Archive for November, 2008

Mentang-mentang gratis maka penonton bisa diperlakukan seperti itu. Re-run di TV. Tayangan ulang merajalela. Kayak rock saja. Itu-itu mlulu. Band 70-an rock. Setelah itu bukan. Atau, kalau tak pakai njerit-njerit, gitar tak digeber dengan kecepatan yang mirip setan, itu bukan rock.

Begitulah Air Force One. Entah sudah berapa kali tayangan tentang kehebatan Presiden AS itu diulang. Kalau bukan di TV itu, ya di TV sana. Yang lebih gendeng lagi, iklannya masih saja ramai.

Tapi, barangkali, toko CD, apalagi Duta Suara (DS) Sabang, perlu nonton film itu berulang-ulang. Khususnya pas adegan operator telepon yang sambil cengengesan bilang, “Saya Ibu Negara”, ketika menjawab lawan bicaranya di ujung telepon itu yang menyatakan, “Ini Presiden AS”.

Jelas, tak akan ada Presiden AS yang akan menelpon DS Sabang. Bahkan sekalipun nanti Barrack Obama sudah sedemikian kurang kerjaannya dan mampir ke Menteng, ngapain nelpon ke DS Sabang.

Tapi bahwa DS Sabang adalah sarang para pengangkat telepon dengan tingkat cengengesan yang tinggi, inilah persoalannya. DS Taman Anggrek atau konter lainnya saja masih kalah. Begitu juga toko-toko CD yang lain. Kalau saja mereka digabung pun belum tentu bisa ngalahin tingkat cengengesannya penjaga DS Sabang.

Halo. Mbak, di situ masih ada Rollies pas live di TIM tahun 70-an itu? Lalu setelah lama menunggu di telepon itu terdengar jawaban, Rollies yang lain aja. Kalau yang live nggak ada. Lalu si “kawan” itu lewat telepon juga pernah menanyakan apakah ada Primus di situ, albumnya apa saja? Jawabnya, wah nggak tau ya. Belum bikin ‘kali. Atau mungkin nggak boleh sama Jeihan.

Pertanyaannya, kapan telekomunikasi bisa lebih canggih lagi? Jadinya, bukan cuma suara atau data yang ditransmisikan, tapi juga tinju?

Bah Reggae

Pada Prabowo Subianto

Ekonomi rakyat (ER). Ini memang dagangan menarik. Apalagi buat pemilu. Prabowo Subianto “milih” petani. Megawati Soekarnoputri bergadang “sembako murah”. Siapa lagi menyusul, hayo? Masih banyak sekali lho diferensiasi produk yang bisa dibikin dari “pasal 33” itu.

Pasal itu sakti mandraguna. Apa saja, kalau mau, bisa dijebrusin ke situ. Apa saja, kalau mau, bisa dikeluarkan dari situ. Ajaib memang.

Tapi, yang namanya “ngendas-ndasi” dimana pun selalu saja ada. Busyet, tapi tak apa. Dan itu perlu. Untuk itu, mereka – para “pengendas” — ini lalu dengan gagah, sekali pun klise, menyergah Prabowo dkk dan sekian pengusung ER lainnya dengan ini: detailnya gimana?

Mereka berharap Prabowo dkk bisa bikin rincian komprehensif dari konsep gede itu sehingga tak berhenti sebagai matafora belaka, tapi bisa aplikabel dan langsung bisa jreng.

Tapi, apakah rincian ER yang komprehensif dan langsung jreng itu perlu?

Mungkin, bagi banyak orang — atau setidaknya, tidak sedikit pihak — persoalannya bukan itu. Mereka ini tak menuntut agar Prabowo dkk menjadi Hatta, Sarbini atau Mubyarto. Mereka mau kok ide besar itu tetap berhenti sebagai ide belaka. Mereka maklum, ini pemilu.

Bagi mereka barangkali yang penting adalah ini. Bagaimana Prabowo dkk – para pengusung ER lainnya – akan memperlakukan aneka “keterlanjuran” yang terjadi di negeri ini. Misalnya saja, soal utang luar negeri. Utang dalam negeri beserta BLBI-nya. Kontrak migas. Dan sekian keterlanjuran lainnya.

Bagi mereka ini, begitulah negeri ini kini. Ia bukanlah negeri yang dulu lagi, ketika ER (semestinya) bisa relatif lebih mudah dijabarkan ketimbang kini. Kini, negeri ini, suka tak suka, sudah terjerat dengan sekian keterlanjuran. Dan itu mengikat. Setidaknya beresiko jika hendak main-main dengannya.

