Dec 5th, 2008
SBY Sadar & Sabarlah!
Luar biasa Lapindo. Gara-gara uang – kekurangan pembayaran ganti rugi korban Lapindo — yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar – saja sampai harus diecret-ecret begitu. Tak selesai-selesai. Dan yang lebih serem lagi, SBY dikabarkan marah besar karenanya.
Apa sih artinya Rp 49 milyar itu jika dibandingkan dengan kekayaan Bakrie? Mosok sih iya hanya gara-gara krisis global sekarang ini lalu mbayar segitu saja Bakrie jadi nggak bisa? Luar biasa.
Tapi mungkin SBY lebih luar biasa lagi. Pasalnya, hanya gara-gara duit yang “cuma” Rp 49 milyar itu, Presiden yang dikenal santun ini bisa marah begitu. Sampai-sampai publik pun diajak “masuk” ke rapat – yang dihadiri sejumlah menteri plus Nirwan Bakrie — agar bisa “menikmati” kemarahan itu.
Padahal, beberapa hari sebelumnya, sekalipun SBY sudah terkesan marah ke Lapindo, tapi publik hanya bisa menangkap marah itu lewat perantara menteri-menterinya. Djoko Kirmanto, misalnya, yang menurutnya, ia diperintah SBY agar memaksa Lapindo membayar kekurangan ganti rugi itu.
Tapi kali ini tak ada perantara lagi. SBY langsung, jreng, marah. Dan publik menyaksikannya. Sebagian ada yang keplok dan menyebutnya sebagai ketegasan SBY.
Kenapa SBY sampai marah begitu? Sementara ketika meneken Perpres baru (No 14/ 2007) tentang Lapindo — yg merevisi ketentuan lama – SBY tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan? Tandatangannya biasa-biasa saja. Mulus. Lembaran Keppres yg ditandatanganinya juga tak sampai robek atau jebol karena SBY marah.
Padahal di Prepres baru itu SBY sedang menimpakan beban Lapindo ke pundak seluruh warga negeri ini. Jika semula Lapindo menanggung semua dampak lumpur, tapi lewat Perpres baru itu Lapindo dinyatakan hanya menanggung sebagian saja. Selebihnya APBN yang nanggung.
Padahal lumpur jalan terus. Wilayah di luar “peta terdampak” – menurut Perpres baru itu di luar yang ditanggung Lapindo — bisa semakin luas. Artinya, dana yang harus ditanggung APBN amat sangat mungkin akan amat jauh lebih besar Rp 49 milyar itu.
Berapa itu yang ditanggung APBN? Silakan periksa rinciannya. Dan itu sudah mulai sejak 2007. Bukan sesuatu yang aneh jika nanti APBN direvisi bukan karena asumsi-asumsinya tak sesuai dengan krisis global, tapi karena lumpur di Porong yang semakin menghebat. Dana yang semula dianggarkan jadinya nggak cukup. Lalu APBN direvisi.
Tapi begitulah. Untuk uang yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar, SBY lalu sampai marah-marah begitu. Sementara untuk dana yang jauh lebih besar lagi SBY terlihat OK2 saja. Buktinya, ya itu tadi, tandatangannya di Perpres baru itu mulus. Perpres itu nggak robek-robek, atau setidaknya “nandes” karena tekenan SBY.
Bakrie memang harus “legowo” membayar kekurangan ganti rugi itu. Tapi SBY juga harus sabar. Jangan marah-marah begitu hanya gara-gara Rp 49 milyar. Sementara atas dana yang lebih besar — dan itu ditanggung seluruh negeri – SBY malah nggak marah. Cemberut pun mungkin nggak.

Soal lain itu, yang monyet nggak bisa, misalnya musik. Apalagi ada budaya pop. Semuanya jadi mungkin. Segalanya jadi bisa. Tak harus begini-begitu. Kuping konsumen tak perlu itu. Ekstrimnya, kalau boleh diibaratkan jadinya gini. Mau cowok, cewek atau “she-male”, terserah. Yang penting kasih sayang. Busyet memang. Tapi inilah pop itu.