<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>semprul sontoloyo</title>
	<atom:link href="http://semprulsontoloyo.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://semprulsontoloyo.com</link>
	<description>penting tak penting pokoknya ditulis</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:35:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ditunggu, Presiden Populer Dilempar Sepatu</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/16/ditunggu-presiden-populer-dilempar-sepatu/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/16/ditunggu-presiden-populer-dilempar-sepatu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 02:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dengar]]></category>

		<category><![CDATA[george bush]]></category>

		<category><![CDATA[mogwai]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<category><![CDATA[post-rock]]></category>

		<category><![CDATA[shoegaze]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Ramai atau nglangut itu tergantung. Di pop itu hanyalah opsi. Terserah mana yang dipilih. Kiranya Mogwai memilih opsi ke-2. Nglangut. Semacam sepi yang berlebih. Dan ini jadi dagangan. Jadi, albumnya mau dijuduli “seriang” apapun, hasilnya tetap saja sama: nglangut. Misalnya, Happy Songs for Happy People (2003) itu.
Tapi, memang, sepi tak selamanya jadi duri. Ini kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramai atau nglangut itu tergantung. Di pop itu hanyalah opsi. Terserah mana yang dipilih. Kiranya Mogwai memilih opsi ke-2. Nglangut. Semacam sepi yang berlebih. Dan ini jadi dagangan. Jadi, albumnya mau dijuduli “seriang” apapun, hasilnya tetap saja sama: nglangut. Misalnya, Happy Songs for Happy People (2003) itu.</p>
<p>Tapi, memang, sepi tak selamanya jadi duri. Ini kata Sutardji Calzoum Bachri (Amuk, 1977). Dan karenanya, Mogwai tak sendirian. Ada yang lain. My Bloddy Valentine dan Sigur Ros. Atau, jauh sebelumnya, ada Pink Floyd. Pilih mana? Ini juga opsi. Begitulah pasar. Dan yang pasti genre (?) “shoegaze” atau “suggest” ini lumayan ramai.</p>
<p>Sepi dan laris. Karenanya, Shine on Your Crazy Diamond (Pink Floyd, Wish You Were Here, 1975) jadi mengundang takjub. Dan entah berapa juta orang yang hanya terpukau intro-nya saja. Terlebih di petikan gitar David Gilmour. Setelah itu lewat, player dimatikan. Dan dinyalakan lagi untuk mengulang intro itu. Begitu pula “tang-ting” piano di I Know You Are But What Am I-nya Mogwai itu.</p>
<p>Berulang dan tak bikin bosan. Ini tentunya beda dengan berita. Entah berapa juta orang yang kini tak takjub lagi Bush dilempar sepatu. Pasalnya, Bush bukan presiden populer. Jadinya, nanti sudah bukan berita lagi jika kejadian itu menimpa presiden yang tak popular lainnya. Karenanya, bisa jadi, setelah berita Bush itu, kini dunia (termasuk negeri ini?) sedang menunggu berita yang satu ini. Presiden populer dilempar sepatu.</p>
<p>Kembali ke “shoegaze”. Kabarnya itu hanyalah bagian dari apa yang disebut post-rock. Katanya, ini perayaan aneka eksperimen. Tapi, bukankah itu terjadi juga di 70-an? Persis! Dan justru karena itulah maka ada sebutan “post-rock”, dan bukan “rock” doang. Labeling? Sekadar pembeda pelaku? Entahlah.</p>
<p>Tapi, barangkali harus diakui, perayaan eksperimen di post-rock jauh lebih variatif ketimbang sebelumnya. Tersinggung dengan klaim beginian? Sebaiknya jangan. Atau, terserahlah, jika tersinggung itu mengenakkan. Toh bagaimana pun &#8212; tersinggung atau nggak &#8212; itu juga sekadar opsi. Itu juga perayaan kok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/16/ditunggu-presiden-populer-dilempar-sepatu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Chicago di Era Nggenah</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/10/chicago-di-era-nggenah/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/10/chicago-di-era-nggenah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 10:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dengar]]></category>

		<category><![CDATA[chicago]]></category>

		<category><![CDATA[john f szwed]]></category>

		<category><![CDATA[peter cetera]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya pop tanpa industri rekaman? Dagangan pasti tak akan bisa semasif sekarang ini menembus kuping konsumen. Tapi bagi John F Szwed (Memahami dan Menikmati Jazz, 2008), rekaman tak sekadar itu. Pasalnya, bagi artis, rekaman juga berfungsi sebagai media dokumentasi karya.
Apalagi, kata Szwed, di jazz. Di sini, gara-gara tingginya improvisasi, maka partitur yang semula mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa jadinya pop tanpa industri rekaman? Dagangan pasti tak akan bisa semasif sekarang ini menembus kuping konsumen. Tapi bagi John F Szwed (Memahami dan Menikmati Jazz, 2008), rekaman tak sekadar itu. Pasalnya, bagi artis, rekaman juga berfungsi sebagai media dokumentasi karya.</p>
<p>Apalagi, kata Szwed, di jazz. Di sini, gara-gara tingginya improvisasi, maka partitur yang semula mungkin sudah rapi dipersiapkan akhirnya tak jarang jadi berantakan ketika dimainkan. Karenanya, bicara dokumentasi, rekaman jadi sangat penting. </p>
<p>Jaman ini mungkin jaman emas “industri dokumentasi” itu. Pasalnya, kini banyak beredar produk rekaman ulang. Rekaman yang diproduksi lagi setelah sekian puluh tahun produk aslinya dirilis untuk pertama kali. Artisnya macam-macam. Begitu pula kemasannya. Ada remastered, reissued, anniversary edition dan entah apalagi. </p>
<p>Salah satu yang banyak beredar di pasar adalah Chicago. Band nge-brass ini, bersama Blood Sweat &amp; Tears, tercatat pernah terang-terangan diakui mengilhami band-band lokal. The Rollies, misalnya. Mungkin juga The Pros (?). </p>
<p>The Mercy’s? Memang saxophone Albert Sumelang berhasil membikin Mercy’s jadi lebih hidup. Tapi apakah itu berarti band anak Medan &#8212; salah satu “4 besar” band yang pernah mengharu-birukan negeri ini di samping Koes Plus, Panbers dan D’Lloyd – ini lalu terpengaruh Chicago, entahlah.</p>
<p>Yang pasti, Chicago adalah crita tentang perayaan brass. Hampir semua di-set agar musik tiup bisa bebas merajalela. Habis-habisan. Lalu jazz, R&amp;B dan rock terkadang malah terkesan sebagai bumbu belaka. Mereka sekadar dipinjam untuk pesta aneka trompet. </p>
<p>Di karya-karya awal, juga ada klasik segala. Misalnya Prelude (Chicago, 1970). Eksperimental juga tak haram. Ini ada di Progress? (Chicago III, 1971). Bahkan ada juga Flight 602 (Chicago III, 1971), nomor country ala Teach Your Children-nya Crosby, Stills, Nash &amp; Young. </p>
<p>Pokoknya komplit dan full sebul. Begitulah Chicago – meminjam istilah Si Paman itu – di jaman nggenah. Ini terjadi berkat andil besar Robert Lamm (vokal, keyboard), Terry Kath (vokal, gitar), dan Daniel Saraphine (drum). Dan tentu saja para tukang tiupnya. James Pankow, Walter Parazaider dan Lee Loughnane.</p>
<p>Peter Cetera? Awalnya, di 3 album awal, tak menonjol. Ia “hanya” tukang bass yang juga vokalis. Tapi, sedari awal Cetera memang sudah “berbeda” dibanding dengan personil Chicago lainnya. Ini terlihat dari karya-nya yang “ngepop” dan tanpa brass sama sekali. Jadinya, ia seolah bermain sendirian. Misalnya di Where Do We Go From Here (Chicago, 1970) dan What Else Can I Say (Chicago III, 1971).</p>
<p>Itu beda misalnya dengan “ngepop”-nya Pankow (Make Me Smile, Colour My World), Kath (The Road) atau Lamm (Wake Up Sunshine). Bahkan di Chicago Transit Authority (1969), Cetera sama sekali tak menulis lagu. Semuanya diborong Lamm, Kath dan Pankow.</p>
<p>Tapi belakangan Chicago identik dengan Cetera. Memang Cetera-lah yang membuat Chicago bisa menembus lebih banyak kuping. Karyanya laris manis, seperti If You Leave Me Now, Baby, What A Big Surprise, Song for You atau Hard To Say I’m Sorry. Kayak Phil Collins atas Genesis sepeninggal Peter Gabriel? Apa boleh buat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/10/chicago-di-era-nggenah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Black Interview. Asal Aneh</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/09/black-interview-asal-aneh/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/09/black-interview-asal-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 03:34:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Baca]]></category>

