mau masuk, masuk,” katanya di Opera Ken Arok. Ya, setiap pihak berhak ”masuk”. Musik itu angin, kata Try Anastasio. Ia tak bisa dimonopoli. Begitulah fitrah pop. Soal lain, agar tak kembali ke ”jaman batu”, kemudian jadi sekadar berebut pepesan kosong.
Agus Suwage, misalnya, ketimbang merisaukan orisinalitas atau keterpengaruhan dari sana-sini, ia lebih watir pada soal kontinuitas dalam berkarya. Buat apa ini-itu, kalau bikin njendel produksi & apresiasi. Apalagi jika kambinghitamnya orisinalitas, kompetensi dan sekian pepes gombal lainnya.
Maka terjadilah jamur di musim hujan. Pating jredul. Di major label, misalnya, ada Pas, Ada, Peterpan, Radja, Nidji atau Kangen Band melengkapi Dewa, Gigi, atau Padi, dan sekaligus mengubur mereka yang susah lakunya. Apalagi di indie. Perayaan itu jauh lebih terasa lagi gregetnya.
Dan kini ada The Changcuters (Mencoba Sukses Kembali). Mereka ini sedang pencilakan merayakan sebagian Rolling Stones. Mengapa sebagian? Karena di situ hanya ada Not Fade Away (Pria Idaman Wanita), Spider & The Fly (Stokelan Blues) atau Honky Tonk Woman (I Love U Bibeh). Sah-sah aja sih.
Malah, mungkin, sebagian kalangan justru bersyukur karena The Changcuters terkesan tak hendak melumat dan melokalkan You Can’t Always Get What You Want, Time Waits for No One, Brown Sugar, Star Star dan sekian wajah Rolling Stones lainnya yang juga sudah terlanjur ada di pasar.
asem.. mirip tenan lagune…
changcuters = rolling stone ??