Archive for the 'Dengar' Category

Bah Reggae

Ditunggu, Presiden Populer Dilempar Sepatu

Ramai atau nglangut itu tergantung. Di pop itu hanyalah opsi. Terserah mana yang dipilih. Kiranya Mogwai memilih opsi ke-2. Nglangut. Semacam sepi yang berlebih. Dan ini jadi dagangan. Jadi, albumnya mau dijuduli “seriang” apapun, hasilnya tetap saja sama: nglangut. Misalnya, Happy Songs for Happy People (2003) itu.

Tapi, memang, sepi tak selamanya jadi duri. Ini kata Sutardji Calzoum Bachri (Amuk, 1977). Dan karenanya, Mogwai tak sendirian. Ada yang lain. My Bloddy Valentine dan Sigur Ros. Atau, jauh sebelumnya, ada Pink Floyd. Pilih mana? Ini juga opsi. Begitulah pasar. Dan yang pasti genre (?) “shoegaze” atau “suggest” ini lumayan ramai.

Sepi dan laris. Karenanya, Shine on Your Crazy Diamond (Pink Floyd, Wish You Were Here, 1975) jadi mengundang takjub. Dan entah berapa juta orang yang hanya terpukau intro-nya saja. Terlebih di petikan gitar David Gilmour. Setelah itu lewat, player dimatikan. Dan dinyalakan lagi untuk mengulang intro itu. Begitu pula “tang-ting” piano di I Know You Are But What Am I-nya Mogwai itu.

Berulang dan tak bikin bosan. Ini tentunya beda dengan berita. Entah berapa juta orang yang kini tak takjub lagi Bush dilempar sepatu. Pasalnya, Bush bukan presiden populer. Jadinya, nanti sudah bukan berita lagi jika kejadian itu menimpa presiden yang tak popular lainnya. Karenanya, bisa jadi, setelah berita Bush itu, kini dunia (termasuk negeri ini?) sedang menunggu berita yang satu ini. Presiden populer dilempar sepatu.

Kembali ke “shoegaze”. Kabarnya itu hanyalah bagian dari apa yang disebut post-rock. Katanya, ini perayaan aneka eksperimen. Tapi, bukankah itu terjadi juga di 70-an? Persis! Dan justru karena itulah maka ada sebutan “post-rock”, dan bukan “rock” doang. Labeling? Sekadar pembeda pelaku? Entahlah.

Tapi, barangkali harus diakui, perayaan eksperimen di post-rock jauh lebih variatif ketimbang sebelumnya. Tersinggung dengan klaim beginian? Sebaiknya jangan. Atau, terserahlah, jika tersinggung itu mengenakkan. Toh bagaimana pun — tersinggung atau nggak — itu juga sekadar opsi. Itu juga perayaan kok.

Bah Reggae

Chicago di Era Nggenah

Apa jadinya pop tanpa industri rekaman? Dagangan pasti tak akan bisa semasif sekarang ini menembus kuping konsumen. Tapi bagi John F Szwed (Memahami dan Menikmati Jazz, 2008), rekaman tak sekadar itu. Pasalnya, bagi artis, rekaman juga berfungsi sebagai media dokumentasi karya.

Apalagi, kata Szwed, di jazz. Di sini, gara-gara tingginya improvisasi, maka partitur yang semula mungkin sudah rapi dipersiapkan akhirnya tak jarang jadi berantakan ketika dimainkan. Karenanya, bicara dokumentasi, rekaman jadi sangat penting.

Jaman ini mungkin jaman emas “industri dokumentasi” itu. Pasalnya, kini banyak beredar produk rekaman ulang. Rekaman yang diproduksi lagi setelah sekian puluh tahun produk aslinya dirilis untuk pertama kali. Artisnya macam-macam. Begitu pula kemasannya. Ada remastered, reissued, anniversary edition dan entah apalagi.

Salah satu yang banyak beredar di pasar adalah Chicago. Band nge-brass ini, bersama Blood Sweat & Tears, tercatat pernah terang-terangan diakui mengilhami band-band lokal. The Rollies, misalnya. Mungkin juga The Pros (?).

The Mercy’s? Memang saxophone Albert Sumelang berhasil membikin Mercy’s jadi lebih hidup. Tapi apakah itu berarti band anak Medan — salah satu “4 besar” band yang pernah mengharu-birukan negeri ini di samping Koes Plus, Panbers dan D’Lloyd – ini lalu terpengaruh Chicago, entahlah.

