Nov 17th, 2008
Permak Lepis Coldplay
Tak gampang cari tukang “permak lepis” yang pas untuk semua. Tak ada one size fits all seperti judul album Frank Zappa (1975) itu. Pasalnya, masing-masing konsumen punya pilihan yang tak sama. Karena itulah barisan tukang permak di per4an Mirota Kampus, Yogya, jadi ngetop. Laris. Bahkan konon, di situ, kaos pun bisa dipermak sekiranya konsumen merasa nggak pas.
Tapi, belum tentu Mata Dewa-nya Iwan Fals bisa asyik seperti itu – sekalipun vokal Djodi Setiawan tetap saja mengganggu — kalau bukan Ian Antono tukang permaknya. Di tangan Erwin Gutawa (2004), Andaikan Kau Datang (Koes Plus) juga jadi tambah mak nyus. Theme song-nya Meteor Garden juga terasa edan tenan ketika dinyanyikan Yuni Shara.
Untung-untungan jadinya tinggi banget di pop. Permak yang satu sukses, belum tentu yang lainnya juga bgitu. Mungkin Coldplay lagi beruntung. Lewat sentuhan Brian Eno maka Viva La Vida & Death and All His Friends (2008) menjadi megah. Band ini jadi tak seperti sebelum-sebelumnya yang terkesan hanya berniat sebagai substitusi U2 atau Radiohead.
Di album barunya ini Coldplay tambah macak. Ada pameran perkusi dan gesek. Bau orkestra jadi terasa. Bahkan, Cemeteries of London yang mirip House of Rising Sun pun tetap saja asyik. Begitulah gincu Brian Eno. Padahal sebelumnya ia terlihat kerepotan memoles Surprise-nya Paul Simon (2006) yang tetap saja jelek banget itu.
Tapi namanya saja gincu. Terkadang berlebihan. Ketika itu terjadi, ia bukan lagi sekadar gincu, tapi, ibaratnya bakso kebanyakan sambal. Misalnya saja Death and All His Friend. Atau 42. Nomor yang sebenarnya asyik banget ini malah dirusak dengan kemasan refrain yang terkesan jadi sekadar tempelan begitu.
Tapi, benar, lupakan saja itu. Pasalnya, masih ada Lost, Yes, Viva La Vida, Violet Hill dan Strawberry Hill.