		<category><![CDATA[andre syahreza]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[resto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Harusnya buku ini segera direvisi. Mungkin dengan begitu jadinya bisa lebih tipis. Ringkes. Tak perlu sampai 221 halaman. Cukup 21 hal saja. Halaman selebihnya bisa dihilangkan. Sementara “halaman pengantar” – Imaginative Journalisme dan Many Thanks to Many – biar saja dipertahankan. Setidaknya buat pantes-pantes.
Black Interview (Gagas Media, 2008), karya Andre Syahreza, ini memang karya prematur. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harusnya buku ini segera direvisi. Mungkin dengan begitu jadinya bisa lebih tipis. Ringkes. Tak perlu sampai 221 halaman. Cukup 21 hal saja. Halaman selebihnya bisa dihilangkan. Sementara “halaman pengantar” – Imaginative Journalisme dan Many Thanks to Many – biar saja dipertahankan. Setidaknya buat pantes-pantes.</p>
<p>Black Interview (Gagas Media, 2008), karya Andre Syahreza, ini memang karya prematur. Klaim “menertawakan” Jakarta dan isinya terpenuhi hanya sampai halaman 21. Di situ memang ada pameran jungkir-balik logika dengan amat cerdas. Ada Zaman Waras, Blacklisted Heroes dan Suicidal Inc.</p>
<p>Di ke-3 cerita itu Andre menyoroti bagaimana kira-kira Jakarta 100 mendatang. Di Zaman Waras, semua orang digambarkan gila. Termasuk Presiden. Waras dianggap sebagai penyakit sosial. Mereka yang waras secara sosial tersingkir. Di kantor, misalnya, begitu ketahuan ternyata waras, seseorang bisa langsung kena PHK.</p>
<p>Istilah “zaman edan” tak lagi disebut-sebut. Nanti, ketika semua orang sudah gila, ungkapan atas sesuatu yang hebat pun bukan lagi “Gile ,Cing”, tapi “Waras, Cing”.  Anak-anak akan ramai berteriak, “Ada orang waras!. Ada orang waras!,” begitu mereka melihat orang waras di jalan. “Lu udah waras, ‘kali, ya?” menjadi ungkapan popular seperti ketika kini orang-orang bilang, “Lu udah gila, ‘kali, ya?”.</p>
<p>Puncaknya, ada di Suicidal Inc. Di cerita ini, bunuh diri dilegalkan. Resmi. Harus ada izin. Bahkan ada saksi dari aparat pemerintah segala. Bunuh diri tak bisa sembunyi-sembunyi lagi. Cara lama, misalnya, minum “baygon”, tak bakalan sukses. Ini karena bahan “baygon” sudah dibikin agar tak berbahaya bagi manusia. Gantung diri juga dianggap kriminal. Keluarga pelaku bisa dipenjara.</p>
<p>Cuma, bunuh diri, nanti, 100 tahun mendatang itu, jadi “olok” ongkos. Mahal. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa relatif leluasa melakukannya. Sementara para miskin susah bunuh diri. Mereka tak punya ongkos. Padahal, secara faktual, mereka laik bunuh diri karena kesulitan hidup yang sudah sedemikian mencekik. </p>
<p>Untunglah, Andre lalu memunculkan satu perusahaan yang menawarkan layanan jasa bunuh diri dengan harga yang “terjangkau”. Murah. Dan perusahaan ini laris manis. Caranya juga macam-macam. Misalnya, bunuh diri dikeroyok massa. Ini layanan paling mahal, karena melibatkan banyak orang. Dan perusahaan harus mengongkosi orang-orang itu.</p>
<p>Dengan “plot” crita yang kuat seperti itulah maka tak aneh jika Andre bisa seenaknya menyisipkan dengan pas aneka “asesori” kelucuan ke dalamnya. Misalnya UGD yang singkatan dari U Gonna Die. Atau perusahaan layanan bunuh diri itu yang punya motto, “life is so short, why wait till old?”. Dan masih banyak lagi bahan ketawa yang dicentelkan dengan sangat pas di crita yang kuat itu.</p>
<p>Tapi, ketrampilan Andre, dan mungkin keterpingkalan kita, hanya sampai di situ. Ia berhenti di halaman 21 saja. Cuma itu. Selebihnya – 200 halaman berikutnya &#8212; tak ada apa-apanya lagi. Kecuali aneka crita yang dipaksa-paksakan untuk jadi lucu. </p>
<p>Membaca buku ini (di luar 2-3 crita kuat itu) jadinya mirip dengan ketika kita masuk resto dengan nama masakannya yang aneh-aneh. Bakso Nuklir, Nasi Goreng Iblis dll. Atau jus “revolusibo” – singkatan dari “revolusi bolsyevik” &#8212; di resto bininya Akbar Tanjung di Lawean, Solo, itu. Waton aneh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/09/black-interview-asal-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SBY Sadar &#38; Sabarlah!</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/05/sby-sadbarlah/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/05/sby-sadbarlah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 05:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[lapindo]]></category>