Yang pasti, Chicago adalah crita tentang perayaan brass. Hampir semua di-set agar musik tiup bisa bebas merajalela. Habis-habisan. Lalu jazz, R&B dan rock terkadang malah terkesan sebagai bumbu belaka. Mereka sekadar dipinjam untuk pesta aneka trompet.

Di karya-karya awal, juga ada klasik segala. Misalnya Prelude (Chicago, 1970). Eksperimental juga tak haram. Ini ada di Progress? (Chicago III, 1971). Bahkan ada juga Flight 602 (Chicago III, 1971), nomor country ala Teach Your Children-nya Crosby, Stills, Nash & Young.

Pokoknya komplit dan full sebul. Begitulah Chicago – meminjam istilah Si Paman itu – di jaman nggenah. Ini terjadi berkat andil besar Robert Lamm (vokal, keyboard), Terry Kath (vokal, gitar), dan Daniel Saraphine (drum). Dan tentu saja para tukang tiupnya. James Pankow, Walter Parazaider dan Lee Loughnane.

Peter Cetera? Awalnya, di 3 album awal, tak menonjol. Ia “hanya” tukang bass yang juga vokalis. Tapi, sedari awal Cetera memang sudah “berbeda” dibanding dengan personil Chicago lainnya. Ini terlihat dari karya-nya yang “ngepop” dan tanpa brass sama sekali. Jadinya, ia seolah bermain sendirian. Misalnya di Where Do We Go From Here (Chicago, 1970) dan What Else Can I Say (Chicago III, 1971).

Itu beda misalnya dengan “ngepop”-nya Pankow (Make Me Smile, Colour My World), Kath (The Road) atau Lamm (Wake Up Sunshine). Bahkan di Chicago Transit Authority (1969), Cetera sama sekali tak menulis lagu. Semuanya diborong Lamm, Kath dan Pankow.

Tapi belakangan Chicago identik dengan Cetera. Memang Cetera-lah yang membuat Chicago bisa menembus lebih banyak kuping. Karyanya laris manis, seperti If You Leave Me Now, Baby, What A Big Surprise, Song for You atau Hard To Say I’m Sorry. Kayak Phil Collins atas Genesis sepeninggal Peter Gabriel? Apa boleh buat.

Bah Reggae

Mendut2 Bersama Jason Mraz

Dasar monyet! Bisa-bisanya ngasihani manusia. Tapi, untungnya, tak semua hal dari manusia dikasihani. Di iklan itu, monyet itu hanya prihatin soal telpon. Manusia mau nelpon aja susah, katanya. Tapi itu cuma soal “provider”. Untuk soal-soal lain? Pasti monyet itu nyesal kenapa evolusi Darwin begitu lama. Malah masih ada missing-link segala.

Soal lain itu, yang monyet nggak bisa, misalnya musik. Apalagi ada budaya pop. Semuanya jadi mungkin. Segalanya jadi bisa. Tak harus begini-begitu. Kuping konsumen tak perlu itu. Ekstrimnya, kalau boleh diibaratkan jadinya gini. Mau cowok, cewek atau “she-male”, terserah. Yang penting kasih sayang. Busyet memang. Tapi inilah pop itu.

Dan justru dengan begitu lahir banyak pesona. Satu di antaranya, Jason Mraz. Ini memang nggak jelas. Rock, pop, reggae, funky apa jazz. Tapi itu tak soal. Pasalnya, ya itu tadi, yang penting, kasih sayang. Mraz sendiri menjuduli album terbarunya – We Sing, We Dance, We Steal Things (2008) — sudah demikian jelas. Curi sana. Curi sini. Dan jreng.

Lalu, di situ ada banyak banget Michael Franks. Misalnya di Make It Mine, Butterfly, atau Live High. Juga George Harrison di Lucky dan Love for A Child. Dan entah siapa lagi. Tapi puncaknya bisa jadi adalah I’m Yours itu. Memangnya yang bisa mendut-mendut cuma Rp dan saham Bumi saja?

Well open up your mind and see like me. Open up your plans and damn you’re free. Look into your heart and you’ll find love love love love… D-d-do do you, but do you, d-d-do. But do you want to come on. Scooch on over closer dear. And I will nibble your ear. …

Next »