Archive for August, 2008

Bah Reggae

Munir, Sapto, Marsinah, Udin Dll

……. Dan yang lebih penting lagi, temukanlah pembunuhku! Karena meski kau menguburku di makam yang paling agung sekalipun, selama bajingan itu tetap bebas berkeliaran, aku akan menggeliat-geliat resah di dalam kuburku, menanti dan merasuki kalian semua dengan ketidak-percayaan. Temukan pembunuh laknat itu ……

(Namaku Merah Kirmizi, Orhan Pamuk, Serambi Ilmu Semesta, 2007)

Bah Reggae

Serangan Ecek-ecek

Politik itu harus serius. Mungkin di sini kelirunya. Lalu muncul-lah aneka sergahan gombal ini. Track record, apa kiprahnya selama ini untuk orang banyak, kredibilitas dan entah apalagi mengiringi munculnya artis dan para muda terjun ke politik. Mereka cuma anak TV. Sinetron, talk show, dan aneka acara cengengesan lainnya. Nggak pantas!

Lebih gombal lagi klaim balasannya. Para bintang layar kaca itu lalu menunjuk ke Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger. Bintang talk show seperti Fadjroel Rachman dan Rizal Mallarangeng juga serius nyebut-nyebut Barrack Obama, Dmity Medvedev atau Soekarno dkk. Yang muda berpolitik. Sah dan pantas adanya.

Jika sudah begini, apa masih ada gunanya jika Tamara Geraldine dkk atau Fadjroel dan Rizal sekarang lalu buru-buru menyusun dan segera memaparkan rincian program dagangannya. Mereka tentunya juga males untuk sekadar mengingatkan bahwa Megawati Soekarnoputri dan Cory Aquino, atau Jimmy Carter dulunya juga tak punya track record.

Dan itu barangkali tak penting. Ini juga bukan cuma soal macetnya kaderisasi parpol. Yang karena macet lalu nampung artis banyak-banyak. Ini juga bukan pula sekadar soal nafsu parpol untuk beroleh kekuasaan lewat popularitas artis. Bahkan mungkin tak pula berhubungan dengan politik semata.

Mungkin inilah saatnya, mumpung ada hajatan gede-gedean, negeri ini kini “hanya” sedang melakukan revitalisasi TV. Hampir semua soal revitalisasi sudah diborong SBY dkk. Mulai dari pertanian, infrastruktur sampai nilai ”kemandirian”, ”kebangsaan” dan entah apalagi yang gede-gede. Yang jelas bukan TV.

Oleh banyak pihak, TV selama ini dianggap ecek-ecek. Persis yang dibilang ”caping”-nya Goenawan Mohamad (Tempo, 31 Agustus 2008, hal 146). Katanya, ”….Sinetron adalah sebuah statemen bahwa serius itu tak bagus”. Di TV tak ada sesuatu yang layak direnungkan. Di situ tak ada kerja keras. Dll. Busyet!

Tapi biarin sajalah. Nya Abas Akub di Inem Pelayan Sexy (1976) pernah menggambarkannya dengan cespleng. Ada komando dari Karjo AC DC, ”Let’s go!”. Lalu para kere itu ramai-ramai terjun ke kolam renang. Para tuan dan nyonya hanya terbelalak. Mereka tak bisa mencegah ”kekurang-ajaran” itu terjadi.

Bah Reggae

Band Warung Padang

Serasa bukan di Yogya. Satunya, Ambarukmo Plaza. Ini mal nyaman. Tak kalah dengan mal-mal nyaman di Jakarta. Lebar. Lapang. Jauh dari kesan sumpek sebagaimana Malioboro Mal yang sangat khas Yogya. Semrawut. Temannya di Jakarta banyak. Ada Mal Semanggi, Ambasador atau rombongan ITC.

Satunya lagi, mungkin, underpass Adisucipto. Ini “barang baru” bawah tanah sepanjang 100-an meter, penghubung terminal dan lapangan parkir plus ”stasiun” kereta dan bus. Sekarang baru 1 yang beroperasi. Katanya, kelak ada 2 under-pass. Kesemrawutan berkurang? Akses dari/ke dalam kota dan kota lain jadi gampang? Entahlah.

Yang pasti, siang itu, tak sedikit orang yang wira-wiri di under-pass atau sekadar melongok-longok. Serasa bukan di Yogya, kata bapak tua, yang mengaku asli Yogya tapi terpaksa pasrah menjaja(h)kan diri di Jakarta. Mengapa? Ia kemudian menjawab panjang lebar. Salah satunya ini.

Ternyata Yogya bisa juga apik. Enak dilihat. You lihat itu fly over Lempuyangan dan Njanti? Saya pikir kota ini hanya akan dipenuhi barang-barang seperti itu. Sudah nggak nyaman dipakai, bentuknya pun wagu dan kaku. Saya nggak habis pikir mengapa Yogya nekat bikin fly over kayak gitu. Untung ada underpass ini. Untung ini bukan fly over.

Tapi, ada pula celakanya. Apa itu? Dengan adanya underpass yang asyik ini, maka bangunan terminal itu menjadi nggak layak lagi. Njomplang.

Orang tua itu dan beberapa yang lain melongok under-pass. Seolah tak mau ikutan heboh. Ada apa? ST12. Band ngetop ini sedang serius membuat orang menoleh. Seragam kacamata hitam. Ngomong keras. Ketawa kenceng. Tak saja di warung ”padang” pojok bandara ketika bersantap, tapi juga ketika check-in dan boarding. Lalu, gitaran di ruang tunggu.

Next »