		<category><![CDATA[sby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Luar biasa Lapindo. Gara-gara uang – kekurangan pembayaran ganti rugi korban Lapindo &#8212; yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar – saja sampai harus diecret-ecret begitu. Tak selesai-selesai. Dan yang lebih serem lagi, SBY dikabarkan marah besar karenanya.
Apa sih artinya Rp 49 milyar itu jika dibandingkan dengan kekayaan Bakrie? Mosok sih iya hanya gara-gara krisis global [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Luar biasa Lapindo. Gara-gara uang – kekurangan pembayaran ganti rugi korban Lapindo &#8212; yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar – saja sampai harus diecret-ecret begitu. Tak selesai-selesai. Dan yang lebih serem lagi, SBY dikabarkan marah besar karenanya.</p>
<p>Apa sih artinya Rp 49 milyar itu jika dibandingkan dengan kekayaan Bakrie? Mosok sih iya hanya gara-gara krisis global sekarang ini lalu mbayar segitu saja Bakrie jadi nggak bisa? Luar biasa.</p>
<p>Tapi mungkin SBY lebih luar biasa lagi. Pasalnya, hanya gara-gara duit yang “cuma” Rp 49 milyar itu, Presiden yang dikenal santun ini bisa marah begitu. Sampai-sampai publik pun diajak “masuk” ke rapat – yang dihadiri sejumlah menteri plus Nirwan Bakrie &#8212; agar bisa “menikmati” kemarahan itu. </p>
<p>Padahal, beberapa hari sebelumnya, sekalipun SBY sudah terkesan marah ke Lapindo, tapi publik hanya bisa menangkap marah itu lewat perantara menteri-menterinya. Djoko Kirmanto, misalnya, yang menurutnya, ia diperintah SBY agar memaksa Lapindo membayar kekurangan ganti rugi itu.</p>
<p>Tapi kali ini tak ada perantara lagi. SBY langsung, jreng, marah. Dan publik menyaksikannya. Sebagian ada yang keplok dan menyebutnya sebagai ketegasan SBY.</p>
<p>Kenapa SBY sampai marah begitu? Sementara ketika meneken Perpres baru (No 14/ 2007) tentang Lapindo &#8212; yg merevisi ketentuan lama – SBY tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan? Tandatangannya biasa-biasa saja. Mulus. Lembaran Keppres yg ditandatanganinya juga tak sampai robek atau jebol karena SBY marah.</p>
<p>Padahal di Prepres baru itu SBY sedang menimpakan beban Lapindo ke pundak seluruh warga negeri ini. Jika semula Lapindo menanggung semua dampak lumpur, tapi lewat Perpres baru itu Lapindo dinyatakan hanya menanggung sebagian saja. Selebihnya APBN yang nanggung.</p>
<p>Padahal lumpur jalan terus. Wilayah di luar “peta terdampak” – menurut Perpres baru itu di luar yang ditanggung Lapindo &#8212; bisa semakin luas. Artinya, dana yang harus ditanggung APBN amat sangat mungkin akan amat jauh lebih besar Rp 49 milyar itu.</p>
<p>Berapa itu yang ditanggung APBN? Silakan periksa rinciannya. Dan itu sudah mulai sejak 2007. Bukan sesuatu yang aneh jika nanti APBN direvisi bukan karena asumsi-asumsinya tak sesuai dengan krisis global, tapi karena lumpur di Porong yang semakin menghebat. Dana yang semula dianggarkan jadinya nggak cukup. Lalu APBN direvisi.</p>
<p>Tapi begitulah. Untuk uang yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar, SBY lalu sampai marah-marah begitu. Sementara untuk dana yang jauh lebih besar lagi SBY terlihat OK2 saja. Buktinya, ya itu tadi, tandatangannya di Perpres baru itu mulus. Perpres itu nggak robek-robek, atau setidaknya “nandes” karena tekenan SBY.</p>
<p>Bakrie memang harus “legowo” membayar kekurangan ganti rugi itu. Tapi SBY juga harus sabar. Jangan marah-marah begitu hanya gara-gara Rp 49 milyar. Sementara atas dana yang lebih besar &#8212; dan itu ditanggung seluruh negeri – SBY malah nggak marah. Cemberut pun mungkin nggak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/05/sby-sadbarlah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mendut2 Bersama Jason Mraz</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/04/mendut2-bersama-jason-mraz/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/04/mendut2-bersama-jason-mraz/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 02:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dengar]]></category>

