Bah Reggae

Industri Pretelan

Bukan album yang dijual, tapi single. Konsumen jadinya bisa bikin kompilasi menurut versinya sendiri, bukan versi pedagang kompilasi. Lalu belakangan ada yang lebih dahsyat lagi. Bukan album. Bukan single. Tapi potongan single yang dijual. Aneka riff, cuilan intro atau refrain didagangkan. Dan laris banget.

Buktinya, industri “ring back tone” (RBT) itu. Kata Swa (12-25 Juni 2008), dari total rupiah yang didapatkan dari dagangan musik, sumbangan terbanyak berasal dari RBT. Dari dagangan RBT, si artis, katanya, beroleh duit yang berkali lipat lebih besar ketimbang hasil yang ia peroleh dari jualan album.

Halo, sayang. Kenapa diangkat? Gombal kamu. Jangan diangkat dong. Aku lagi ndengerin RBT-mu. Asyik banget tuh. Baru lagi? Lagunya siapa sih? OK, sekarang matiin. Ntar aku telpon lagi. Tapi jangan diangkat! Bener yak? Thanks. Daaaaag…..

Modern? Entahlah. Yang jelas, dulu Pramudya Ananta Toer mendagangkan Bumi Manusia, di Pulau Buru sana, mula-mula juga per cuilan. Cerita “kancil” dan aneka legenda didagangkan secuil-secuil oleh para simbah. Pengamen pun nyanyi sepotong-sepotong. Langka ada pengamen yang menolak bayaran sekalipun ia tak menyelesaikan lagu dagangannya.

Itu tadi kelakuan pedagang. Bagaimana konsumen? Sejak dahulu kala, di mana pun, yang namanya bersenandung, apalagi di kamar mandi, tak pernah full satu lagu. Begitu juga bersiul. Mau dibikin aturan canggih kayak apapun, “rengeng-rengeng” dan “singsot” pasti cuma cuilan.

Inilah dahsyatnya pop. Bukan hanya pedagangnya, tapi konsumennya juga dahsyat. Malah, menyimak kasus singsot itu, terkesan para pedagang justru hanya memanfaatkan ketajaman hidungnya dalam mengendus kebiasaan konsumen penggemar pretelan. Sah-sah aja sih. It’s OK.

One Response to “Industri Pretelan”

  1. mas kopdangon 25 Jul 2008 at 9:43 pm

    pretelan itu nyeni ba…

    (*sorry komennya kena pretel..*-asal bukan kena bredel!)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply