Jul 23rd, 2008
Bukan Pasar Malam
Bukan Goenawan Mohamad jika “caping”-nya di Tempo tak memikat. Tapi, jangan-jangan, justru karena setiap capingnya memikat itulah ia kemudian sejauh ini terkesan ogah mencapingkan Lapindo. Alasan persisnya mengapa tak pernah ada caping tentang Lapindo, jelas hanya Goenawan sendirilah yang tahu.
Gerai. Begitulah capingnya yang terbaru (Tempo, 21-27 Juli 2008). Ini tentang perayaan aneka parpol menjelang pemilu 2009. Baginya, perayaan itu tak menyangkut substansi. Perayaan itu sekadar sebagai kewajiban (?) ritual 4 tahunan doang. Malah, itu tak lebih sekadar pasar malam belaka.
Lalu, seperti pasar malam pada umumnya, dagangan yang ditawarkan di situ menjadi tak penting. Yang penting cuma satu. Gimana meraup konsumen banyak-banyak. Titik.
Benarkah? Seburuk itukah? Untunglah, bukan GM jika ia sama sekali tak menyisakan optimisme. Ia masih percaya bahwa baik di dalam maupun di luar parpol, ada berbagai pihak yang tetap ”serius” memikirkan kualitas dagangannya. Dagangan yang menggugat, yang diyakini, untuk sesuatu yang lebih baik.
Pertanyaannya, siapa pihak-pihak yang serius itu dan gimana kualitas gugatan dagangan mereka?
Suka tak suka, di pasar pasar malam itu, muncul sekian wajah baru. Anak-anak muda pun pating jredul. Ini mengasyikkan.
Lalu gimana kualitas gugatan dagangannya? Nah ini dia. Memang gimana detilnya belum terpapar benar. Namun, setidaknya Fadjroel Rachman (Kompas, 22 Juli 2008) sudah melansir ide-ide besar. Misalnya, (1). Nasionalisasi aset negara (telekomunikasi, migas dan tambang); (2). Penolakan pembayaran utang haram ; (3). Pajak progresif ; (4). Pengadilan Soeharto dan kroninya; (5). Pengadilan pelanggaran HAM berat.
Orang-orang seperti Dradjad Wibowo atau Rizal Ramli mungkin akan menambahkan daftar itu dengan hair cut, optimalisasi posisi strategis (geo-politis) negeri ini di rundingan bilateral dengan negara/lembaga pemberi utang, pengurangan beban bunga rekap dan berbagai isu lain yang selama ini dihindari oleh banyak pihak.
Rizal Mallarangeng, jika ia sudi meladeni Fadjroel, jelas akan menawarkan dagangan yang lain lagi sesuai dengan label ”neo-lib”-nya. Jika ini terjadi, tentunya, pasar malam ini akan semakin menarik. Tontonan jadinya bukan melulu tayang ulang sinetron SBY, Yusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Wiranto dan para barang bekas lainnya.

[...] mungkin, kata Mbah Reggeae lagi: Orang-orang seperti Dradjad Wibowo atau Rizal Ramli mungkin akan menambahkan daftar itu dengan [...]
Kalau sudah naik, dagangan ya tinggal dagangan. Gak ada bedanya koq. Percaya deh …
Salam, Laler …
PS. Sebuah kehormatan bisa berkenalan ….
Sepakat dengan adanya perbaikan kulitas dagangan2 politik. Masalahnya kemudian rakyatnya merespon apa enggak. Masyarakat tau gak kalau dagangan yang satu lebih berkualitas dari dagangan lain soalnya dagangan lain itu meskipun kualitasnya jelek tapi kemasannya bagus. Semoga dagangan yang jelek lekas rusak dan berkarat biar banyak dagangan lain yang bagus2 masuk.