Semua gila Obama. Kharisma, kecerdasan, harapan baru dan entah apa lagi. Ibaratnya, kalau mahkluk planet lain bertanya di mana itu bumi, banyak orang kemarin-kemarin cuma menjawab dengan, “Yang ada Radiohead-nya itu lho!”. Tapi kini ada penunjuk baru: Obama. Dijamin mahkluk itu langsung jadi paham di mana bumi itu.

Tapi, judul buku itu mungkin bisa jadi gambaran, segila-gilanya di tempat lain, masih lebih gila lagi yang di sini. Setidaknya, gila Obama sebagian orang di sini lain. Gara-garanya, Obama pernah tinggal di Jakarta, selama 3 tahun-an, selagi ia berusia kurang dari 10 tahun. Sepele? Mungkin.

Yang pasti, judul buku terjemahan itu menjadi berbeda dengan buku aslinya. Aslinya buku ini ditulis oleh Obama sendiri. Judulnya, The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream (2006). Oleh Ufuk Press (2007), penerbit terjemahannya, buku itu lalu dijuduli “ Menerjang Harapan; Dari Jakarta Menuju Gedung Putih”.

Jakarta, bagi Ufuk Press, menjadi penting. Dari tak ada menjadi ada. Belum lagi apa yang ditulis di pengantar buku terjemahan ini. Ini lebih dahsyat lagi. Pasalnya, soal 3 tahun di Jakarta dan masih ingusan pula itu lalu dianggap akan menjadikan Obama bukan saja sebagai “sahabat lama” tapi juga sebagai potensi besar keberuntungan negeri ini jika ia nantinya gol jadi Presiden AS.

Marhaen dan Pak Manyar saja mungkin tak sedahsyat itu. Mereka ini bukan siapa-siapa. Kebetulan saja nama mereka sama-sama berawal dengan huruf M. Tapi, mereka inilah yang mendadak sontak jadi ngetop gara-gara diaku sebagai inspirator oleh 2 presiden negeri ini. Marhaen bagi Soekarno. Manyar bagi SBY.

Entah berapa kali Soekarno menyebut-nyebut nama Marhaen. Entah berapa kali pula Manyar dipeluk-peluk SBY. Tapi setelah itu apa? Marhaen, Manyar tetap saja Marhaen dan Manyar. Mereka tak lalu bisa berharap banyak karena muncul di pidato-pidato dan buku-buku Soekarno atau sekadar di peluk-peluk SBY.

Tapi, memang, tak semua orang bisa menjadi Marhaen dan Manyar. Karenanya, hanya jadi tempat buang ingus bocah itu saja lalu harus berharap terlalu banyak. Tapi, mungkin inilah dagangan. Nila setitik bisa merusak susu sebelanga. Tiga tahun masa ingusan di Jakarta bisa jadi penentu kebijakan seorang presiden. AS lagi.

One Response to “Gila Obama. Marhaen & Pak Manyar Saja Tak Begitu”

  1. wisnuon 15 Nov 2008 at 11:31 am

    mas semprul, sekadar meluruskan saja. nama peladang yang kini kehilangan rumah dan ladangnya setelah empat tahun pemerintahan yang menawarkan perubahan itu pak mayar, bukan manyar.
    kalo manyar itu yang peluk2 yb mangunwijaya bukan pak beye
    piss

    **** Thx mas koreksinya. Tp soal janji perubahan itu mgkin sdh ditepati. Dari punya rmh & ladang jadi nggak punya (bah reggae)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply