Archive for October, 2008

Bah Reggae

Can’t Buy Me Love

Semestinya ia jadi penyanyi saja. Ini bukan soal SBY, tapi menterinya yang tampaknya telah berjasa besar padanya. Aburizal Bakrie.

Dulu, di jaman reshuffle kabinet, ketika tahu dirinya tak didepak SBY, secara demonstratif ia lalu singsot-singsot di depan para wartawan. Apalagi, yang justru terdepak waktu itu adalah “musuh besar”-nya, Yusuf Anwar (Menkeu). Sementara dirinya “hanya” digeser dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra.

Tak diketahui secara pasti, apakah ia juga singsot lagi ketika tahu SBY merubah Inpres-nya tentang Lapindo sehingga penanggulangan Lumpur anak perusahaan Bakrie itu akhirnya bisa ditanggung APBN. Barangkali singsot itu hanya dilakukan di depan Sri Mulyani (Menkeu) dan luput dari amatan wartawan.

Kini, jika pemerintah jadi membeli Bumi (PT Bumi Resources Tbk) perusahaan batubara miliknya, Bakrie tak hanya singsot, tapi mungkin nyanyi. Can’t Buy Me Love, salah satu lagu asyik The Beatles itu. Kebetulan “buy me” jika boleh sedikit diplesetkan bisa jadi “bumi”.

Kebetulan lagi, Sofyan Djalil (Meneg BUMN) pun OK jika ada BUMN atau konsumsium BUMN berkenan membeli Bumi. “Yang penting bagi saya, Bumi itu aset bagus, kita butuh batubara. Daripada dibeli asing, mendingan kita yang beli, selama harganya bagus, term-nya baik. Pokoknya b to b dengan harga yang bagus,” katanya di detik.com.

Lebih kebetulan lagi, bukan hanya karena Yusuf Kalla juga mendukung niat pemerintah menolong perusahaan Bakrie yang tengah rugi besar gara-gara krisis global sekarang ini, tapi sambil lalu Sofyan pun secara tak langsung “menyikat” Sri Mulyani.

Memang Sri setuju buy-back saham BUMN. Dananya diambil dari APBN. Yang mengelola PIP, lembaga di bawah Depkeu. Hanya saja, PIP tak hanya asal beli. Kelayakan pembelian harus terlebih dulu lewat penilaian lembaga penilai independen. Jika dinilai OK, beli. Jika KO, batal.

Kengototan Sri ini jelas gawat. Lalu Sofyan pun berkelit. Dana beli Bumi bukan dari APBN, tapi diambil dari dana yang ada di BUMN atau konsorsium itu sendiri. Jadi tak ada urusannya dengan PIP. “PIP itu untuk buy back BUMN. Atau kalau nggak digunakan akan digunakan untuk tujuan investasi lain. Kita nggak tahu.. .”.

Mungkin Sofyan lupa ini. Jika pemakaian dana di BUMN itu lalu mengurangi deviden yang harus disetor BUMN ke APBN, ya sama saja pembelian itu memakai dana APBN.

Bagaimana akhir ceritanya dari semuanya ini, sejauh ini masih belum jelas benar. Tapi yang pasti, selain dukungan Kalla, Bakrie kini beroleh teman baru ketika berhadapan dengan Sri.

I’ll buy you a diamond ring my friend if it makes you feel alright. I’ll get you anything my friend if it makes you feel alright. I’ll give you all I got to give if you say you love me too. I may not have a lot to give but what I got I’ll give to you. I don’t care too much for money, money can’t buy me love.

Bah Reggae

SBY di Publik. SBY di Rumah

Bukan SBY kalau tak bisa ngomong seperti itu. Apalagi pemilu tinggal sekedipan mata. Saya sedih. Tapi hukum harus ditegakkan. Saya tak boleh mengintervensi. Begitu katanya di depan publik mengomentari ditetapkannya Aulia Pohan, besannya, sebagai tersangka kasus “dana BI”.

Tapi, ketika di rumah, apakah SBY juga ngomong seperti itu? Bisakah dengan itu – sedih, hukum harus tegak dan tak ada intervensi – keluarga, utamanya keluarga Aulia jadi tenang? Padahal sudah pasti keluarga by default nanti akan milih SBY. Artinya, mereka ini bukan sasaran kampanye SBY.

Karenanya hampir mustahil, di depan keluarga, SBY akan ngomong seperti yang ia sampaikan di depan publik. Jika ini benar, lalu, kira-kira apa yang diomongkan SBY di depan keluarga?

Benar, Aulia – juga Burhanudin Abdullah dkk — tersangkut duit Rp 100an miliar. Benar pula di situ ada soal penyalahgunaan wewenang, korupsi dan sogok menyogok. Tapi mungkin bukan itu yang akan disampaikan SBY di depan keluarga, melainkan mengapa Aulia dkk harus “gombal-gombalan” seperti itu.

