Bah Reggae

SBY Sadar & Sabarlah!

Luar biasa Lapindo. Gara-gara uang – kekurangan pembayaran ganti rugi korban Lapindo — yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar – saja sampai harus diecret-ecret begitu. Tak selesai-selesai. Dan yang lebih serem lagi, SBY dikabarkan marah besar karenanya.

Apa sih artinya Rp 49 milyar itu jika dibandingkan dengan kekayaan Bakrie? Mosok sih iya hanya gara-gara krisis global sekarang ini lalu mbayar segitu saja Bakrie jadi nggak bisa? Luar biasa.

Tapi mungkin SBY lebih luar biasa lagi. Pasalnya, hanya gara-gara duit yang “cuma” Rp 49 milyar itu, Presiden yang dikenal santun ini bisa marah begitu. Sampai-sampai publik pun diajak “masuk” ke rapat – yang dihadiri sejumlah menteri plus Nirwan Bakrie — agar bisa “menikmati” kemarahan itu.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, sekalipun SBY sudah terkesan marah ke Lapindo, tapi publik hanya bisa menangkap marah itu lewat perantara menteri-menterinya. Djoko Kirmanto, misalnya, yang menurutnya, ia diperintah SBY agar memaksa Lapindo membayar kekurangan ganti rugi itu.

Tapi kali ini tak ada perantara lagi. SBY langsung, jreng, marah. Dan publik menyaksikannya. Sebagian ada yang keplok dan menyebutnya sebagai ketegasan SBY.

Kenapa SBY sampai marah begitu? Sementara ketika meneken Perpres baru (No 14/ 2007) tentang Lapindo — yg merevisi ketentuan lama – SBY tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan? Tandatangannya biasa-biasa saja. Mulus. Lembaran Keppres yg ditandatanganinya juga tak sampai robek atau jebol karena SBY marah.

Padahal di Prepres baru itu SBY sedang menimpakan beban Lapindo ke pundak seluruh warga negeri ini. Jika semula Lapindo menanggung semua dampak lumpur, tapi lewat Perpres baru itu Lapindo dinyatakan hanya menanggung sebagian saja. Selebihnya APBN yang nanggung.

Padahal lumpur jalan terus. Wilayah di luar “peta terdampak” – menurut Perpres baru itu di luar yang ditanggung Lapindo — bisa semakin luas. Artinya, dana yang harus ditanggung APBN amat sangat mungkin akan amat jauh lebih besar Rp 49 milyar itu.

Berapa itu yang ditanggung APBN? Silakan periksa rinciannya. Dan itu sudah mulai sejak 2007. Bukan sesuatu yang aneh jika nanti APBN direvisi bukan karena asumsi-asumsinya tak sesuai dengan krisis global, tapi karena lumpur di Porong yang semakin menghebat. Dana yang semula dianggarkan jadinya nggak cukup. Lalu APBN direvisi.

Tapi begitulah. Untuk uang yang “hanya” sebesar Rp 49 milyar, SBY lalu sampai marah-marah begitu. Sementara untuk dana yang jauh lebih besar lagi SBY terlihat OK2 saja. Buktinya, ya itu tadi, tandatangannya di Perpres baru itu mulus. Perpres itu nggak robek-robek, atau setidaknya “nandes” karena tekenan SBY.

Bakrie memang harus “legowo” membayar kekurangan ganti rugi itu. Tapi SBY juga harus sabar. Jangan marah-marah begitu hanya gara-gara Rp 49 milyar. Sementara atas dana yang lebih besar — dan itu ditanggung seluruh negeri – SBY malah nggak marah. Cemberut pun mungkin nggak.

Bah Reggae

Mendut2 Bersama Jason Mraz

Dasar monyet! Bisa-bisanya ngasihani manusia. Tapi, untungnya, tak semua hal dari manusia dikasihani. Di iklan itu, monyet itu hanya prihatin soal telpon. Manusia mau nelpon aja susah, katanya. Tapi itu cuma soal “provider”. Untuk soal-soal lain? Pasti monyet itu nyesal kenapa evolusi Darwin begitu lama. Malah masih ada missing-link segala.

Soal lain itu, yang monyet nggak bisa, misalnya musik. Apalagi ada budaya pop. Semuanya jadi mungkin. Segalanya jadi bisa. Tak harus begini-begitu. Kuping konsumen tak perlu itu. Ekstrimnya, kalau boleh diibaratkan jadinya gini. Mau cowok, cewek atau “she-male”, terserah. Yang penting kasih sayang. Busyet memang. Tapi inilah pop itu.

Dan justru dengan begitu lahir banyak pesona. Satu di antaranya, Jason Mraz. Ini memang nggak jelas. Rock, pop, reggae, funky apa jazz. Tapi itu tak soal. Pasalnya, ya itu tadi, yang penting, kasih sayang. Mraz sendiri menjuduli album terbarunya – We Sing, We Dance, We Steal Things (2008) — sudah demikian jelas. Curi sana. Curi sini. Dan jreng.

Lalu, di situ ada banyak banget Michael Franks. Misalnya di Make It Mine, Butterfly, atau Live High. Juga George Harrison di Lucky dan Love for A Child. Dan entah siapa lagi. Tapi puncaknya bisa jadi adalah I’m Yours itu. Memangnya yang bisa mendut-mendut cuma Rp dan saham Bumi saja?

Well open up your mind and see like me. Open up your plans and damn you’re free. Look into your heart and you’ll find love love love love… D-d-do do you, but do you, d-d-do. But do you want to come on. Scooch on over closer dear. And I will nibble your ear. …

Bah Reggae

Dagelan Put On

Banjir komik Jepang. Beberapa komik lokal. Dan lebih beberapa lagi komik underground. Itu terserah mata. Tapi mungkin Put On (Pustaka Klasik, 2008) tak sekadar itu. Setidaknya di situ ada penasaran. Apalagi bagi mereka yang belum lahir atau masih kanak-kanak ketika kisruh nasional yang disebut G30S/PKI terjadi.

Ini komik pertama negeri ini. Komik ini karya Kho Wan Gie. Tokoh utamanya Put On, pria keturunan Cina, lajang, gemuk dan lucu. Muncul pertama kali di koran Sin Po, 7 Februari 1931. Pernah dibredel Jepang. Lalu muncul lagi di Koran Panjawarna dan Warta Bhakti. Tapi selepas kisruh 1965 itu Put On hilang beneran. Baru sekarang ini ia muncul lagi dalam bentuk buku.

Di buku ini Put On tak cuma pamer kekonyolan. Tapi ia juga memotret keseharian keturunan Cina di kota besar (Jakarta?). Tentu saja dari kacamata si Put On. Misalnya saja soal “adat istiadat” Cina yang justru “bikin bingung” (hal 18, 19, 32, 33).

Ada juga kelucuan yang terjadi di ultah kemerdekaan (hal 51). Syahdan, Put On diminta berpidato. Untuk itu, ia latihan. Di depan cermin ia lalu bergaya.

“Perajaan hari nasional kali ini agak istimewa, sebab berkenaan dengan berhasilnja penumbangan pembrontak petualang2 hingga mulai kokoh lagi persatuan negara kita…. Lain dari pada itu, berkenaan djuga dengan gagalnja pula kaum intervensi imperialis … Marilah kita berseru “Ambruklah untuk selamanja intervensionis imperialis!”.

Begitu pidato Put On. Gagah. Tapi, nenek dan keponakannya malah menyangka si Put On kemasukan setan. “Ja! Allah…. Djangan2 dia…. Lekas suru si Imah bawa barah di pedupaan. Gua masih simpen menyan dari Pa Salim,” kata si nenek.

Beras mahal dan hidup susah khas Orla juga jadi guyonan (hal 5 & 36 ). Termasuk pula anjuran Soekarno agar orang-orang kota menamam jagung di halaman rumah. Padahal pegang cangkul saja mereka tak bisa (hal 29). Ada juga kerepotan atas mode pakaian yang lagi in (hal 3, 8). Demikian pula musik, nah ini dia, yang malah bikin kacau (hal 6, 63).

Hanya saja buku ini terkesan dilansir buru-buru. Tak ada keterangan kapan persisnya (tanggal, bulan, tahun) komik-komik ini ditayangkan. Beruntung terkadang dalam teks percakapan ada beberapa hal yang bisa dijadikan penunjuk. Misalnya, “17 Agustus, ulang tahun proklamasi ke 13, perkumpulan kita djuga hendak adakan perajaan…”.

« Prev - Next »