Aug 4th, 2008
Blowjob Is Better Than No Job
Mungkin kerennya unplugged. Tapi intinya sama: Pretelen. Dan di mana pun, dan kapan pun, ia nyaris tak pernah ambil pusing apakah itu terjadi karena “mreteli” atau “dipreteli”. Lebih tak ambil pusing lagi, mreteli/dipreteli dari apa. Tahu-tahu, di pasar ada. Didagangkan begitu aja.
Maka Kurt Cobain mbeker-mbeker mirip kambing disembelih di Where Did You Sleep Lat Night. Di “distro” PIM-1 itu juga ada dagangan Che, Mao, warna Rasta merah-ijo-kuning dipajang bareng-bareng dengan teks I Love NY, I Love Papua, Blow Job is Better Than No Job dan entah apalagi.
Untung saya tak nekat menanya ke pedagang distro itu apakah ada juga kaos SBY, Yusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Sultan, Wiranto, Fadjroel Rachman, Rizal Mallarangeng, Yuddy Chrisnandi dan para capres lainnya. Pasalnya, jangan-jangan, pertanyaan itu hanya akan membuatnya tersinggung. Lalu pedagang itu akan menjawab yang justru malah bikin saya tersinggung. “Emangnya, apa menariknya mereka-mereka itu dikaosin?”.
Saya juga jadi tak berminat menanya ke konsumen mengapa pakai kaos Mao atau Che. Ini karena si Paman belum-belum sudah menyergah dengan “Habis gambarnya lucu, sih”. Malah, masih menurut konglomerat blog itu, bisa jadi pemakai kaos itu yang akan gantian nanya, “Gambar siapa sih ini?”.
Begitulah unplugged. Pretelan. Pop. Maka sah-sah aja ketika Duta Suara memreteli diri sendiri. Misalnya, di Citos dan Senayan City ada Beats. Yang lebih idih banget pretelannya, Tracks, di Pasific Place. Di Grand Indonesia pun salah satu pedagang CD tertua yang selama ini dikonotasikan relatif lengkap ini juga jualan pretelan.
Jadi, pusatnya ada di Sabang yang ”dekil” tapi pretelannya tersebar di berbagai area yang jauh lebih ”kinclong”? Sosial climber? Asmuni juga go-nasional setelah meninggalkan Ndiwek yang sangat ia banggakan itu. Atau mirip Ryan penjagal asal Jombang yang belakangan ini ngetop banget itu.