Aug 27th, 2008
Band Warung Padang
Serasa bukan di Yogya. Satunya, Ambarukmo Plaza. Ini mal nyaman. Tak kalah dengan mal-mal nyaman di Jakarta. Lebar. Lapang. Jauh dari kesan sumpek sebagaimana Malioboro Mal yang sangat khas Yogya. Semrawut. Temannya di Jakarta banyak. Ada Mal Semanggi, Ambasador atau rombongan ITC.
Satunya lagi, mungkin, underpass Adisucipto. Ini “barang baru” bawah tanah sepanjang 100-an meter, penghubung terminal dan lapangan parkir plus ”stasiun” kereta dan bus. Sekarang baru 1 yang beroperasi. Katanya, kelak ada 2 under-pass. Kesemrawutan berkurang? Akses dari/ke dalam kota dan kota lain jadi gampang? Entahlah.
Yang pasti, siang itu, tak sedikit orang yang wira-wiri di under-pass atau sekadar melongok-longok. Serasa bukan di Yogya, kata bapak tua, yang mengaku asli Yogya tapi terpaksa pasrah menjaja(h)kan diri di Jakarta. Mengapa? Ia kemudian menjawab panjang lebar. Salah satunya ini.
Ternyata Yogya bisa juga apik. Enak dilihat. You lihat itu fly over Lempuyangan dan Njanti? Saya pikir kota ini hanya akan dipenuhi barang-barang seperti itu. Sudah nggak nyaman dipakai, bentuknya pun wagu dan kaku. Saya nggak habis pikir mengapa Yogya nekat bikin fly over kayak gitu. Untung ada underpass ini. Untung ini bukan fly over.
Tapi, ada pula celakanya. Apa itu? Dengan adanya underpass yang asyik ini, maka bangunan terminal itu menjadi nggak layak lagi. Njomplang.
Orang tua itu dan beberapa yang lain melongok under-pass. Seolah tak mau ikutan heboh. Ada apa? ST12. Band ngetop ini sedang serius membuat orang menoleh. Seragam kacamata hitam. Ngomong keras. Ketawa kenceng. Tak saja di warung ”padang” pojok bandara ketika bersantap, tapi juga ketika check-in dan boarding. Lalu, gitaran di ruang tunggu.
Hahaha..
mbok ya sekalian minta tanda tangan…
di sono ada beitut..di sini ada ST 12
