Bah Reggae

Di Pop Ada Verboden?

Mau diputer-puter seperti apa, pop tetaplah pop. Tak lebih, tak kurang. It’s only rock ’n roll, kata Mick Jagger suatu kali. Dan pop bukan DPR. Di DPR, mereka yang semula tak mendukung ”hak angket” lalu dianggap tak layak mimpin pansusnya dan diragukan niatnya untuk membongkar dunia gelap tata-kelola BBM.

Memang, John Lennon pernah ngejek Paul McCartney, lewat How Do You Sleep? (Imagine). Peter Gabriel juga nggak nggubris vokal Phil Collins. Di Supper’s Ready (Foxtrot) drummer itu cuma kebagian “off side” doang, dan sebentar banget sahut-sahutan dengan Gabriel. Entah gimana critanya, Collins akhirnya bisa full nyanyi di More Fool Me (Selling England by Pound).

Tapi, ejek-mengejek itu hanya sampai di situ saja. Tak pernah menjadi verboden atas dasar label layak atau tak layak. Bahkan mereka yang mengklaim anti-pop pun OK-OK saja di pop. Pop jadinya variatif. Ia milik banyak orang dengan kecenderungan yang tak harus sama.

Gimana jika kecenderungan itu hendak diatur-atur? Pertanyaan ini sebenarnya bisa dijawab dengan: Buat apa? Tapi jelas, jawaban itu bisa diartikan sebagai tak menghargai kehendak yang ingin mengatur-atur itu. Mungkin, agar nafsu mengatur itu tersalur, tempatnya yang pas ya di DPR saja.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply