Oct 30th, 2008
Abdel & Temon
Satu ke sana, satunya lagi ke sini. Beatles bilang, “You say stop, I say go. You say goodbye, I say hello”. Mungkin begitulah SBY. Dua kakinya mesti dibagi. Ke sana dan ke sini. Cuma, apa boleh buat, tak bisa imbang. Sementara ini terkesan, ia lebih berat ke Boediono & Sri Mulyani ketimbang ke pedagang.
Boediono dan Sri. Mereka inilah sejoli di kabinet. Mirip Abdel dan Temon, tayangan lucu di salah satu TV swasta itu. Dominan. Dan pasti ger. Tapi ketika sutradaranya coba-coba memasukkan Udin dan Belo, maka dagelan jadi tak lucu lagi. Apalagi Udin. Dagelan kok mengandalkan kemudahan. Slap-stick melulu.
Di tengah krisis global sekarang ini, seperti Abdel dan Temon, sejoli kabinet itu juga harus “bersaing” dengan sejoli lain. Bukan Udin bukan Belo. Bukan pula Aburizal Bakrie dan Yusuf Kalla. Tapi, 2 sejoli yang selalu jadi hantu bagi negeri ini. Hantu itu adalah kurs Rp dan inflasi. Rp jeblok, sementara inflasi tinggi.
Lalu, banyak orang bilang, “Buka sejarah. Hantu itu datang dan datang lagi karena Rp tak dipatok dan devisa pun bebas”. Hari-hari ini sudah mulai banyak pihak yang meneriakkan sejarah itu. Tapi, mosok to, jadi mirip Sultan? Andalannya sejarah. Yogya lagi.
Entah sudah berapa kali para pedagang minta agar sukubunga bank turun. Jika itu terjadi akan membantu sektor riil. Likuiditas (untuk kredit) gak seret lagi. Apalagi, di mana-mana, di tengah krisis begini, umumnya sukubunga turun. Di sini malah dipatok tinggi-tinggi. Gimana nih? Anomali? Dst, dst.
Mungkin sejoli itu lalntas saling kedip. Setengah berbisik Boediono bilang, apa perlunya bunga turun? Kalau alasannya untuk memperlancar kredit, bukannya saat ini posisinya sudah keterlaluan lancarnya? Kalau bunga turun, dan kredit makin lancar, tapi inflasi jadi tambah tinggi, bagaimana?
Benar ada sekian trilyun dana APBN (anggaran departemen) yang bisa ditempatkan di bank untuk nambah likuiditas. Tapi mosok lalu semua di sok di situ. Depkeu yang seleksi, departemen mana yang benar-benar siap. Kalau belum siap, gak usah. Tanpa seleksi dan digelontorkan begitu saja, atas nama likuiditas, jadinya ya inflasi tinggi. “Begitu kan, Sri? Yang ditanya pun mantuk.
Sri mantuk lagi ketika sejolinya itu meneruskan bicaranya. Daripada malah mengerek inflasi, lebih baik dana APBN itu dipakai buat mereka yang berburu dolar. Berapa mereka minta, kita penuhi. Ini gak bikin inflasi sekalian juga buat ngerem kejatuhan Rp. Pemakaian devisa juga bisa dibatasi untuk memenuhi permintaan para setan dolar itu.
Lho, mosok cuma ngurusi setan?
Kini giliran Sri yang ngomong. Emangnya sekarang ini urusan apa kalau bukan urusan setan? Semua indikator kita bagus lho. Tapi, tak ada jaminan, akan bagus terus kalau setan itu tak diurus semestinya. Atau, gini aja dah. Pilih mana. Kami yang ngurus, atau serahkan saja ke Udin dan Belo?
Dan mungkin, SBY segera lari ke TV. Ia tak mau ketinggalan nonton Abdel & Temon yang muncul hampir setiap hari. Lalu nyanyilah mereka. Ku bukan superstar kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal… Kamu bukan super kamu bukan star. Kalau digabungin kamu bukan superstar….. Lho, kenapa? Mike-nya ketelen!
Hahahahahahahahahahahaha…
Wasyyyu, Bah makin gendheng!
Asyik Bah…