		<category><![CDATA[jason mraz]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[
Dasar monyet! Bisa-bisanya ngasihani manusia. Tapi, untungnya, tak semua hal dari manusia dikasihani. Di iklan itu, monyet itu hanya prihatin soal telpon. Manusia mau nelpon aja susah, katanya. Tapi itu cuma soal “provider”. Untuk soal-soal lain? Pasti monyet itu nyesal kenapa evolusi Darwin begitu lama. Malah masih ada missing-link segala.
Soal lain itu, yang monyet nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Jason Mraz" src="http://winsonline.files.wordpress.com/2008/07/jason_mraz6.jpg" alt="" width="400" height="318" /></p>
<p>Dasar monyet! Bisa-bisanya ngasihani manusia. Tapi, untungnya, tak semua hal dari manusia dikasihani. Di iklan itu, monyet itu hanya prihatin soal telpon. Manusia mau nelpon aja susah, katanya. Tapi itu cuma soal “provider”. Untuk soal-soal lain? Pasti monyet itu nyesal kenapa evolusi Darwin begitu lama. Malah masih ada missing-link segala.</p>
<p><img class="alignleft" title="jason Mraz" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/2/2a/We_Sing%2C_We_Dance%2C_We_Steal_Things_Official_Cover.jpg" alt="" width="300" height="300" />Soal lain itu, yang monyet nggak bisa, misalnya musik. Apalagi ada budaya pop. Semuanya jadi mungkin. Segalanya jadi bisa. Tak harus begini-begitu. Kuping konsumen tak perlu itu. Ekstrimnya, kalau boleh diibaratkan jadinya gini. Mau cowok, cewek atau “she-male”, terserah. Yang penting kasih sayang. Busyet memang. Tapi inilah pop itu.</p>
<p>Dan justru dengan begitu lahir banyak pesona. Satu di antaranya, <a href="http://www.jasonmraz.com/" target="_blank">Jason Mraz</a>. Ini memang nggak jelas. Rock, pop, reggae, funky apa jazz. Tapi itu tak soal. Pasalnya, ya itu tadi, yang penting, kasih sayang. Mraz sendiri menjuduli album terbarunya – We Sing, We Dance, We Steal Things (2008) &#8212; sudah demikian jelas. Curi sana. Curi sini. Dan jreng.</p>
<p>Lalu, di situ ada banyak banget Michael Franks. Misalnya di Make It Mine, Butterfly, atau Live High. Juga George Harrison di Lucky dan Love for A Child. Dan entah siapa lagi. Tapi puncaknya bisa jadi adalah I’m Yours itu. Memangnya yang bisa mendut-mendut cuma Rp dan saham Bumi saja?</p>
<p>Well open up your mind and see like me. Open up your plans and damn you&#8217;re free. Look into your heart and you&#8217;ll find love love love love… D-d-do do you, but do you, d-d-do. But do you want to come on. Scooch on over closer dear. And I will nibble your ear. …</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/04/mendut2-bersama-jason-mraz/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dagelan Put On</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/03/dagelan-put-on/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/03/dagelan-put-on/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 16:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Baca]]></category>

		<category><![CDATA[kho wan gie]]></category>

		<category><![CDATA[komik]]></category>

		<category><![CDATA[pki]]></category>

		<category><![CDATA[soekarno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Banjir komik Jepang. Beberapa komik lokal. Dan lebih beberapa lagi komik underground. Itu terserah mata. Tapi mungkin Put On (Pustaka Klasik, 2008) tak sekadar itu. Setidaknya di situ ada penasaran. Apalagi bagi mereka yang belum lahir atau masih kanak-kanak ketika kisruh nasional yang disebut G30S/PKI terjadi.
Ini komik pertama negeri ini. Komik ini karya Kho Wan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banjir komik Jepang. Beberapa komik lokal. Dan lebih beberapa lagi komik underground. Itu terserah mata. Tapi mungkin Put On (Pustaka Klasik, 2008) tak sekadar itu. Setidaknya di situ ada penasaran. Apalagi bagi mereka yang belum lahir atau masih kanak-kanak ketika kisruh nasional yang disebut G30S/PKI terjadi.</p>
<p>Ini komik pertama negeri ini. Komik ini karya Kho Wan Gie. Tokoh utamanya Put On, pria keturunan Cina, lajang, gemuk dan lucu. Muncul pertama kali di koran Sin Po, 7 Februari 1931. Pernah dibredel Jepang. Lalu muncul lagi di Koran Panjawarna dan Warta Bhakti. Tapi selepas kisruh 1965 itu Put On hilang beneran. Baru sekarang ini ia muncul lagi dalam bentuk buku. </p>
<p>Di buku ini Put On tak cuma pamer kekonyolan. Tapi ia juga memotret keseharian keturunan Cina di kota besar (Jakarta?). Tentu saja dari kacamata si Put On. Misalnya saja soal “adat istiadat” Cina yang justru “bikin bingung” (hal 18, 19, 32, 33).</p>
<p>Ada juga kelucuan yang terjadi di ultah kemerdekaan (hal 51). Syahdan, Put On diminta berpidato. Untuk itu, ia latihan. Di depan cermin ia lalu bergaya. </p>
<p>“Perajaan hari nasional kali ini agak istimewa, sebab berkenaan dengan berhasilnja penumbangan pembrontak petualang2 hingga mulai kokoh lagi persatuan negara kita…. Lain dari pada itu, berkenaan djuga dengan gagalnja pula kaum intervensi imperialis … Marilah kita berseru “Ambruklah untuk selamanja intervensionis imperialis!”.</p>
<p>Begitu pidato Put On. Gagah. Tapi, nenek dan keponakannya malah menyangka si Put On kemasukan setan. “Ja! Allah…. Djangan2 dia…. Lekas suru si Imah bawa barah di pedupaan. Gua masih simpen menyan dari Pa Salim,” kata si nenek.</p>
<p>Beras mahal dan hidup susah khas Orla juga jadi guyonan (hal 5 &amp; 36 ). Termasuk pula anjuran Soekarno agar orang-orang kota menamam jagung di halaman rumah. Padahal pegang cangkul saja mereka tak bisa (hal 29). Ada juga kerepotan atas mode pakaian yang lagi in (hal 3, 8). Demikian pula musik, nah ini dia, yang malah bikin kacau (hal 6, 63).</p>
<p>Hanya saja buku ini terkesan dilansir buru-buru. Tak ada keterangan kapan persisnya (tanggal, bulan, tahun) komik-komik ini ditayangkan. Beruntung terkadang dalam teks percakapan ada beberapa hal yang bisa dijadikan penunjuk. Misalnya, “17 Agustus, ulang tahun proklamasi ke 13, perkumpulan kita djuga hendak adakan perajaan…”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/03/dagelan-put-on/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz Tak Asal Mangap</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/02/jazz-tak-asal-mangap/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/02/jazz-tak-asal-mangap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 07:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Baca]]></category>

