Author Archive

Bah Reggae

Belew. Poncokan Jadi Frontman

Mungkin patokannya berapa banyak alat musik yang dimainkan. Bukan sekadar aneka bunyi yang dihasilkan. Jadinya, pakar organ tunggal atau jagoan “akapela” tak bisa dibilang “multi instrumentalist”. Lalu, di sini, misalnya, ada Mike Oldfield, Peter Hammil atau Shulman bersaudara di Gentle Giant itu.

Konon, di proses kreatifnya, biasanya para artis “multi” itu akrab dengan dubbing. Mula-mula sejumlah alat musik dimainkan dan direkam sendiri-sendiri. Selanjutnya, rekaman-rekaman itu ditumpuk, dijadikan satu. Di-dubbing. Maka jadilah dagangan.

Tapi, se”multi-multi”-nya artis, untuk menghasilkan dagangan, mereka terkadang juga masih perlu orang lain. Artinya, ia tak memborong sendiri memainkan semua alat. Untuk memainkan alat tertentu (juga vokal), ia pasrahkan ke orang lain. Misalnya, John Frusciante di Shadows Collide with People (2004) dan The Will to Death (2004). Ia mengajak John Klinghoffer untuk ngedrum.

Begitu juga Adrian Belew. Malah, mula-mulanya, ia bukan artis “egois” yang menggarap sendirian Here (1994) dan Op Zop Too Wah (1996).

Di karya awal, Belew masih mengajak orang lain. Memang, di Lone Rhino (1981), Belew selain nyanyi dan nggitar juga masih ngedrum. Tapi di Twang Bar King (1983), urusan ngedrum ia pasrahkan ke orang lain, Larry Londin.

Yang pasti, lewat Rhino dan Twang itu Belew lalu terlihat sebagai gitaris yang unik. Ia tak lagi dikenal sekadar bekas “pocokan”-nya Frank Zappa. Atau, bahkan, tak melulu gitaris pendamping Robert Fripp ketika King Crimson, oleh Fripp, dihidupkan lagi pada 1981.

Fripp bisa “rela” ada 2 gitar di Crimson saja sudah mengejutkan. Pasalnya, sebelumnya, gitar adalah wewenang Fripp seorang. Kini ia mau berbagi dengan Belew. Selain itu, Belew juga disuruh nyanyi. Di Crimson lama, urusan nyanyi selalu ada di tukang bas (Greg Lake dan John Wetton).

Bukan itu saja. Oleh Fripp, Belew juga dijadikan tukang bikin lagu. Bahkan, Belew juga dibiarkan menentukan warna musik Crimson. Sampai sekarang, setidaknya sampai album terakhir Crimson (Power to Believe, 2003). Suatu kali Fripp pernah menyatakan, sesungguhnya Belew-lah frontman Crimson. Bukan dirinya.

Bah Reggae

Bukan Cuma Pohon Ditebang. Gunung!

Sama dengan cerita di tempat lain. Jadinya, bukan kasus lagi. Tak aneh. Biasa. Bahwa tak cuma pohon, tapi bahkan gunung pun ditebang. Tentu saja, ada sejumlah alibi yang menyatakan itu tak apa-apa. Don’t worry, be happy. Pasalnya, sekian peraturan dan persyaratan sudah dipenuhi, termasuk amdal dan entah apalagi.

Resapan air, banjir, longsor, kelestarian lingkungan? Sudahlah!

Begitulah Bandung. Setidaknya Dago Pakar. Mungkin 20 tahun lalu, tak terbayangkan bisa jadi seperti sekarang ini. Memang, gunung itu masih ada. Tapi ditebang disana-sini. Lalu, secara masif, muncul rumah tinggal, resto, hotel, padang golf dan convention centre.

Mungkin sebentar lagi, di situ, ada juga aneka outlet. Tak ketinggalan pula dagangan “rolling stones”, penjual “lidah”. Kartika Sari, Nyonya Ong, Nyonya Yong, Karya Umbi, Amanda Brownies dll.

Juga, mungkin, toko CD. Jadinya, Duta Suara tak cuma di PVJ saja. Juga Aquarius. Hanya saja, semoga dagangannya tak “memprihatinkan” seperti yang di Dago. Hard & Heavy juga boleh. Asal bandrolnya tak jahiliyah. Terlebih lagi, di situ, nah ini dia, ada juga konter CD second Cipaganti dan Dipati Ukur.

Asyik? Mungkin begitulah seharusnya. Di gunung itu, semuanya bisa ada.

Termasuk aneka hal yang selama ini tak ada, atau setidaknya susah dijumpai, di kota. Kicauan burung dan semilir angin sejuk, misalnya. Pertanyaan Emha Ainun Nadjib berpuluh tahun lalu – “apa ada angin di Jakarta” – kiranya terjawab sudah oleh spanduk pengembang di gunung itu, “Say hello to the bird and wind”.

Plus, mungkin, kekaguman pada sekian pilar-pilar itu, ada yang lebih dari 60-an meter, untuk menyangga bangunan agar tak terperosok ke jurang.

Sebelum masuk Bandung, dari arah Jakarta, di sepanjang tol itu – yang menyulap “jalan lama” menjadi kuno – keplok pun harus dikumandangkan. Mungkin, keplok atas sesuatu yang nekat.

Konon, dulu, rencananya, untuk menghubungkan Jakarta-Bandung, ada sekian jembatan. Tapi belakangan batal. Alasannya, mahal. Maka gunung-gunung itu ditebang. Tebangannya untuk menguruk jurang. Lalu, jadilah tol itu. Dengan sejumlah masalah yang ada-ada saja. Sampai sekarang.

Bah Reggae

Anyone Can Play Guitar

Apa jadinya jika di pop tak ada gitar? Mungkin, Peter Frampton tak perlu susah payah memodifikasi gitarnya hingga bisa bersuara aneh di Do You Feel Like We Do (Frampton Comes Alive, 1976) itu. JJ Cale dan Eric Clapton tak muncul. Jimi Hendrix, The Edge dan Mark Knopfler juga tak tertarik menciptakan ciri khas yang membedakannya dengan gitaris lain.

Gitar tampaknya memang keharusan. Apalagi di rock. Dulu, di situ, ada Richie Blackmore, Jimmy Page, Pete Townshend, atau Alvin Lee. Bahkan, Rolling Stones pasti akan jadi lucu jika tak ada suara gitar Keith Richard.

Jadinya, bisa dibilang aneh, ada band tanpa gitar, seperti yang dilakukan The Morphine. Mereka ber-3. Mark Sandman (bas, vokal), Dana Colley (saxophone) dan Jerome Dupree (drum). Saxophone dominan. Unik.

Tapi tak banyak yang senekat Morphine. Atau ELP. Umumnya, gitar bukannya ditiadakan, cuma “dibatasi”. Misalnya, Procol Harum sebelum Broken Barricade (1971). Di Genesis dan Gentle Giant gitar juga tak menonjol. Setidaknya berbeda dengan Yes, King Crimson, Jethro Tull atau Focus.

Joy Division, apalagi Blur, juga terlihat sengaja memilih tak menonjolkan gitar. Thom Yorke pernah bilang, gitar tak selamanya harus dimainkan. Ia akan menjadi indah jika dibiarkan saja. Tak diapa-apain. Maka jadilah Kid A (2000) dan Amnesiac (2001). Atau Eraser itu. Cuma, seberapa tahan Thom dan Radiohead tanpa suara gitar.

Terbukti di Hail to the Thief (2003) dan In Rainbows (2007), suara gitar balik lagi seperti sebelum Kid A dan Amnesiac. Mungkin benar, tak hanya karena “anyone can play guitar”, tapi gitar memang bisa jadi segalanya. Bahkan, sekalipun tanpa harus digeber-geber. Waton banter. Waton cepet.

Next »