But don’t play with me, ‘cause you play with fire. Kata Mick Jagger di Play With Fire (Out of Our Heads, 1965). Peter Tosh di Stepping Razor (Equal Rights, 1977) bilang,

If you wanna live/Treat me good/If you wanna live, live/I beg you treat me good/I’m like a walking razor/Don’t you watch my size/I’m dangerous/Said I’m dangerous ……

Selama ini, ketika ER – dan umumnya semua hal yang dikaitkan dengan “pasal 33” – dilansir yang terjadi adalah aneka ketak-ramahan atas keterlanjuran itu. Bahkan marah. Lalu ada haircut. Lalu ada odious debt. Batalkan “surat lunas” BLBI. Batalkan MSAA/MIRNA. Usut dan bongkar BLBI dari awal. Kejaksaan nggak layak, ganti saja dengan KPK. Migas? Nasionalisasi saja! Dll, dll.

Begitulah tak ramah itu. Begitulah marah itu. Dan haruskah rasa takut dan cemas atasnya menjadi dosa? Sekali pun itu dikemas dengan “untuk negeri ini yang lebih baik”, bagi banyak orang, itu tetaplah ketak-ramahan. Itu tetap saja marah atas aneka keterlanjuran.

Benar, ingatan publik itu pendek umurnya. Tapi itu ingatan. Belum tentu mata. Apalagi mata hati. Baginya, Mei 1998 tak gampang untuk tak diingat. Tak gampang tak menjadikan cemas tak muncul. Mosok, cemas kemarin saja belum hilang, kini muncul cemas baru gara-gara ER?

Tapi sekiranya Prabowo dkk bisa lebih ramah ketimbang Kwik Kian Gie, atau Rizal Ramli dkk, mungkin segalanya menjadi lain. Paling tidak, Prabowo (akan) menjadi berbeda dengan para pengusung ER selama ini ketika berhadapan dengan keterlanjuran negeri ini.

Ya, seandainya saja Prabowo bisa memutus rantai ketak-ramahan dan kemarahan itu. Dan benar, itu hanya perlu sedikit akal sehat saja, kok.

Jika itu terjadi, maka mareka yang gampang cemas itu — sekali pun mungkin tak memilih Prabowo — akan mendukung Prabowo maju sebagai Capres. Mereka juga akan terus mengenangnya ketika selepas pemilu nanti Prabowo menjalani hari-harinya sebagai orang biasa. Bukan sebagai Presiden atau Wapres.

Bah Reggae

Mas Bardji

Di toko CD jarang ada yang seperti ini. Konsumen dibiarkan mengamati barang dagangan yang ada di situ tanpa “direcoki” penjaga toko. Barangkali inilah bedanya toko CD dan “toko” burung. Manuk (bhs Jawa). Di toko manuk, bukan penjaga yang ngoceh, tapi dagangannya sendiri yang langsung bicara ke konsumen.

Jadinya, kalau dilihat dari niatnya untuk tak mengganggu konsumen, toko manuk tampaknya lebih beradab. Disitu, konsentrasi konsumen ke dagangan lebih terjamin. Sementara pedagangnya sendiri lebih mirip “regulator”. Praktis ia “hanya” menyediakan tempat dan pasang bandrol. Selebihnya terserah konsumen.

Di kawasan Pondok Gede, mungkin Mas Bardji bisa disebut sebagai salah satu contohnya. Dan tokonya, tak jauh dari per3an Bojong itu, laris manis. Lewat penerapan ketat prinsip regulator, di situ ada kenyamanan, yang seolah bisa mengusir rasa watir akan “flu burung”. Di sebelah-sebelahnya memang banyak toko lain yang jauh lebih besar. Tapi soal laris, sejauh ini, belum ada yang bisa ngalahin tokonya Bardji.

Barangkali ini bisa jadi pelajaran bagi Yusuf Kalla dan Sofyan Djalil. Gimana berperan sebagai regulator yang baik. Pasalnya, belakangan, ke-2nya tak ubahnya pedagang CD. Ngrecokin, bahkan ngarah-arahin konsumen, untuk membeli dagangannya.

Kalau memang manuknya perusahaannya Aburizal Bakrie bagus, tak usah disuruh-suruh, maka BUMN pasti akan mau beli Bumi Resources Tbk.

Next »