		<category><![CDATA[jazz]]></category>

		<category><![CDATA[john f szwed]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Jangan baca buku ini. Ini buku berbahaya. Apalagi bagi penganut “multi-tasking”. Baca buku ini pasti Anda hanya akan beroleh kesal. Pasalnya, perhatian sekaligus Anda ke hal-hal lain menjadi berantakan. Perhatian Anda akan tersedot habis ke buku tentang jazz dengan gayanya yang mirip novel ini. 
Kalau itu terjadi, pertama-tama, silakan tumpahkan kesal itu ke John F. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan baca buku ini. Ini buku berbahaya. Apalagi bagi penganut “multi-tasking”. Baca buku ini pasti Anda hanya akan beroleh kesal. Pasalnya, perhatian sekaligus Anda ke hal-hal lain menjadi berantakan. Perhatian Anda akan tersedot habis ke buku tentang jazz dengan gayanya yang mirip novel ini. </p>
<p>Kalau itu terjadi, pertama-tama, silakan tumpahkan kesal itu ke John F. Szwed. Dia ini biangnya. Gara-gara antroplog dan musikolog ini, buku ini bisa “micoro” banget. Cas cis cus. Setelah itu, lanjutkan kesal Anda ke Tubagus Heckman. Terjemahan-nya membuat “Memahami dan Menikmati Jazz” (Gramedia Pustaka Utama, 2008) ini menjadi enak sekali.</p>
<p>Bagi Szwed, jazz adalah cerita tentang musik etnik/tradisi yang lalu berkembang jadi pop(uler) dan belakangan menjadi avant-garde. Dari minoritas kembali ke minoritas lagi. </p>
<p>Lalu banyak orang jengah. Kecenderungan jazz yang “kemana-mana” mereka tuding sebagai penyebabnya, Untuk itu mereka pingin memurnikan jazz. Kembali saja ke yang dulu-dulu. Sementara banyak pihak lainnya yang menghendaki jazz bebas dari beban. “Bebas dari fungsi, tradisi, latar belakang etnis dan semacamnya” (hal 10). </p>
<p>Dan Szwed terkesan lebih sreg dengan jazz yang tanpa beban itu. Pasalnya, sekalipun kini kembali ke “minoritas”, dalam sejarahnya jazz pernah popular. Semua orang ngejazz. Ia diputar dan manggung dimana-mana. Jazz pernah jadi magnit. Film, iklan, dan pidato-pidato politik. Genre musik lain pun diserap jazz. Bukan itu saja. Segregasi sosial juga koyak gara-gara jazz. </p>
<p>Di jaman jaya-jayanya pemisahan negro-kulit putih, misalnya. Bagi kulit hitam jazz adalah identitas. Pub-pub penjual jazz penuh dengan mereka. Tapi kulit putih juga ke situ. Ini perlu. Pasalnya, jazz “melayani pelanggan kulit putih yang mencari petualangan dalam hal ras tanpa harus melakukan kontak sosial yang sesungguhnya dengan masyarakat Afro-Amerika” (hal 56).</p>
<p>Karena jazz yang kemana-mana dan bisa menjadi apa saja itulah Szwed jadi pusing ketika harus mendefinisikan jazz. Lalu, memang, di buku ini banyak kutipan yang terkesan “cengengesan”. Misalnya saja pernyataan Luis Amstrong yang terkenal itu. “Kalau kamu bertanya [apa itu jazz], kamu tidak akan pernah tahu” (hal 15).</p>
<p>Ini jelas gombal. Omongan khas para praktisi jazz. Asal mangap. Sampai sekarang. Boleh jadi dengan itu, mereka juga hendak menunjukkan bahwa jazz itu hebat. Serius. Tak main-main. Tak seperti jenis musik lainnya. Untunglah Szwed tak seperti itu. Jazz baginya adalah musik yang dipelajari sambil dimainkan dalam permainan kolektif. Kuncinya: bisa dipelajari.</p>
<p>Karenanya, bukan tanpa alasan jika di bukunya ini Szwed juga bicara panjang lebar soal “free jazz” (hal 178-194), yang sumbangannya tak bisa dibilang kecil. Padahal, katanya, artis-artisnya umumnya “amatiran”. Sangat boleh jadi dengan itu Szwed hendak mengatakan, jazz adalah barang biasa-biasa saja. Semuanya bisa dipelajari. Semua bisa berpatisipasi di situ. </p>
