Sep 13th, 2008
Double Album Hilang. Siapa Peduli
Setiap jaman punya gaya. Karenanya agak kementus ketika dibilang rock sudah habis diborong musisi 70-an. Mereka dianggap begitu ampuh. Bisa apa saja. Semua hal mereka coba. Musisi jaman setelahnya tinggal “enaknya”. Cuma ngulang apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Tak cuma di sono. Di sini pun tak kurang-kurangnya yang menganggap musik jaman sekarang tak berkarakter. Gak mutu. Yang kemarin selalu dianggap lebih asyik.
Biarin aja. Pasalnya, bagi pop, klaim busyet seperti itu langsung jadi kuno. Pop tak butuh klaim. Ia cuma perlu kuping. The rest is up to you. Begitu kalau boleh mengutip All Along The Watchtower-nya Bob Dylan, yang ngetop di tangan Jimmy Hendrix, dan jadi lebih asyik lagi ketika dinyanyikan U2.
Pop kiranya juga tak ambil pusing jika intro, riff, penggalan refrain yang dikemas di ring back tone lebih laris ketimbang lagunya sendiri. Album mungkin dilupakan. Apalagi double album. Kemasan dagangan yang seolah baru kemarin sore dikeploki banyak orang.
Ada White Album (Beatles, 1968 ), Thick as a Brick (Jethro Tull, 1972), Quadrophenia (The Who, 1973), Physical Graffiti (Led Zeppelin, 1975), The River (Bruce Springsteen, 1980) dan entah apalagi. Sekalipun jelas tak dipretensikan Damon Albarn seperti double album jaman sebelumnya, D-Sides (Gorillaz, 2007) bisa juga masuk di situ.
di sini ada juga yang bikin dobel album. namanya keenan nasution, tahun 2007, harus dipesan secara khusus. laku? bergema? punya long tail bernama ring bac tone? tampaknya tidak.