Bah Reggae

Dahsyat. Rampok Aja Nganggur

Ditinjau dari pasar istilah, negeri ini adalah negeri yang tegas. Zakelijk. Betapa tidak? Di sini, maling ya maling. Tak kurang, tak lebih. Tak pernah ada istilah bagi maling yang budiman. Jadinya, kalau ada maling yang ternyata oleh konsumen istilah di sini dianggap budiman, kita mesti memakai istilah impor: Robin Hood.

Di sekitar kenaikan harga BBM bersubsidi beberapa waktu lalu, Robin Hood itu banyak aksinya. ”Ini sistem Robin Hood dipakai. Ambil dari yang kaya untuk yang miskin,” kata Yusuf Kalla. Faisal Basri juga bilang begitu. ”Dengan menaikkan harga BBM, kita mengambil uang dari orang kaya untuk diberikan kepada si miskin”.

Tapi, saat ini, pasti para Robin Hood itu sedang kehilangan kerjaan. Bukannya nafsu merampoknya hilang, tapi karena memang tak ada lagi yang mesti dirampok. Jika di sana ada dalang kehilangan cerita, ini mungkin rampok kehilangan barang jarahan. Atau, tepatnya, rampok kehilangan panggung.

Kemarin, menurut para Robin Hood itu, karena harga minyak dunia tinggi, maka dana subsidi BBM (di APBN) melambung pula. Ini bahaya. Selain itu, mereka juga beranggapan, dana subsidi itu hanya menguntungkan orang kaya. Mereka punya data. Data itu menunjukkan, volume pemakaian BBM bersubsidi orang kaya jauh lebih besar ketimbang orang miskin.

Lalu, seperti diketahui, subsidi BBM itupun dipotong. Caranya, harga BBM bersubsidi dinaikkan. Potongan itulah, menurut Robin Hood itu, yang diambil dari orang kaya dan kemudian diberikan pada orang miskin.

Tapi belakangan, gara-gara krisis keuangan global yang dipicu AS, harga minyak dunia terus-menerus merosot. Bahkan saat ini jauh lebih rendah ketimbang asumsi yang dipatok pemerintah. Padahal, selama ini, subsidi BBM ada (hanya) karena asumsi pemerintah yang lebih rendah dari harga minyak dunia.

Ini berarti saat ini sebenarnya tak ada lagi subsidi BBM. Lha apanya yang mau disubsidi, wong subsidi itu terjadi gara-gara asumsi harga pemerintah lebih rendah ketimbang harga minyak dunia. Lalu, karena tak ada subsidi berarti saat ini tak ada lagi yang bisa dirampok.

Luar biasa yak krisis global ini. Rampok aja jadi nganggur.

One Response to “Dahsyat. Rampok Aja Nganggur”

  1. mas kopdangon 10 Nov 2008 at 11:10 pm

    Itu namanya lagi masa Reses…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply