Archive for the 'Baca' Category

Bah Reggae

Black Interview. Asal Aneh

Harusnya buku ini segera direvisi. Mungkin dengan begitu jadinya bisa lebih tipis. Ringkes. Tak perlu sampai 221 halaman. Cukup 21 hal saja. Halaman selebihnya bisa dihilangkan. Sementara “halaman pengantar” – Imaginative Journalisme dan Many Thanks to Many – biar saja dipertahankan. Setidaknya buat pantes-pantes.

Black Interview (Gagas Media, 2008), karya Andre Syahreza, ini memang karya prematur. Klaim “menertawakan” Jakarta dan isinya terpenuhi hanya sampai halaman 21. Di situ memang ada pameran jungkir-balik logika dengan amat cerdas. Ada Zaman Waras, Blacklisted Heroes dan Suicidal Inc.

Di ke-3 cerita itu Andre menyoroti bagaimana kira-kira Jakarta 100 mendatang. Di Zaman Waras, semua orang digambarkan gila. Termasuk Presiden. Waras dianggap sebagai penyakit sosial. Mereka yang waras secara sosial tersingkir. Di kantor, misalnya, begitu ketahuan ternyata waras, seseorang bisa langsung kena PHK.

Istilah “zaman edan” tak lagi disebut-sebut. Nanti, ketika semua orang sudah gila, ungkapan atas sesuatu yang hebat pun bukan lagi “Gile ,Cing”, tapi “Waras, Cing”. Anak-anak akan ramai berteriak, “Ada orang waras!. Ada orang waras!,” begitu mereka melihat orang waras di jalan. “Lu udah waras, ‘kali, ya?” menjadi ungkapan popular seperti ketika kini orang-orang bilang, “Lu udah gila, ‘kali, ya?”.

Puncaknya, ada di Suicidal Inc. Di cerita ini, bunuh diri dilegalkan. Resmi. Harus ada izin. Bahkan ada saksi dari aparat pemerintah segala. Bunuh diri tak bisa sembunyi-sembunyi lagi. Cara lama, misalnya, minum “baygon”, tak bakalan sukses. Ini karena bahan “baygon” sudah dibikin agar tak berbahaya bagi manusia. Gantung diri juga dianggap kriminal. Keluarga pelaku bisa dipenjara.

Cuma, bunuh diri, nanti, 100 tahun mendatang itu, jadi “olok” ongkos. Mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa relatif leluasa melakukannya. Sementara para miskin susah bunuh diri. Mereka tak punya ongkos. Padahal, secara faktual, mereka laik bunuh diri karena kesulitan hidup yang sudah sedemikian mencekik.

Untunglah, Andre lalu memunculkan satu perusahaan yang menawarkan layanan jasa bunuh diri dengan harga yang “terjangkau”. Murah. Dan perusahaan ini laris manis. Caranya juga macam-macam. Misalnya, bunuh diri dikeroyok massa. Ini layanan paling mahal, karena melibatkan banyak orang. Dan perusahaan harus mengongkosi orang-orang itu.

Dengan “plot” crita yang kuat seperti itulah maka tak aneh jika Andre bisa seenaknya menyisipkan dengan pas aneka “asesori” kelucuan ke dalamnya. Misalnya UGD yang singkatan dari U Gonna Die. Atau perusahaan layanan bunuh diri itu yang punya motto, “life is so short, why wait till old?”. Dan masih banyak lagi bahan ketawa yang dicentelkan dengan sangat pas di crita yang kuat itu.

Tapi, ketrampilan Andre, dan mungkin keterpingkalan kita, hanya sampai di situ. Ia berhenti di halaman 21 saja. Cuma itu. Selebihnya – 200 halaman berikutnya — tak ada apa-apanya lagi. Kecuali aneka crita yang dipaksa-paksakan untuk jadi lucu.

Membaca buku ini (di luar 2-3 crita kuat itu) jadinya mirip dengan ketika kita masuk resto dengan nama masakannya yang aneh-aneh. Bakso Nuklir, Nasi Goreng Iblis dll. Atau jus “revolusibo” – singkatan dari “revolusi bolsyevik” — di resto bininya Akbar Tanjung di Lawean, Solo, itu. Waton aneh.

Bah Reggae

Dagelan Put On

Banjir komik Jepang. Beberapa komik lokal. Dan lebih beberapa lagi komik underground. Itu terserah mata. Tapi mungkin Put On (Pustaka Klasik, 2008) tak sekadar itu. Setidaknya di situ ada penasaran. Apalagi bagi mereka yang belum lahir atau masih kanak-kanak ketika kisruh nasional yang disebut G30S/PKI terjadi.

Ini komik pertama negeri ini. Komik ini karya Kho Wan Gie. Tokoh utamanya Put On, pria keturunan Cina, lajang, gemuk dan lucu. Muncul pertama kali di koran Sin Po, 7 Februari 1931. Pernah dibredel Jepang. Lalu muncul lagi di Koran Panjawarna dan Warta Bhakti. Tapi selepas kisruh 1965 itu Put On hilang beneran. Baru sekarang ini ia muncul lagi dalam bentuk buku.

Di buku ini Put On tak cuma pamer kekonyolan. Tapi ia juga memotret keseharian keturunan Cina di kota besar (Jakarta?). Tentu saja dari kacamata si Put On. Misalnya saja soal “adat istiadat” Cina yang justru “bikin bingung” (hal 18, 19, 32, 33).

Ada juga kelucuan yang terjadi di ultah kemerdekaan (hal 51). Syahdan, Put On diminta berpidato. Untuk itu, ia latihan. Di depan cermin ia lalu bergaya.

