Ekonomi rakyat (ER). Ini memang dagangan menarik. Apalagi buat pemilu. Prabowo Subianto “milih” petani. Megawati Soekarnoputri bergadang “sembako murah”. Siapa lagi menyusul, hayo? Masih banyak sekali lho diferensiasi produk yang bisa dibikin dari “pasal 33” itu.
Pasal itu sakti mandraguna. Apa saja, kalau mau, bisa dijebrusin ke situ. Apa saja, kalau mau, bisa dikeluarkan dari situ. Ajaib memang.
Tapi, yang namanya “ngendas-ndasi” dimana pun selalu saja ada. Busyet, tapi tak apa. Dan itu perlu. Untuk itu, mereka – para “pengendas” — ini lalu dengan gagah, sekali pun klise, menyergah Prabowo dkk dan sekian pengusung ER lainnya dengan ini: detailnya gimana?
Mereka berharap Prabowo dkk bisa bikin rincian komprehensif dari konsep gede itu sehingga tak berhenti sebagai matafora belaka, tapi bisa aplikabel dan langsung bisa jreng.
Tapi, apakah rincian ER yang komprehensif dan langsung jreng itu perlu?
Mungkin, bagi banyak orang — atau setidaknya, tidak sedikit pihak — persoalannya bukan itu. Mereka ini tak menuntut agar Prabowo dkk menjadi Hatta, Sarbini atau Mubyarto. Mereka mau kok ide besar itu tetap berhenti sebagai ide belaka. Mereka maklum, ini pemilu.
Bagi mereka barangkali yang penting adalah ini. Bagaimana Prabowo dkk – para pengusung ER lainnya – akan memperlakukan aneka “keterlanjuran” yang terjadi di negeri ini. Misalnya saja, soal utang luar negeri. Utang dalam negeri beserta BLBI-nya. Kontrak migas. Dan sekian keterlanjuran lainnya.
Bagi mereka ini, begitulah negeri ini kini. Ia bukanlah negeri yang dulu lagi, ketika ER (semestinya) bisa relatif lebih mudah dijabarkan ketimbang kini. Kini, negeri ini, suka tak suka, sudah terjerat dengan sekian keterlanjuran. Dan itu mengikat. Setidaknya beresiko jika hendak main-main dengannya.
But don’t play with me, ‘cause you play with fire. Kata Mick Jagger di Play With Fire (Out of Our Heads, 1965). Peter Tosh di Stepping Razor (Equal Rights, 1977) bilang,
If you wanna live/Treat me good/If you wanna live, live/I beg you treat me good/I’m like a walking razor/Don’t you watch my size/I’m dangerous/Said I’m dangerous ……
Selama ini, ketika ER – dan umumnya semua hal yang dikaitkan dengan “pasal 33” – dilansir yang terjadi adalah aneka ketak-ramahan atas keterlanjuran itu. Bahkan marah. Lalu ada haircut. Lalu ada odious debt. Batalkan “surat lunas” BLBI. Batalkan MSAA/MIRNA. Usut dan bongkar BLBI dari awal. Kejaksaan nggak layak, ganti saja dengan KPK. Migas? Nasionalisasi saja! Dll, dll.
Begitulah tak ramah itu. Begitulah marah itu. Dan haruskah rasa takut dan cemas atasnya menjadi dosa? Sekali pun itu dikemas dengan “untuk negeri ini yang lebih baik”, bagi banyak orang, itu tetaplah ketak-ramahan. Itu tetap saja marah atas aneka keterlanjuran.
Benar, ingatan publik itu pendek umurnya. Tapi itu ingatan. Belum tentu mata. Apalagi mata hati. Baginya, Mei 1998 tak gampang untuk tak diingat. Tak gampang tak menjadikan cemas tak muncul. Mosok, cemas kemarin saja belum hilang, kini muncul cemas baru gara-gara ER?
Tapi sekiranya Prabowo dkk bisa lebih ramah ketimbang Kwik Kian Gie, atau Rizal Ramli dkk, mungkin segalanya menjadi lain. Paling tidak, Prabowo (akan) menjadi berbeda dengan para pengusung ER selama ini ketika berhadapan dengan keterlanjuran negeri ini.
Ya, seandainya saja Prabowo bisa memutus rantai ketak-ramahan dan kemarahan itu. Dan benar, itu hanya perlu sedikit akal sehat saja, kok.
Jika itu terjadi, maka mareka yang gampang cemas itu — sekali pun mungkin tak memilih Prabowo — akan mendukung Prabowo maju sebagai Capres. Mereka juga akan terus mengenangnya ketika selepas pemilu nanti Prabowo menjalani hari-harinya sebagai orang biasa. Bukan sebagai Presiden atau Wapres.