<p>Justru dengan itulah jazz bisa kemana-mana dan bisa menjadi apa saja. Lalu Szwed juga berbagi sejumlah tips. Mengharukan (?). Misalnya, bagaimana mendengar jazz (hal 48-52). Dalam bukunya ini memang Szwed menjadi guru yang sabar. Juga ramah. Tak sebagaimana laiknya praktis jazz yang jumawa. Apalagi asal mangap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/02/jazz-tak-asal-mangap/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jingle Iklan di TV</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/jingle-iklan-di-tv/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/jingle-iklan-di-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 04:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dengar]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[jingle]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<category><![CDATA[tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Iklan di TV bikin kesel? Bisa jadi. Tapi, itulah perayaan kreativitas. Gimana mengemas dagangan. Memang, terkadang ada yang sekadar kreatif bikin panas. Apalagi penempatannya yang asal selonong. Lagi kesel-keselnya dipaksa nonton tayangan ulang (re-run), iklannya pun main potong seenaknya pula.
Karenannya, agar fair, mungkin stasiun TV atau pengiklan tak ada salahnya jika sekali-sekali juga menayangkan adegan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Iklan di TV bikin kesel? Bisa jadi. Tapi, itulah perayaan kreativitas. Gimana mengemas dagangan. Memang, terkadang ada yang sekadar kreatif bikin panas. Apalagi penempatannya yang asal selonong. Lagi kesel-keselnya dipaksa nonton tayangan ulang (re-run), iklannya pun main potong seenaknya pula.</p>
<p>Karenannya, agar fair, mungkin stasiun TV atau pengiklan tak ada salahnya jika sekali-sekali juga menayangkan adegan konsumen yang sedang menginjak-injak produk yang diiklankan itu.</p>
<p>Tapi, selain gambar dan kata-kata, di iklan juga ada jingle. Dan salah satu yang boleh jadi membuat banyak kepala menoleh adalah jingle iklan Axis (provider) itu. Sederhana tapi segar. Ada Beirut atau Mang Udel di situ. Cuma vokal “nanana” dan ukulele (?). Atau Colgate yang tak hanya ada gigi rapi dan bersih yang sedang nyengenges, tapi juga ada pameran denting piano.</p>
<p>You’re the First The Last My Everything, lewat vokal bariton Barry White (Can&#8217;t Get Enough, 1974) juga mampu membikin Bebelac 3 menjadi segar.</p>
<p>Benar, kuping semestinya bisa dioptimalkan agar iklan tak malah bikin kesel. Pasalnya, negeri ini bisa dibilang adalah negeri iklan gambar dan kata-kata. Jingle terkesan sebagai anak tiri. Nggak penting. Maka Aqua pun pernah tak merasa risih ketika bikin iklan mirip Stomp Out Loud (1998).</p>
<p>Begitulah pop. Mirip menjadi kenceng. Biasanya lalu jadi “cuma kebetulan”. Dan itu bukan haram. Merpati Putih di album dahsyat tonggak musik pop negeri ini itu, jika dilihat sepintas &#8212; apalagi jika disertai dengan kurang-ajar &#8212; bisa jadi tak lebih dari Procol Harum, khususnya Grand Hotel (1973).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/jingle-iklan-di-tv/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Radiohead Akustik</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/radiohead-akustik/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/radiohead-akustik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 02:45:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dengar]]></category>

		<category><![CDATA[cd bajakan]]></category>

		<category><![CDATA[gagging order]]></category>

		<category><![CDATA[radiohead]]></category>

		<category><![CDATA[toko cd]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang publik ya publik, privat ya privat. Ke2nya beda. Lalu, kalaupun dipaksa-paksa harus sama, biasanya yang muncul malah pertanyaan. Seberapa jauh jarak antara ke2nya. Dan jawabannya, biasanya juga standar: itu tergantung masing-masing orang. Artinya, individual.
Jagoan bahasa Indonesia itu, dulu, sampai punya acara tetap di TV segala. Bukan hanya bahasa itu perlu dilestarikan. Ia, di media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang publik ya publik, privat ya privat. Ke2nya beda. Lalu, kalaupun dipaksa-paksa harus sama, biasanya yang muncul malah pertanyaan. Seberapa jauh jarak antara ke2nya. Dan jawabannya, biasanya juga standar: itu tergantung masing-masing orang. Artinya, individual.</p>
<p>Jagoan bahasa Indonesia itu, dulu, sampai punya acara tetap di TV segala. Bukan hanya bahasa itu perlu dilestarikan. Ia, di media publik itu, juga kampanye gimana makainya dengan baik dan benar. Tapi di rumah, ia hanya berbahasa Belanda. Sonder bahasa Indonesia. Kecuali ketika ia bicara dengan para pembantu, tukang kebon dan sopirnya.</p>
<p>Itulah barangkali “empan papan” itu. Di publik dan privat lain. Tapi bagi tak sedikit orang, yang begitu-begitu itu tak berlaku. Publik ya privat. Privat ya publik. Misalnya saja soal CD bajakan. Di publik, ia terang-terangan didagangkan. Dan, secara terang-terangan pula, hanya dalam sekejab, jadi privat. </p>
<p>Jangan-jangan ini jadinya kayak Long Live Rock (The Who, Odds &amp; Sods,1974) itu. Rock is dead. Long live rock.</p>
<p>Tapi apapun itu, di pasar CD bajakan kini ada Radiohead “baru”. Hanya dengan Rp 6- 8 ribu, sudah bisa beroleh Radiohead B-sides, “Gaging Order”. Itu yang tertulis di kover depan. Sementara di sampul samping jelas-jelas ditulis “Gagging Order”.  Isinya full akustik. Suara tengik Thom Yorke hanya ditemani gitar dan terkadang piano. </p>
<p>Dari 20 lagu yang didagangkan di Gagging Order ini, ada 5 lagu yang belum pernah muncul di album-album “resmi”nya. Good Morning Mr Magpie, Banana Co, On The Beach, Follow Me Around dan Gagging Order. </p>
<p>Mungkin, agar anti barang bajakan bisa terealisir, toko CD segera bisa mendagangkan produk aslinya. Pasalnya, sejauh ini, Gagging Order itu belum ada di toko. Tapi, kalau harganya “jahiliyah”, apa bisa ia meredam bajakan. Apalagi, kualitas Gagging Order bajakan ini bisa dibilang bagus sekali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/12/01/radiohead-akustik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Telekomunikasi Bisa Lebih Canggih Lagi</title>
		<link>http://semprulsontoloyo.com/2008/11/28/kapan-telekomunikasi-bisa-lebih-canggih-lagi/</link>
		<comments>http://semprulsontoloyo.com/2008/11/28/kapan-telekomunikasi-bisa-lebih-canggih-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 05:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bah Reggae</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<category><![CDATA[duta suara]]></category>

		<category><![CDATA[toko cd]]></category>

		<category><![CDATA[tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://semprulsontoloyo.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Mentang-mentang gratis maka penonton bisa diperlakukan seperti itu. Re-run di TV. Tayangan ulang merajalela. Kayak rock saja. Itu-itu mlulu. Band 70-an rock. Setelah itu bukan. Atau, kalau tak pakai njerit-njerit, gitar tak digeber dengan kecepatan yang mirip setan, itu bukan rock.
Begitulah Air Force One. Entah sudah berapa kali tayangan tentang kehebatan Presiden AS itu diulang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mentang-mentang gratis maka penonton bisa diperlakukan seperti itu. Re-run di TV. Tayangan ulang merajalela. Kayak rock saja. Itu-itu mlulu. Band 70-an rock. Setelah itu bukan. Atau, kalau tak pakai njerit-njerit, gitar tak digeber dengan kecepatan yang mirip setan, itu bukan rock.</p>
<p>Begitulah Air Force One. Entah sudah berapa kali tayangan tentang kehebatan Presiden AS itu diulang. Kalau bukan di TV itu, ya di TV sana. Yang lebih gendeng lagi, iklannya masih saja ramai.</p>
<p>Tapi, barangkali, toko CD, apalagi Duta Suara (DS) Sabang, perlu nonton film itu berulang-ulang. Khususnya pas adegan operator telepon yang sambil cengengesan bilang, “Saya Ibu Negara”, ketika menjawab lawan bicaranya di ujung telepon itu yang menyatakan, “Ini Presiden AS”. </p>
<p>Jelas, tak akan ada Presiden AS yang akan menelpon DS Sabang. Bahkan sekalipun nanti Barrack Obama sudah sedemikian kurang kerjaannya dan mampir ke Menteng, ngapain nelpon ke DS Sabang.</p>
<p>Tapi bahwa DS Sabang adalah sarang para pengangkat telepon dengan tingkat cengengesan yang tinggi, inilah persoalannya. DS Taman Anggrek atau konter lainnya saja masih kalah. Begitu juga toko-toko CD yang lain. Kalau saja mereka digabung pun belum tentu bisa ngalahin tingkat cengengesannya penjaga DS Sabang.</p>
<p>Halo. Mbak, di situ masih ada Rollies pas live di TIM tahun 70-an itu? Lalu setelah lama menunggu di telepon itu terdengar jawaban, Rollies yang lain aja. Kalau yang live nggak ada. Lalu si “kawan” itu lewat telepon juga pernah menanyakan apakah ada Primus di situ, albumnya apa saja? Jawabnya, wah nggak tau ya. Belum bikin ‘kali. Atau mungkin nggak boleh sama Jeihan. </p>
<p>Pertanyaannya, kapan telekomunikasi bisa lebih canggih lagi?  Jadinya, bukan cuma suara atau data yang ditransmisikan, tapi juga tinju? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://semprulsontoloyo.com/2008/11/28/kapan-telekomunikasi-bisa-lebih-canggih-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