“Perajaan hari nasional kali ini agak istimewa, sebab berkenaan dengan berhasilnja penumbangan pembrontak petualang2 hingga mulai kokoh lagi persatuan negara kita…. Lain dari pada itu, berkenaan djuga dengan gagalnja pula kaum intervensi imperialis … Marilah kita berseru “Ambruklah untuk selamanja intervensionis imperialis!”.

Begitu pidato Put On. Gagah. Tapi, nenek dan keponakannya malah menyangka si Put On kemasukan setan. “Ja! Allah…. Djangan2 dia…. Lekas suru si Imah bawa barah di pedupaan. Gua masih simpen menyan dari Pa Salim,” kata si nenek.

Beras mahal dan hidup susah khas Orla juga jadi guyonan (hal 5 & 36 ). Termasuk pula anjuran Soekarno agar orang-orang kota menamam jagung di halaman rumah. Padahal pegang cangkul saja mereka tak bisa (hal 29). Ada juga kerepotan atas mode pakaian yang lagi in (hal 3, 8). Demikian pula musik, nah ini dia, yang malah bikin kacau (hal 6, 63).

Hanya saja buku ini terkesan dilansir buru-buru. Tak ada keterangan kapan persisnya (tanggal, bulan, tahun) komik-komik ini ditayangkan. Beruntung terkadang dalam teks percakapan ada beberapa hal yang bisa dijadikan penunjuk. Misalnya, “17 Agustus, ulang tahun proklamasi ke 13, perkumpulan kita djuga hendak adakan perajaan…”.

Bah Reggae

Jazz Tak Asal Mangap

Jangan baca buku ini. Ini buku berbahaya. Apalagi bagi penganut “multi-tasking”. Baca buku ini pasti Anda hanya akan beroleh kesal. Pasalnya, perhatian sekaligus Anda ke hal-hal lain menjadi berantakan. Perhatian Anda akan tersedot habis ke buku tentang jazz dengan gayanya yang mirip novel ini.

Kalau itu terjadi, pertama-tama, silakan tumpahkan kesal itu ke John F. Szwed. Dia ini biangnya. Gara-gara antroplog dan musikolog ini, buku ini bisa “micoro” banget. Cas cis cus. Setelah itu, lanjutkan kesal Anda ke Tubagus Heckman. Terjemahan-nya membuat “Memahami dan Menikmati Jazz” (Gramedia Pustaka Utama, 2008) ini menjadi enak sekali.

Bagi Szwed, jazz adalah cerita tentang musik etnik/tradisi yang lalu berkembang jadi pop(uler) dan belakangan menjadi avant-garde. Dari minoritas kembali ke minoritas lagi.

Lalu banyak orang jengah. Kecenderungan jazz yang “kemana-mana” mereka tuding sebagai penyebabnya, Untuk itu mereka pingin memurnikan jazz. Kembali saja ke yang dulu-dulu. Sementara banyak pihak lainnya yang menghendaki jazz bebas dari beban. “Bebas dari fungsi, tradisi, latar belakang etnis dan semacamnya” (hal 10).

Dan Szwed terkesan lebih sreg dengan jazz yang tanpa beban itu. Pasalnya, sekalipun kini kembali ke “minoritas”, dalam sejarahnya jazz pernah popular. Semua orang ngejazz. Ia diputar dan manggung dimana-mana. Jazz pernah jadi magnit. Film, iklan, dan pidato-pidato politik. Genre musik lain pun diserap jazz. Bukan itu saja. Segregasi sosial juga koyak gara-gara jazz.

Di jaman jaya-jayanya pemisahan negro-kulit putih, misalnya. Bagi kulit hitam jazz adalah identitas. Pub-pub penjual jazz penuh dengan mereka. Tapi kulit putih juga ke situ. Ini perlu. Pasalnya, jazz “melayani pelanggan kulit putih yang mencari petualangan dalam hal ras tanpa harus melakukan kontak sosial yang sesungguhnya dengan masyarakat Afro-Amerika” (hal 56).

Karena jazz yang kemana-mana dan bisa menjadi apa saja itulah Szwed jadi pusing ketika harus mendefinisikan jazz. Lalu, memang, di buku ini banyak kutipan yang terkesan “cengengesan”. Misalnya saja pernyataan Luis Amstrong yang terkenal itu. “Kalau kamu bertanya [apa itu jazz], kamu tidak akan pernah tahu” (hal 15).

Ini jelas gombal. Omongan khas para praktisi jazz. Asal mangap. Sampai sekarang. Boleh jadi dengan itu, mereka juga hendak menunjukkan bahwa jazz itu hebat. Serius. Tak main-main. Tak seperti jenis musik lainnya. Untunglah Szwed tak seperti itu. Jazz baginya adalah musik yang dipelajari sambil dimainkan dalam permainan kolektif. Kuncinya: bisa dipelajari.

Karenanya, bukan tanpa alasan jika di bukunya ini Szwed juga bicara panjang lebar soal “free jazz” (hal 178-194), yang sumbangannya tak bisa dibilang kecil. Padahal, katanya, artis-artisnya umumnya “amatiran”. Sangat boleh jadi dengan itu Szwed hendak mengatakan, jazz adalah barang biasa-biasa saja. Semuanya bisa dipelajari. Semua bisa berpatisipasi di situ.

Justru dengan itulah jazz bisa kemana-mana dan bisa menjadi apa saja. Lalu Szwed juga berbagi sejumlah tips. Mengharukan (?). Misalnya, bagaimana mendengar jazz (hal 48-52). Dalam bukunya ini memang Szwed menjadi guru yang sabar. Juga ramah. Tak sebagaimana laiknya praktis jazz yang jumawa. Apalagi asal mangap.

Next »