Archive for September, 2008

Bah Reggae

Berita Dari Kawan

Kurang jelas, sejak kapan si kawan jadi tukang adu domba. Tapi, mungkin itu tak penting. Sebab, mungkin, justru memang harus seperti itulah konsumen yang aktif. Modalnya, katanya, cuma ini: mangkel. Ia sudah mempraktekkannya dan berhasil. “Korban”-nya, Musik+.

Bermula dari kabar tentang Beirut. Di Jakarta, waktu itu, cuma ada di Aksara. Harganya bikin mangkel si kawan. Lalu, ia mencet 081648xxxx. Ini, katanya, nomor orang yang dipasrahi oleh ”si om & tante” itu untuk mengelola Musik+. Setelah cengengesan sebentar ia langsung to the point.

”Bos, Beirut asyik lho. Kalau gak percaya, silakan lihat resensinya di Allmusic.com. Kalau Musik+ bisa ngimpor, asyik juga lho,” katanya. Tak lupa ia juga melempar jurus ini. “Saya sudah keliling-keliling. Di Jakarta belum ada. Padahal kelihatannya banyak yang nyari lho”.

Kira-kira 2 minggu setelah itu, HP si kawan berdering. Dari 081648xxxx yang mengabarkan Beirut sudah ada di Musik+. Tapi harganya malah makin bikin si kawan tambah mangkel. ”Mahal banget? Ternyata di Aksara ada, Bos. Berarti selisihnya 30%, lho”, katanya sambil menyebut harga Beirut di Aksara.

Si 0812xxxx lalu memberi penjelasan panjang lebar, mengapa Beirut di Musik+ bisa lebih mahal. Harga dari sononya, katanya. Lalu, si kawan melempar jurus lagi. ”Wah, berarti Beirut di Aksara akan tambah laris dong, ya?”.

Entah bagaimana critanya, yang pasti, beberapa hari kemudian si kawan beroleh kabar, bandrol Beirut di Musik+ malah dipasang lebih murah Rp 5,000 ketimbang di Aksara. Sampai hari ini. Mangkel membawa nikmat, katanya.

Tapi, menurut si kawan, tetap saja masih ada hal yang tak mengenakkan. Masing-masing toko CD tak pernah saling melirik bandrol yang mereka pasang. Tak ada patokan. Celakanya, harga yang dikerek tinggi pun masih ada konsumennya. Terlebih lagi konsumen yang bangga bisa beli CD mahal.

Ah, mosok to, ada konsumen yang kayak gini?

Bah Reggae

Banci Di TV

Jaman Batu tak cuma sekali. Ia selalu berulang. Dulu, di Yogya (entah di tempat lain), belasan ”Polisi Kecamatan” ngepit keliling kampung. Ada yang pakai halo-halo segala. Tugasnya cuma satu. Memastikan warga tak keluar rumah. Mereka dilarang nonton gerhana matahari. Bahaya. Bisa buta.

Maka siang itu jadi tragis. Ketika matahari dimakan Betara Kala – single ”el” — mana orang siapa ayam, tak jelas. Emprit, kambing dan orang praktis sama. Ngumpet. Bedanya, ayam dkk lalu bersukacita ketika sebentar kemudian Sang Surya pelan-pelan muncul lagi. Mengira pagi, maka kokok, kicau, dan embek ada dimana-mana. Sementara si ”orang” tetap ngumpet.

Takut buta itu terjadi lagi. Hanya saja, kali ini bukan Polisi Kecamatan, tapi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Bukan juga soal kekerasan atau pornografi, tapi banci di TV. Kemunculan mereka dianggap sudah terlalu sering dan keterlaluan. Ini bisa jadi ”modeling” bagi anak-anak. Mereka bisa meniru. Bahaya. Maka, stop. Kabarnya, ada denda segala bagi TV yang masih nekat menayangkannya.

Lalu, biasa, pro dan kontra. Yang pro, selain “modeling”, ada juga yang masih nekat membawa-bawa “jarum suntik”. Apa yang ditayangkan TV dianggap otomatis dan begitu saja akan langsung menancap di benak konsumen. Mereka ini terkesan tak mau tahu bahwa teori itu sudah menjadi sejarah hitam ilmu komunikasi.

Karenanya, yang kontra fatwa KPI jadi seperti angin lalu. Peduli amat argumen pindah channel, matikan TV, tingkatkan pendampingan orang-tua, budaya baca dan pendidikan yang semestinya digenjot bukan breidel banci di TV, para banci itu ‘kan cuma akting, cari uang, dan entah apalagi.

****

Yang menarik adalah apa yang dikatakan Bimo Nugroho. Ia OK stop banci di TV. Alasannya, secara faktual banci memang ada di masyarakat. Tapi kalau gaya kebanci-bancian itu dipakai untuk mengolok-olok mereka, itu justru akan merendahkan mereka (Tempo, 21 September 2008, hal 78).

Itu berarti jika tak olok-olok, masih boleh? Jika bukan Parto dan Tora Sudiro, tapi ”banci beneran” yang muncul di acara-acara TV itu, masih boleh? Jika jawabannya “boleh”, maka kesannya jadi terlalu buru-buru mereka yang mengkait-kaitkan fatwa larangan KPI itu dengan pelanggaran HAM.

Selesai? Belum. Setidaknya masih ada ini. Bagaimana jika ”banci beneran” itu memperolok diri dan kaumnya? Taruklah mirip Tukul Arwana di Empat Mata itu. Masih tetap boleh? Pasalnya, lewat memperolok diri, Tukul, bagaimana pun, sedang memproklamirkan bahwa yang ”dianggap sebelah mata” – jelek, bodoh, katrok dll — itu syah adanya.

Tapi, kalau yang mengolok diri di TV itu bukan Tukul – atau Mami Maskot dari Pamulang (Kompas, 7 September 2008, hal 17-18) — tapi ”banci beneran”, masih tetap boleh? Jika boleh, maka Bimo benar. Faktual ada perempuan, laki2 dan mereka. Benar pula Tukul, Mami Maskot dan para pendekar skuter gembel itu. Bahwa masing-masing punya hak yang sama. Apalagi cuma di TV.

Bah Reggae

Too Much Painting Will Kill You

Ini mestinya jadi menarik. Yang dipersoalkan bukan lagi soal tiru-meniru. Bukan pula pasar yang keliru. Tapi ”pedagang”nya sendiri. Gimana mereka menjaga kualitas. Pasalnya, banyak yang terjebak rutinitas. Lalu mengulang-ulang karyanya sendiri. Tak lagi ada refleksi.

Begitulah. Soal yang selama ini sering diributkan. Tapi lebih sering lagi sekadar jadi rasanan. Tak hanya di kalangan seniman. Soal ini dijadikan tema pameran lukisan, di Tujuh Bintang Art Space, Yogya. Too Much Painting Will Kill You. Itu temanya. Tak apalah jika nge-Freddie Mercury banget.

Tapi, tunggu dulu. Benarkah mengulang itu dosa? Lebih serem lagi, apakah di dosa sama sekali tak ada bahagia? Lalu bagaimana halnya dengan Andy Warhol. Juga – kalau boleh agak melebar sedikit — The Clap yang diulang lagi di Starship Trooper di Yes Album (1971) itu. Selain itu ada remix, blues, reggae, batik dan entah apalagi.

Boleh jadi, dosa itu hanya milik para “freddie mercury” itu. Sementara bagi yang lain, fase beginian dianggap sudah lewat. Pasalnya, bukannya tak takut dosa, tapi mereka lebih takut mandek. Berhenti. Tak berkarya. Mungkin, mereka ini juga layak bikin pameran tandingan. Temanya, Too Much Thinking Will Kill You.

Next »