Politik itu harus serius. Mungkin di sini kelirunya. Lalu muncul-lah aneka sergahan gombal ini. Track record, apa kiprahnya selama ini untuk orang banyak, kredibilitas dan entah apalagi mengiringi munculnya artis dan para muda terjun ke politik. Mereka cuma anak TV. Sinetron, talk show, dan aneka acara cengengesan lainnya. Nggak pantas!
Lebih gombal lagi klaim balasannya. Para bintang layar kaca itu lalu menunjuk ke Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger. Bintang talk show seperti Fadjroel Rachman dan Rizal Mallarangeng juga serius nyebut-nyebut Barrack Obama, Dmity Medvedev atau Soekarno dkk. Yang muda berpolitik. Sah dan pantas adanya.
Jika sudah begini, apa masih ada gunanya jika Tamara Geraldine dkk atau Fadjroel dan Rizal sekarang lalu buru-buru menyusun dan segera memaparkan rincian program dagangannya. Mereka tentunya juga males untuk sekadar mengingatkan bahwa Megawati Soekarnoputri dan Cory Aquino, atau Jimmy Carter dulunya juga tak punya track record.
Dan itu barangkali tak penting. Ini juga bukan cuma soal macetnya kaderisasi parpol. Yang karena macet lalu nampung artis banyak-banyak. Ini juga bukan pula sekadar soal nafsu parpol untuk beroleh kekuasaan lewat popularitas artis. Bahkan mungkin tak pula berhubungan dengan politik semata.
Mungkin inilah saatnya, mumpung ada hajatan gede-gedean, negeri ini kini “hanya” sedang melakukan revitalisasi TV. Hampir semua soal revitalisasi sudah diborong SBY dkk. Mulai dari pertanian, infrastruktur sampai nilai ”kemandirian”, ”kebangsaan” dan entah apalagi yang gede-gede. Yang jelas bukan TV.
Oleh banyak pihak, TV selama ini dianggap ecek-ecek. Persis yang dibilang ”caping”-nya Goenawan Mohamad (Tempo, 31 Agustus 2008, hal 146). Katanya, ”….Sinetron adalah sebuah statemen bahwa serius itu tak bagus”. Di TV tak ada sesuatu yang layak direnungkan. Di situ tak ada kerja keras. Dll. Busyet!
Tapi biarin sajalah. Nya Abas Akub di Inem Pelayan Sexy (1976) pernah menggambarkannya dengan cespleng. Ada komando dari Karjo AC DC, ”Let’s go!”. Lalu para kere itu ramai-ramai terjun ke kolam renang. Para tuan dan nyonya hanya terbelalak. Mereka tak bisa mencegah ”kekurang-ajaran” itu terjadi.