Dec 16th, 2008
Ditunggu, Presiden Populer Dilempar Sepatu
Ramai atau nglangut itu tergantung. Di pop itu hanyalah opsi. Terserah mana yang dipilih. Kiranya Mogwai memilih opsi ke-2. Nglangut. Semacam sepi yang berlebih. Dan ini jadi dagangan. Jadi, albumnya mau dijuduli “seriang” apapun, hasilnya tetap saja sama: nglangut. Misalnya, Happy Songs for Happy People (2003) itu.
Tapi, memang, sepi tak selamanya jadi duri. Ini kata Sutardji Calzoum Bachri (Amuk, 1977). Dan karenanya, Mogwai tak sendirian. Ada yang lain. My Bloddy Valentine dan Sigur Ros. Atau, jauh sebelumnya, ada Pink Floyd. Pilih mana? Ini juga opsi. Begitulah pasar. Dan yang pasti genre (?) “shoegaze” atau “suggest” ini lumayan ramai.
Sepi dan laris. Karenanya, Shine on Your Crazy Diamond (Pink Floyd, Wish You Were Here, 1975) jadi mengundang takjub. Dan entah berapa juta orang yang hanya terpukau intro-nya saja. Terlebih di petikan gitar David Gilmour. Setelah itu lewat, player dimatikan. Dan dinyalakan lagi untuk mengulang intro itu. Begitu pula “tang-ting” piano di I Know You Are But What Am I-nya Mogwai itu.
Berulang dan tak bikin bosan. Ini tentunya beda dengan berita. Entah berapa juta orang yang kini tak takjub lagi Bush dilempar sepatu. Pasalnya, Bush bukan presiden populer. Jadinya, nanti sudah bukan berita lagi jika kejadian itu menimpa presiden yang tak popular lainnya. Karenanya, bisa jadi, setelah berita Bush itu, kini dunia (termasuk negeri ini?) sedang menunggu berita yang satu ini. Presiden populer dilempar sepatu.
Kembali ke “shoegaze”. Kabarnya itu hanyalah bagian dari apa yang disebut post-rock. Katanya, ini perayaan aneka eksperimen. Tapi, bukankah itu terjadi juga di 70-an? Persis! Dan justru karena itulah maka ada sebutan “post-rock”, dan bukan “rock” doang. Labeling? Sekadar pembeda pelaku? Entahlah.
Tapi, barangkali harus diakui, perayaan eksperimen di post-rock jauh lebih variatif ketimbang sebelumnya. Tersinggung dengan klaim beginian? Sebaiknya jangan. Atau, terserahlah, jika tersinggung itu mengenakkan. Toh bagaimana pun — tersinggung atau nggak — itu juga sekadar opsi. Itu juga perayaan kok.

Soal lain itu, yang monyet nggak bisa, misalnya musik. Apalagi ada budaya pop. Semuanya jadi mungkin. Segalanya jadi bisa. Tak harus begini-begitu. Kuping konsumen tak perlu itu. Ekstrimnya, kalau boleh diibaratkan jadinya gini. Mau cowok, cewek atau “she-male”, terserah. Yang penting kasih sayang. Busyet memang. Tapi inilah pop itu.