Sedikit atau banyak, ada soal besar, lewat aksi gombal-gombalan itu, yang hendak dicegah oleh Aulia dkk. Soal besar itu adalah kewenangan BI yang dipreteli (lihat postingan “Burhan”). Hanya saja, Aulia dkk kalah. Dan, jer basuki mowo beo. Tak hanya menang, kalah pun ada harganya. Itu resiko.

Maka, tak perlu sedu sedan itu, kata Chairil Anwar. Im a man. Cant you see what I am? Kata Eric Burdon ketika mengcover-version To Love Somebody-nya Bee Gess yang jadinya terkesan lebih macho itu. Jadi, gara-gara pemilu, SBY tak bisa macho? Sitik-sitik sedih. Katanya tentara?

Bah Reggae

Abdel & Temon

Satu ke sana, satunya lagi ke sini. Beatles bilang, “You say stop, I say go. You say goodbye, I say hello”. Mungkin begitulah SBY. Dua kakinya mesti dibagi. Ke sana dan ke sini. Cuma, apa boleh buat, tak bisa imbang. Sementara ini terkesan, ia lebih berat ke Boediono & Sri Mulyani ketimbang ke pedagang.

Boediono dan Sri. Mereka inilah sejoli di kabinet. Mirip Abdel dan Temon, tayangan lucu di salah satu TV swasta itu. Dominan. Dan pasti ger. Tapi ketika sutradaranya coba-coba memasukkan Udin dan Belo, maka dagelan jadi tak lucu lagi. Apalagi Udin. Dagelan kok mengandalkan kemudahan. Slap-stick melulu.

Di tengah krisis global sekarang ini, seperti Abdel dan Temon, sejoli kabinet itu juga harus “bersaing” dengan sejoli lain. Bukan Udin bukan Belo. Bukan pula Aburizal Bakrie dan Yusuf Kalla. Tapi, 2 sejoli yang selalu jadi hantu bagi negeri ini. Hantu itu adalah kurs Rp dan inflasi. Rp jeblok, sementara inflasi tinggi.

Lalu, banyak orang bilang, “Buka sejarah. Hantu itu datang dan datang lagi karena Rp tak dipatok dan devisa pun bebas”. Hari-hari ini sudah mulai banyak pihak yang meneriakkan sejarah itu. Tapi, mosok to, jadi mirip Sultan? Andalannya sejarah. Yogya lagi.

Entah sudah berapa kali para pedagang minta agar sukubunga bank turun. Jika itu terjadi akan membantu sektor riil. Likuiditas (untuk kredit) gak seret lagi. Apalagi, di mana-mana, di tengah krisis begini, umumnya sukubunga turun. Di sini malah dipatok tinggi-tinggi. Gimana nih? Anomali? Dst, dst.

Mungkin sejoli itu lalntas saling kedip. Setengah berbisik Boediono bilang, apa perlunya bunga turun? Kalau alasannya untuk memperlancar kredit, bukannya saat ini posisinya sudah keterlaluan lancarnya? Kalau bunga turun, dan kredit makin lancar, tapi inflasi jadi tambah tinggi, bagaimana?

Benar ada sekian trilyun dana APBN (anggaran departemen) yang bisa ditempatkan di bank untuk nambah likuiditas. Tapi mosok lalu semua di sok di situ. Depkeu yang seleksi, departemen mana yang benar-benar siap. Kalau belum siap, gak usah. Tanpa seleksi dan digelontorkan begitu saja, atas nama likuiditas, jadinya ya inflasi tinggi. “Begitu kan, Sri? Yang ditanya pun mantuk.

Sri mantuk lagi ketika sejolinya itu meneruskan bicaranya. Daripada malah mengerek inflasi, lebih baik dana APBN itu dipakai buat mereka yang berburu dolar. Berapa mereka minta, kita penuhi. Ini gak bikin inflasi sekalian juga buat ngerem kejatuhan Rp. Pemakaian devisa juga bisa dibatasi untuk memenuhi permintaan para setan dolar itu.

Lho, mosok cuma ngurusi setan?

Kini giliran Sri yang ngomong. Emangnya sekarang ini urusan apa kalau bukan urusan setan? Semua indikator kita bagus lho. Tapi, tak ada jaminan, akan bagus terus kalau setan itu tak diurus semestinya. Atau, gini aja dah. Pilih mana. Kami yang ngurus, atau serahkan saja ke Udin dan Belo?

Dan mungkin, SBY segera lari ke TV. Ia tak mau ketinggalan nonton Abdel & Temon yang muncul hampir setiap hari. Lalu nyanyilah mereka. Ku bukan superstar kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal… Kamu bukan super kamu bukan star. Kalau digabungin kamu bukan superstar….. Lho, kenapa? Mike-nya ketelen!

Next »