Dec 9th, 2008
Black Interview. Asal Aneh
Harusnya buku ini segera direvisi. Mungkin dengan begitu jadinya bisa lebih tipis. Ringkes. Tak perlu sampai 221 halaman. Cukup 21 hal saja. Halaman selebihnya bisa dihilangkan. Sementara “halaman pengantar” – Imaginative Journalisme dan Many Thanks to Many – biar saja dipertahankan. Setidaknya buat pantes-pantes.
Black Interview (Gagas Media, 2008), karya Andre Syahreza, ini memang karya prematur. Klaim “menertawakan” Jakarta dan isinya terpenuhi hanya sampai halaman 21. Di situ memang ada pameran jungkir-balik logika dengan amat cerdas. Ada Zaman Waras, Blacklisted Heroes dan Suicidal Inc.
Di ke-3 cerita itu Andre menyoroti bagaimana kira-kira Jakarta 100 mendatang. Di Zaman Waras, semua orang digambarkan gila. Termasuk Presiden. Waras dianggap sebagai penyakit sosial. Mereka yang waras secara sosial tersingkir. Di kantor, misalnya, begitu ketahuan ternyata waras, seseorang bisa langsung kena PHK.
Istilah “zaman edan” tak lagi disebut-sebut. Nanti, ketika semua orang sudah gila, ungkapan atas sesuatu yang hebat pun bukan lagi “Gile ,Cing”, tapi “Waras, Cing”. Anak-anak akan ramai berteriak, “Ada orang waras!. Ada orang waras!,” begitu mereka melihat orang waras di jalan. “Lu udah waras, ‘kali, ya?” menjadi ungkapan popular seperti ketika kini orang-orang bilang, “Lu udah gila, ‘kali, ya?”.
Puncaknya, ada di Suicidal Inc. Di cerita ini, bunuh diri dilegalkan. Resmi. Harus ada izin. Bahkan ada saksi dari aparat pemerintah segala. Bunuh diri tak bisa sembunyi-sembunyi lagi. Cara lama, misalnya, minum “baygon”, tak bakalan sukses. Ini karena bahan “baygon” sudah dibikin agar tak berbahaya bagi manusia. Gantung diri juga dianggap kriminal. Keluarga pelaku bisa dipenjara.
Cuma, bunuh diri, nanti, 100 tahun mendatang itu, jadi “olok” ongkos. Mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa relatif leluasa melakukannya. Sementara para miskin susah bunuh diri. Mereka tak punya ongkos. Padahal, secara faktual, mereka laik bunuh diri karena kesulitan hidup yang sudah sedemikian mencekik.
Untunglah, Andre lalu memunculkan satu perusahaan yang menawarkan layanan jasa bunuh diri dengan harga yang “terjangkau”. Murah. Dan perusahaan ini laris manis. Caranya juga macam-macam. Misalnya, bunuh diri dikeroyok massa. Ini layanan paling mahal, karena melibatkan banyak orang. Dan perusahaan harus mengongkosi orang-orang itu.
Dengan “plot” crita yang kuat seperti itulah maka tak aneh jika Andre bisa seenaknya menyisipkan dengan pas aneka “asesori” kelucuan ke dalamnya. Misalnya UGD yang singkatan dari U Gonna Die. Atau perusahaan layanan bunuh diri itu yang punya motto, “life is so short, why wait till old?”. Dan masih banyak lagi bahan ketawa yang dicentelkan dengan sangat pas di crita yang kuat itu.
Tapi, ketrampilan Andre, dan mungkin keterpingkalan kita, hanya sampai di situ. Ia berhenti di halaman 21 saja. Cuma itu. Selebihnya – 200 halaman berikutnya — tak ada apa-apanya lagi. Kecuali aneka crita yang dipaksa-paksakan untuk jadi lucu.
Membaca buku ini (di luar 2-3 crita kuat itu) jadinya mirip dengan ketika kita masuk resto dengan nama masakannya yang aneh-aneh. Bakso Nuklir, Nasi Goreng Iblis dll. Atau jus “revolusibo” – singkatan dari “revolusi bolsyevik” — di resto bininya Akbar Tanjung di Lawean, Solo, itu. Waton aneh.